Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia

Kompas.com, 30 September 2026, 23:39 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Untuk diketahui, IGP Morowali merupakan salah satu bagian dari pengembangan proyek hilirisasi PT Vale bersama IGP Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara dan pengembangan proyek di Sorowako.

Di Pomalaa, PT Vale bersama mitra mengembangkan tambang nikel dan fasilitas HPAL yang dirancang menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), yakni produk antara yang dapat digunakan dalam rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik.

Fasilitas tersebut dirancang menghasilkan sekitar 120.000 ton nikel dan 15.000 ton kobalt per tahun dalam bentuk MHP. Adapun nilai investasi untuk pengembangan tambang dan fasilitas HPAL di Pomalaa mencapai sekitar 4,5 miliar dollar AS.

Baca juga: Ketika Industri Nikel Berdamai dengan Alam, Kisah Keberlanjutan Vale

Hingga Mei 2026, progres konstruksi IGP Pomalaa telah mencapai 73,4 persen. Proyek tersebut juga mencakup sejumlah fasilitas pendukung, seperti pembibitan, pengolahan limbah padat, kolam sedimentasi, pengolahan air limbah dan lindi, pengelolaan limbah B3, serta pengolahan emisi udara.

Bagi Bernardus, investasi tersebut juga berkaitan dengan perubahan kebutuhan industri di masa depan.

Dalam paparan publik pada September 2026, ia mengatakan bahwa kebutuhan nikel ke depan tidak hanya berasal dari industri kendaraan listrik.

“Kita tidak hanya melihat pemakaian nikel sebagai baterai mobil listrik, tapi kita melihat juga tren-tren ke depan tentang robotics, tentang AI, tentang data center, tentang eVTOL (electric vertical take-off and landing), misalnya, yang akan membutuhkan banyak sekali volume nikel,” ujar Bernardus.

Oleh karena itu, perseoran memandang investasi yang dilakukan saat ini sebagai bagian dari persiapan terhadap kebutuhan industri berikutnya.

“Jadi, we are investing today for tomorrow, untuk kebutuhan-kebutuhan di kemudian hari.” kata Bernardus.

Pengembangan proyek hilirisasi tersebut juga masuk dalam arah strategis PT Vale pada 2026.

Dalam hasil RUPST 2026, perusahaan menyebut, penyelesaian proyek hilirisasi nikel dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah, penguatan praktik keberlanjutan dan tata kelola, serta pengembangan kemitraan strategis untuk memperluas rantai nilai sebagai bagian dari fokus perusahaan ke depan.

“Kami akan terus berfokus pada praktik pertambangan terbaik, hilirisasi yang bertanggung jawab, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi negara dan seluruh pemangku kepentingan,” tegas Bernardus.

Ubah kekuatan menjadi nilai

Besarnya sumber daya dan produksi nikel menempatkan Indonesia pada posisi penting dalam rantai industri mineral. Namun, posisi tersebut tidak berhenti pada angka produksi atau cadangan.

Baca juga: Segregation Plant Vale Indonesia, Wujud Komitmen Nol Sampah Menuju 2050

Di dalam negeri, pembangunan smelter, investasi industri pengolahan, pengembangan proyek hilirisasi, serta peningkatan kapasitas teknologi menjadi bagian dari proses untuk mengubah sumber daya mineral menjadi aktivitas ekonomi yang lebih panjang.

Pada saat yang sama, proses tersebut berlangsung di wilayah yang juga menjadi ruang hidup masyarakat dan ekosistem. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan, rehabilitasi lahan, serta keberlanjutan wilayah sekitar tambang menjadi bagian dari perjalanan yang sama.

Pada akhirnya, nilai sebuah sumber daya tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa besar cadangan yang dimiliki atau seberapa banyak yang dapat diproduksi. Nilainya juga ditentukan oleh kemampuan untuk mengolahnya menjadi kekuatan industri sekaligus memastikan manfaatnya dapat terus berkembang.

Kembali pada kalimat Paman Ben, “With great power comes great responsibility.”

Bagi Indonesia, nikel adalah salah satu bentuk kekuatan tersebut. Tantangannya bukan hanya mengambil nikel dari bumi, tetapi memastikan sumber daya tersebut berkembang menjadi nilai tambah bagi industri, masyarakat, dan generasi mendatang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
BUMN
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Swasta
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Pemerintah
GRI Siapkan Standar Pelaporan ESG Khusus Industri Makanan dan Minuman
GRI Siapkan Standar Pelaporan ESG Khusus Industri Makanan dan Minuman
Pemerintah
Kampung Bebas Rokok dan Pinjol yang Sejuk di Tengah Panas Surabaya
Kampung Bebas Rokok dan Pinjol yang Sejuk di Tengah Panas Surabaya
LSM/Figur
PBB Peringatkan Waktu untuk Pulihkan Hutan Dunia Kian Terbatas
PBB Peringatkan Waktu untuk Pulihkan Hutan Dunia Kian Terbatas
Pemerintah
Teknologi Satelit Bantu Lindungi Pasokan Air Minum Dunia, Kok Bisa?
Teknologi Satelit Bantu Lindungi Pasokan Air Minum Dunia, Kok Bisa?
LSM/Figur
Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat
Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat
Pemerintah
Lanskap Bukit Tigapuluh, Menjaga Ruang Jelajah Gajah Sumatera
Lanskap Bukit Tigapuluh, Menjaga Ruang Jelajah Gajah Sumatera
Pemerintah
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
LSM/Figur
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Swasta
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Pemerintah
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Pemerintah
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan 'Gluten Free' Bernilai Ekonomi Tinggi
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan "Gluten Free" Bernilai Ekonomi Tinggi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau