Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio

Kompas.com, 21 Oktober 2026, 18:49 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esg dive

KOMPAS.com - Persentase pemilik aset yang memasukkan unsur keberlanjutan ke dalam strategi investasi mereka telah meningkat dari 73 persen pada tahun 2025 menjadi 84 persen pada tahun 2026.

Menurut edisi terbaru survei pemilik aset dari London Stock Exchange Group (LSEG) yang dirilis bulan lalu, 15 persen sisanya saat ini sedang mempertimbangkan untuk menerapkannya.

Melansir ESG Dive, Selasa (20/10/2026) lebih dari separuh (51 persen) pemilik aset yang disurvei kini memperhitungkan faktor keberlanjutan pada lebih dari 50 persen aset mereka, naik dari 26 persen pada tahun lalu.

Sebanyak 11 persen pemilik aset bahkan menyatakan bahwa mereka mengelola 100 persen portofolio mereka dengan cara ini, meningkat dari 0 persen dalam survei tahun lalu.

Sementara itu sebanyak 85 persen pemilik aset yang disurvei memperkirakan akan meningkatkan pertimbangan faktor keberlanjutan dalam investasi mereka, atau memperluas penggunaan produk investasi berkelanjutan, dalam satu hingga tiga tahun ke depan. Tidak ada satupun responden yang menyatakan berencana mengurangi porsi pertimbangan faktor keberlanjutan.

Baca juga: AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta

Investasi berkelanjutan sempat menurun

Investasi berkelanjutan sempat diminati pada tahun 2021 dan 2022, namun keterlibatannya kemudian menurun dari 86 persen pada tahun 2022 menjadi 74 persen di tahun 2023, dan turun lagi menjadi 71 persen pada tahun 2024, menurut laporan LSEG.

Lee Clements, Kepala Riset Investasi Berkelanjutan Terapan di FTSE Russell yang merupakan penyedia indeks global milik LSEG, mengatakan bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh gejolak geopolitik serta revisi pada regulasi investasi dan pengungkapan keberlanjutan.

Namun, dari hasil survei tahun ini, investasi berkelanjutan tampaknya telah bangkit kembali. Keberlanjutan kini menjadi bagian yang lebih luas dari proses investasi arus utama, seperti pengaruhnya terhadap risiko dan keuntungan.

Sebanyak 47 persen responden tahun ini mengatakan bahwa mereka mengejar investasi berkelanjutan untuk meningkatkan imbal hasil portofolio, naik dari 41 persen pada tahun 2025. Sementara itu, kekhawatiran terhadap kinerja keuangan turun dari 27 persen tahun lalu menjadi 19 persen pada tahun ini.

LSEG menyurvei 402 pemilik aset di 24 negara, yang tersebar di Amerika Utara (30 persen), kawasan Asia Pasifik (30 persen), serta Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (40 persen).

Responden merupakan para pejabat senior di bidang keberlanjutan, investasi, atau tim manajemen dari dana pensiun, perusahaan asuransi, dana kekayaan negara atau pemerintah, serta yayasan atau dana abadi. Mereka mengelola aset senilai 100 miliar dolar AS atau lebih (22 persen), 1 miliar dolar AS hingga 100 miliar dolar AS (48 persen), atau kurang dari 1 miliar dolar AS (30 persen).

Baca juga: 82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset

Pertimbangan risiko iklim dalam investasi

Para investor juga melihat lebih banyak contoh nyata dari pertimbangan keberlanjutan seperti peristiwa gelombang panas ekstrem selama musim panas atau dampak krisis energi saat ini dalam mendorong transisi energi.

Berdasarkan survei tersebut, lebih dari separuh (52 persen) pemilik aset yang disurvei telah mempertimbangkan risiko iklim dalam cara mereka menyebarkan investasi di berbagai kelas aset, naik dari 36 persen pada tahun 2025.

Sebanyak 30 persen sedang berupaya melakukan divestasi dari aset-aset tinggi karbon, naik dari 21 persen pada tahun 2025, sementara 60 persen masih melanjutkan keterlibatan, turun dari 67 persen pada tahun sebelumnya.

Namun survei tersebut juga menemukan bahwa para pemilik aset sedang bergulat dengan risiko-risiko baru. Sebanyak 25 persen responden survei mengaku khawatir terhadap masalah kesehatan dan risiko yang berkaitan dengan layanan kesehatan, 24 persen mengkhawatirkan isu teknologi dan kecerdasan buatan (AI), dan 19 persen menyebutkan kekhawatiran terkait ketahanan pangan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau