Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi

Kompas.com, 21 Oktober 2026, 20:04 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber ESG News

Indonesia hadapi risiko lingkungan dan finansial yang makin besar

Indonesia menggambarkan dampak nyata dari terus mengalirnya pembiayaan untuk industri yang padat pemanfaatan hutan.

Menurut koalisi tersebut, bank-bank menggelontorkan dana sebesar 67,1 miliar dolar AS untuk sektor kelapa sawit dan pulp and paper di Indonesia antara tahun 2020 dan 2025.

Laporan ini mengaitkan berbagai kegiatan tersebut dengan deforestasi dan pengeringan lahan gambut, terutama di wilayah Kalimantan dan Sumatra.

Lahan gambut menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar. Mengeringkannya akan meningkatkan emisi gas rumah kaca dan membuat kawasan sekitarnya menjadi lebih rentan terhadap kebakaran.

Degradasi hutan juga dapat memperparah banjir karena berkurangnya kemampuan alam dalam menyerap curah hujan.

Indonesia sedang mengalami musim kebakaran hutan terparah yang dipicu oleh fenomena El Niño dalam 11 tahun terakhir.

Asap dari kebakaran tersebut telah memperburuk kualitas udara di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Singapura dan Malaysia.

Kabut asap yang ditimbulkannya telah memicu peningkatan kasus penyakit pernapasan dan menunjukkan dampak lintas batas dari kerusakan hutan.

Bagi pihak bank, perkembangan ini menciptakan potensi risiko fisik akibat perubahan iklim, intervensi regulasi, serta kerusakan reputasi.

Baca juga: Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak

Bank hadapi sorotan terkait perlindungan keanekaragaman hayati

Koalisi tersebut berpendapat bahwa kebijakan lingkungan yang ada saat ini gagal mengimbangi laju aktivitas pembiayaan.

Bank-bank yang mengeluarkan kredit berisiko tinggi terbanyak masih belum memiliki langkah pengamanan yang memadai untuk memitigasi risiko kerusakan lingkungan dan sosial yang serius.

Temuan ini memunculkan pertanyaan mengenai cara bank menilai dampak keanekaragaman hayati dalam portofolio pinjaman korporasi mereka.

Bagi lembaga keuangan, uji tuntas yang lebih ketat dapat mencakup peninjauan paparan terhadap deforestasi, praktik penggunaan lahan, dan kepatuhan lingkungan sebelum menyetujui kredit.

Baca juga: Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim

Para investor juga menghadapi tekanan yang kian besar untuk memeriksa apakah komitmen keberlanjutan benar-benar diwujudkan dalam bentuk pembatasan pembiayaan yang efektif.

Perbedaan ini menjadi sangat penting seiring dengan semakin masuknya isu hilangnya keanekaragaman hayati ke dalam penilaian risiko keuangan, sejajar dengan risiko yang berkaitan dengan iklim.

Lebih lanjut, bagi bank dan investor institusional, tantangan utamanya kini tidak hanya bersifat lingkungan, tetapi juga finansial.

Pemberian pinjaman yang terus berlanjut ke industri yang berisiko merusak hutan dapat membuat portofolio keuangan mereka terpapar oleh pengetatan regulasi, gangguan rantai pasok, serta kerugian akibat kerusakan ekosistem yang terus meningkat.

Temuan ini juga menyoroti sebuah kontradiksi yang lebih besar dalam keuangan berkelanjutan di mana modal yang mendukung pembangunan ekonomi dan transisi energi dapat secara bersamaan mempercepat hilangnya alam.

Cara lembaga keuangan dalam mengatasi ketegangan tersebut akan sangat menentukan dampak terhadap keanekaragaman hayati di berbagai wilayah hutan tropis serta kredibilitas dari komitmen konservasi global.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau