Penulis
KOMPAS.com - Di balik kemudahan dan keandalan pemrosesan akal imitasi (AI), terdapat beban infrastruktur komputasi yang sangat masif pada pusat data atau data centre.
Setiap kali instruksi atau prompt dijalankan, ribuan chip bekerja keras secara paralel dan menghasilkan panas berlebih yang memerlukan sistem pendingin berbasis air.
Walaupun kita sebagai penggunanya tidak melihat konsumsi air secara langsung saat berinteraksi dengan AI, akumulasi yang mencapai jutaan kali setiap hari menyebabkan konsumsi air operasional data center membengkak secara signifikan.
Guru Besar MIPA UI, Prof. Agustino Zulys dalam penjelasannya mengungkapkan, satu perintah atau prompt kepada AI, jawaban yang kita peroleh dalam beberapa detik itu menggerakan ribuan chip dalam data center yang membutuhkan listrik dan menghasilkan panas.
Mengutip dari riset UC River Side, model AI seperti ChatGPT-3 "minum" setengah liter (500 ml) air untuk 50 respons, atau 50 ml air untuk satu jawaban. Bayangkan jika penggunanya ribuan atau bahkan jutaan orang.
"Satu data center berkapasitas 100 megawatt, dapat menggunakan sekitar 2 juta liter air dalam satu hari, atau setara kebutuhan 6.500 rumah tangga," jelas Prof. Zulys.
Kondisi ini menciptakan dilema lingkungan mendasar. Satu sisi perkembangan AI menawarkan efisiensi komputasi, namun di sisi lain keberadaan air tetap merupakan kebutuhan pokok kehidupan yang tak tergantikan.
Ancaman nyata dari tingginya kebutuhan air dan energi data center tecermin pada penghentian sementara proyek AI Campus 2 (CGK4) milik BDx Data Center di Jatiluhur, Purwakarta, oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Pembangunan fasilitas raksasa berkapasitas 640 megawatt (MW) ini dihentikan karena diduga belum mengantongi dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
Proyek yang berjarak sekitar lima kilometer dari Waduk Jatiluhur tersebut diperkirakan membutuhkan pasokan air pendingin hingga 384 liter per detik (sekitar 33 ribu meter kubik per hari atau lebih dari 12 juta meter kubik per tahun).
Ekstraksi air skala besar ini menimbulkan kekhawatiran kritis mengingat Waduk Jatiluhur merupakan pemasok utama irigasi bagi lumbung padi Jawa Barat.
Selain masalah air, beban listrik proyek yang mencapai 5,6 terawatt-jam (TWh) per tahun berpotensi meningkatkan pembakaran batu bara serta mengancam keandalan pasokan listrik pelanggan rumah tangga, UMKM, dan industri.
Institute for Essential Services Reform (IESR) dalam rilis resmi mereka (1/10/2026) mendukung penghentian sementara pembangunan BDx Data Center di Jatiluhur, Purwakarta, serta mendesak pemerintah segera menerbitkan regulasi safeguard AI dan standar data center hijau.
IESR menekankan, AMDAL, kajian sosial-lingkungan, serta kajian dampak terhadap keandalan pasokan dan akses listrik pelanggan PLN harus dibuka kepada publik sebelum pembangunan dilanjutkan.
Langkah ini penting agar investasi ekonomi digital berjalan seiring dengan perlindungan sumber daya air, keandalan listrik, dan kepentingan masyarakat.
Para pakar dan Institute for Essential Services Reform (IESR) mengajukan sejumlah solusi teknis serta kebijakan strategis terkait persoalan dilema ini.
Prof. Agustino Zulys menekankan krusialnya penggunaan teknologi pendinginan hemat air serta pemanfaatan air daur ulang. IESR juga mendesak pemerintah untuk mewajibkan sistem pendingin tanpa air (waterless) atau sirkulasi tertutup (closed-loop) bagi seluruh data center di Indonesia agar tidak bersaing dengan sumber air minum dan irigasi pertanian.
Pemerintah pusat melalui kementerian terkait (Komdigi, ESDM, Lingkungan Hidup, PU, dan Kemenko Perekonomian) didesak segera menerbitkan aturan panduan keamanan nasional yang harus menetapkan ambang batas efisiensi energi serta standar efisiensi perangkat IT data center.
Data center diwajibkan memanfaatkan energi terbarukan langsung dari pembangkit di lokasi atau kontrak pembelian listrik terbarukan minimal 35 persen pada 2030 dan 50 persen pada 2040 guna menekan emisi karbon.
Setiap pembangunan data center wajib menyelesaikan penyusunan AMDAL dan analisis dampak sosial-lingkungan secara komprehensif dengan melibatkan masyarakat terdampak, termasuk para petani irigasi.
Selain itu, kajian dampak terhadap keandalan sistem kelistrikan dan risiko biaya jaringan harus dibuka secara transparan kepada publik.
Di sisi lain, kesadaran bahwa setiap kueri atau promot digital memiliki jejak lingkungan (ecological footprint) perlu dibangun agar kita menjadi pengguna yang lebih bijak.
Baca juga: Proyek Data Center AI Rp 3,5 Triliun Disetop, Dedi Mulyadi Sebut Konsultan Lalai
Bagaimanapun canggihnya inovasi AI yang dikembangkan, keberlanjutan sumber daya air bersih tetap merupakan kebutuhan pokok yang tak tergantikan bagi kelangsungan hidup manusia dan lingkungan.
Penggunaan AI secara proporsional dan tidak berlebihan adalah langkah kecil yang dapat dilakukan di tingkat individu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya