KOMPAS.com - Riset terbaru dari Forests & Finance mengungkapkan bank-bank dunia telah menggelontorkan pembiayaan hampir 600 miliar dolar AS (sekitar Rp 10,78 kuadriliun) kepada perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam deforestasi di hutan tropis dan perusakan ekosistem sejak tahun 2020.
Temuan ini mengungkap meningkatnya risiko keuangan pada industri yang berkaitan dengan hilangnya hutan, degradasi lahan, dan penurunan keanekaragaman hayati.
Hal ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai manajemen risiko lingkungan oleh bank, di saat pemerintah bersiap menilai kemajuan komitmen konservasi global.
Melansir ESG News, Senin (19/10/2026) koalisi Forests & Finance mempublikasikan temuan ini dalam laporan tahunan mereka yang bertajuk Banking on Biodiversity Collapse.
Antara tahun 2020 dan 2025, bank-bank telah menyalurkan kredit senilai 351 miliar dolar AS (sekitar Rp6,31 kuadriliun) kepada perusahaan komoditas pertanian berisiko tinggi dan 244 miliar dolar AS (sekitar Rp4,39 kuadriliun) kepada perusahaan tambang.
"Sektor-sektor ini adalah pendorong utama deforestasi, degradasi lahan, dan konflik masyarakat di cekungan hutan tropis Amerika Selatan, Asia Tenggara, serta Afrika Tengah dan Barat," ungkap koalisi tersebut.
Baca juga: Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Meskipun komitmen keberlanjutan perusahaan terus diperluas, pembiayaan untuk industri yang terkait dengan perusakan hutan tropis justru meningkat secara drastis dalam dekade terakhir.
Pemberian pinjaman dan penjaminan tahunan untuk perusahaan tambang yang beroperasi di negara-negara kaya hutan tropis melonjak sebesar 55 persen antara tahun 2016 dan 2025.
Pembiayaan tersebut meningkat dari 23,7 miliar dolar AS (sekitar Rp 426,1 triliun) menjadi 36,7 miliar dolar AS (sekitar Rp 659,9 triliun), dengan litium dan nikel sebagai penyumbang kenaikan terbesar.
Kedua mineral tersebut merupakan bahan penting untuk kendaraan listrik, baterai, dan infrastruktur energi bersih.
Kebutuhan pendanaan yang terus meningkat ini menciptakan tantangan bagi lembaga keuangan yang ingin mendukung dekarbonisasi sekaligus melindungi keanekaragaman hayati.
Proyek pertambangan dapat menimbulkan risiko lingkungan melalui pembukaan lahan, fragmentasi habitat, dan tekanan terhadap masyarakat lokal.
Lebih lanjut, pembiayaan untuk komoditas pertanian berkembang bahkan lebih cepat.
Pembiayaan tahunan yang berisiko terhadap hutan meningkat 71 persen sejak tahun 2016, naik dari 37,9 miliar dolar AS menjadi 64,7 miliar dolar AS. Dari peningkatan tersebut, pembiayaan untuk produksi daging sapi naik lebih dari 50 persen.
Pembiayaan untuk kedelai melonjak 137 persen, sementara pinjaman bagi perusahaan bubur kertas dan kertas meningkat 157 persen. Industri-industri ini tetap menjadi sumber tekanan utama terhadap hutan tropis, terutama di wilayah di mana ekspansi pertanian beririsan dengan lemahnya penegakan hukum tata guna lahan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya