Untuk diketahui, IGP Morowali merupakan salah satu bagian dari pengembangan proyek hilirisasi PT Vale bersama IGP Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara dan pengembangan proyek di Sorowako.
Di Pomalaa, PT Vale bersama mitra mengembangkan tambang nikel dan fasilitas HPAL yang dirancang menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), yakni produk antara yang dapat digunakan dalam rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik.
Fasilitas tersebut dirancang menghasilkan sekitar 120.000 ton nikel dan 15.000 ton kobalt per tahun dalam bentuk MHP. Adapun nilai investasi untuk pengembangan tambang dan fasilitas HPAL di Pomalaa mencapai sekitar 4,5 miliar dollar AS.
Baca juga: Ketika Industri Nikel Berdamai dengan Alam, Kisah Keberlanjutan Vale
Hingga Mei 2026, progres konstruksi IGP Pomalaa telah mencapai 73,4 persen. Proyek tersebut juga mencakup sejumlah fasilitas pendukung, seperti pembibitan, pengolahan limbah padat, kolam sedimentasi, pengolahan air limbah dan lindi, pengelolaan limbah B3, serta pengolahan emisi udara.
Bagi Bernardus, investasi tersebut juga berkaitan dengan perubahan kebutuhan industri di masa depan.
Dalam paparan publik pada September 2026, ia mengatakan bahwa kebutuhan nikel ke depan tidak hanya berasal dari industri kendaraan listrik.
“Kita tidak hanya melihat pemakaian nikel sebagai baterai mobil listrik, tapi kita melihat juga tren-tren ke depan tentang robotics, tentang AI, tentang data center, tentang eVTOL (electric vertical take-off and landing), misalnya, yang akan membutuhkan banyak sekali volume nikel,” ujar Bernardus.
Oleh karena itu, perseoran memandang investasi yang dilakukan saat ini sebagai bagian dari persiapan terhadap kebutuhan industri berikutnya.
“Jadi, we are investing today for tomorrow, untuk kebutuhan-kebutuhan di kemudian hari.” kata Bernardus.
Pengembangan proyek hilirisasi tersebut juga masuk dalam arah strategis PT Vale pada 2026.
Dalam hasil RUPST 2026, perusahaan menyebut, penyelesaian proyek hilirisasi nikel dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah, penguatan praktik keberlanjutan dan tata kelola, serta pengembangan kemitraan strategis untuk memperluas rantai nilai sebagai bagian dari fokus perusahaan ke depan.
“Kami akan terus berfokus pada praktik pertambangan terbaik, hilirisasi yang bertanggung jawab, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi negara dan seluruh pemangku kepentingan,” tegas Bernardus.
Besarnya sumber daya dan produksi nikel menempatkan Indonesia pada posisi penting dalam rantai industri mineral. Namun, posisi tersebut tidak berhenti pada angka produksi atau cadangan.
Baca juga: Segregation Plant Vale Indonesia, Wujud Komitmen Nol Sampah Menuju 2050
Di dalam negeri, pembangunan smelter, investasi industri pengolahan, pengembangan proyek hilirisasi, serta peningkatan kapasitas teknologi menjadi bagian dari proses untuk mengubah sumber daya mineral menjadi aktivitas ekonomi yang lebih panjang.
Pada saat yang sama, proses tersebut berlangsung di wilayah yang juga menjadi ruang hidup masyarakat dan ekosistem. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan, rehabilitasi lahan, serta keberlanjutan wilayah sekitar tambang menjadi bagian dari perjalanan yang sama.
Pada akhirnya, nilai sebuah sumber daya tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa besar cadangan yang dimiliki atau seberapa banyak yang dapat diproduksi. Nilainya juga ditentukan oleh kemampuan untuk mengolahnya menjadi kekuatan industri sekaligus memastikan manfaatnya dapat terus berkembang.
Kembali pada kalimat Paman Ben, “With great power comes great responsibility.”
Bagi Indonesia, nikel adalah salah satu bentuk kekuatan tersebut. Tantangannya bukan hanya mengambil nikel dari bumi, tetapi memastikan sumber daya tersebut berkembang menjadi nilai tambah bagi industri, masyarakat, dan generasi mendatang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya