Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Loading Ramp" Sawit Tak Berizin Dinilai Ganggu Ketertelusuran

Kompas.com, 3 Oktober 2026, 16:41 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebanyak 262 dari 359 loading ramp kelapa sawit yang teridentifikasi di Kalimantan Barat pada 2025 belum memiliki izin.

Data tersebut disampaikan Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Barat periode 2025-2030, Aris Supratman. Dari total 359 *loading ramp*, baru 97 unit yang telah mengantongi izin.

Wakil Ketua Umum II GAPKI Susanto mengatakan, keberadaan loading ramp perlu mendapat pengawasan karena fasilitas tersebut menjadi bagian dari rantai pasok tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.

Baca juga: Ketertelusuran akan Jadi Bagian Tak Terpisahkan dari Laporan ESG

Menurut dia, persoalan loading ramp juga berkaitan dengan keberadaan pabrik kelapa sawit (PKS) tanpa kebun yang dinilai perlu mendapat pengawasan dalam hal legalitas, metrologi, hingga tata niaga.

"Kendati memang dibutuhkan petani kelapa sawit, loading ramp* juga harus dikelola, dengan didaftarkan, diatur, dan diawasi. Tidak bisa didirikan secara bebas oleh siapa saja dan di mana saja," ujar Agam dalam keterangan tertulis, Jumat (11/9/2026).

Ia mengatakan, bahan baku berupa berondolan sawit juga cenderung memiliki kadar asam lemak bebas (FFA) lebih tinggi dan kualitas yang tidak konsisten.

Menurut GAPKI, kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam menjaga mutu produksi crude palm oil (CPO).

Berkaitan dengan ketertelusuran sawit

Persoalan tata kelola loading ramp juga berkaitan dengan tuntutan ketertelusuran rantai pasok sawit.

Agam mengatakan, Indonesia sebagai salah satu produsen CPO terbesar menghadapi tuntutan ketertelusuran hingga tingkat kebun, termasuk melalui ketentuan European Union Deforestation Regulation (EUDR), Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Menurut dia, keberadaan titik pengumpulan TBS yang tidak tercatat dapat menjadi tantangan dalam memastikan asal-usul bahan baku.

GAPKI mendorong adanya aturan dan standar yang berlaku bagi seluruh entitas dalam rantai pasok sawit. Usulan tersebut mencakup pemenuhan dokumen lingkungan, penerapan ISPO, pemetaan ketertelusuran hingga tingkat kebun, serta penguatan pengawasan lintas instansi.

"Kebebasan berusaha patut didukung karena ini adalah fondasi dari ekonomi di Indonesia. Tetapi kita tidak boleh permisif terhadap pasokan yang tidak jelas, merusak kualitas, yang membuka ruang pencurian, konflik, dan sebagainya," ucapnya.

Loading ramp tetap dibutuhkan petani

Strategic Advisor CECT Universitas Trisakti berlatar belakang RSPO, M Windrawan Inatha, mengatakan, keberadaan loading ramp sulit dihilangkan karena memiliki fungsi ekonomi dan sosial bagi petani sawit skala kecil.

Menurut dia, loading ramp dapat menjadi akses pembiayaan informal bagi petani yang kesulitan memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan formal.

"Fungsi-fungsi begitu yang mungkin akan susah kita hilangkan, kecuali diatur. Jadi loading ramp-nya yang kita akan atur," kata Windrawan.

Ia mendorong agar loading ramp dimasukkan ke dalam sistem ketertelusuran resmi melalui standardisasi bukti transaksi. Dengan demikian, fasilitas tersebut tetap dapat menjalankan fungsi ekonominya tanpa menjadi celah masuknya TBS dari sumber yang tidak jelas.

Baca juga: EUDR Dorong Ketertelusuran Komoditas Ekspor, RI Berpeluang Tekan Kebocoran Pendapatan

Windrawan juga menyebut dari sekitar 3,22 juta pekebun sawit, baru 1,54 juta yang memiliki Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB). Sementara itu, tingkat kepatuhan ISPO masih di bawah 2 persen.

Rantai pasok panjang

Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Ratnawati Nurkhoiry mengatakan, petani sawit swadaya masih menghadapi sejumlah persoalan struktural, mulai dari legalitas lahan, sumber benih, produktivitas, hingga akses pemasaran.

Menurut dia, rantai pemasaran yang panjang melalui agen atau loading ramp dapat memengaruhi bagian nilai yang diterima petani.

"Ini lingkaran setan," ujar Ratnawati, merujuk pada kondisi produktivitas rendah yang berkontribusi terhadap rendahnya pendapatan petani sehingga mereka sulit keluar dari ketergantungan terhadap perantara.

Ia menilai keberadaan loading ramp pada dasarnya merupakan respons terhadap keterbatasan yang dihadapi petani kecil.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata menghilangkan loading ramp, melainkan membangun tata kelola yang memungkinkan fasilitas tersebut masuk dalam rantai pasok yang lebih transparan dan tertelusur.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau