Tata kelola, pajak, dan hak pemegang saham muncul sebagai prioritas keberlanjutan yang paling sering disebutkan oleh para pengelola aset, diidentifikasi oleh 32 persen responden, melonjak dari hanya 18 persen pada tahun 2025.
Clements mengatakan bahwa tekanan baru terhadap hak pemegang saham serta potensi usulan regulasi yang dapat membatasi pengungkapan dan kemampuan investor untuk membawa agenda ke meja voting menjadi pemicu utama kekhawatiran tersebut.
Selain itu, ia menambahkan, volatilitas geopolitik dan makroekonomi serta potensi pasar yang lesu dapat mengungkap masalah tata kelola yang tersembunyi di dalam perusahaan.
Baca juga: Investasi Hijau Tumbuh, EBUS Berkelanjutan Capai Rp 85,15 Triliun
LSEG juga mencatat bahwa dalam laporan tersebut, para pemilik aset menyebutkan masalah tata kelola di perusahaan-perusahaan AI besar sebagai hal yang mengkhawatirkan.
Lebih lanjut, para pemilik aset menyatakan bahwa hambatan terbesar dalam peningkatan adopsi investasi berkelanjutan adalah kekhawatiran terhadap kualitas pelaporan perusahaan, yang disebutkan oleh 33 persen responden, naik dari 31 persen pada tahun 2025.
Kendati demikian, kekhawatiran terhadap gejolak regulasi justru menurun, kini 36 persen responden melihat regulasi sebagai potensi pendorong investasi berkelanjutan, naik dari 22 persen pada tahun lalu.
"Ke depan, stabilitas kebijakan dan pendekatan pemerintah terhadap keberlanjutan akan berdampak pada tingkat adopsi, begitu pula dengan arah umum pasar dan perekonomian secara keseluruhan karena pasar yang sedang turun cenderung membuat para pemilik aset mengesampingkan masalah keberlanjutan demi memitigasi risiko," kata Clements.
Adopsi kecerdasan buatan (AI) juga menjadi bidang utama yang perlu diwaspadai. Pertanyaan terbesar yang diterima LSEG adalah bagaimana penyebaran pusat data dan infrastruktur AI akan memengaruhi pertimbangan keberlanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya