Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang

Kompas.com, 2 November 2026, 14:13 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kebutuhan air untuk mendinginkan pusat data kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berpotensi menambah tekanan terhadap ketersediaan air bersih.

Penggunaan air daur ulang yang telah diolah sesuai spesifikasi teknis dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan air minum.

Dosen Program Studi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga (UNAIR), Yutika Amelia Effendi mengatakan, air memiliki kapasitas penyerapan panas yang tinggi sehingga efektif digunakan dalam sistem pendinginan pusat data.

Baca juga: AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan

Namun, pesatnya perkembangan AI juga meningkatkan kebutuhan infrastruktur komputasi yang mengonsumsi listrik dan sumber daya air dalam jumlah besar. Karena itu, efisiensi penggunaan sumber daya perlu menjadi bagian dari pengembangan teknologi AI.

Server, prosesor, dan unit pemrosesan grafis (GPU) di pusat data menghasilkan panas tinggi ketika memproses permintaan komputasi. Panas tersebut harus dibuang secara berkelanjutan agar kinerja sistem tetap stabil.

“Hubungan antara pusat data dan konsumsi air terjadi melalui tiga jalur utama yakni penggunaan air langsung untuk sistem pendinginan, penggunaan tidak langsung melalui pembangkitan listrik, serta air yang digunakan dalam rantai pasok manufaktur perangkat keras,” ujar Yutika, dilansir dari laman resmi UNAIR, Senin (26/10/2026).

Yutika menekankan, perencanaan pembangunan pusat data perlu mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan kebutuhan dasar masyarakat terhadap air.

“Dampaknya sangat bervariasi bergantung pada lokasi, teknologi pendinginan, dan kondisi sumber daya air setempat. Kebutuhan dasar masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama dalam pengelolaan air,” tutur Yutika.

Teknologi pendinginan lebih efisien

Untuk menekan konsumsi air, sejumlah langkah dapat diterapkan dari hulu hingga hilir. Di antaranya, mengoptimalkan model komputasi, menggunakan teknologi closed-loop cooling atau direct-to-chip liquid cooling, memanfaatkan air daur ulang, serta memilih lokasi pembangunan pusat data dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya air.

Yutika juga mengajak masyarakat membangun kesadaran digital dengan memanfaatkan AI secara bijak tanpa ketakutan berlebihan. Menurut dia, pengembangan AI yang lebih efisien membutuhkan sinergi antara pemerintah, industri, dan akademisi.

Baca juga: Saham Reddit Anjlok 29 Persen, Google AI Jadi Biang Kerok

“Pemerintah dapat mendorong standar efisiensi, sementara perguruan tinggi dapat berperan melalui riset lintas bidang. AI bukan hanya teknologi yang terkendali dampaknya, namun juga dapat menjadi bagian dari solusi pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan,” ucapnya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (APTIKNAS) Fanky Christian mengatakan, pusat data yang digunakan untuk AI menghasilkan panas lebih tinggi dibandingkan server konvensional yang digunakan untuk menjelajahi web.

Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan sistem pendinginan, termasuk penggunaan air. Fanky menyebut, mayoritas pusat data di Indonesia masih menggunakan sistem pendingin berbasis udara atau air cooling konvensional.

Besarnya kebutuhan air industri pusat data berpotensi memunculkan persaingan penggunaan sumber daya dengan sektor lain, termasuk rumah tangga.

"Rebutan untuk kebutuhan rumah tangga sama buat data center. Kalau Anda jadi yang punya air milih jualnya ke yang mana? Jual ke data center harganya beda, karena industri grade price industri. Kalau ke perumahan retail, customer, bahkan ada yang disubsidi kan," ujar Fanky di Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Fanky juga menyoroti potensi tekanan terhadap sumber daya air yang muncul seiring perkembangan industri pusat data AI di kawasan Johor Bahru, Malaysia.

Ia menyebut, penggunaan air tanah oleh industri pusat data di kawasan tersebut memicu keluhan warga sekitar yang mengalami kesulitan mengakses air.

Di Indonesia, tantangan pengembangan pusat data juga berkaitan dengan kapasitas sistem pendinginan. Kenaikan suhu akibat perubahan iklim berpotensi semakin memperberat kebutuhan pendinginan fasilitas tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Pemerintah
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
LSM/Figur
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
LSM/Figur
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Pemerintah
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Pemerintah
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik  Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
LSM/Figur
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Pemerintah
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
PBB: 80 Persen Pekerja Rumah Tangga Tak Punya Perlindungan Kerja Formal
Pemerintah
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Kadar Gas Rumah Kaca Capai Rekor Tertinggi Baru pada 2025v
Pemerintah
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
Beras Rendah Emisi Berpeluang Masuk Pasar Ritel, Pendapatan Petani Bisa Naik
LSM/Figur
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemkot Surakarta dan Konsorsium Filantrofi Dorong Transisi Sanitasi Aman
Pemerintah
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
K-24 Grup dan Danone Indonesia Dukung Pemenuhan Nutrisi Anak Pascabencana di NTT
Swasta
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
Restorasi Gambut dan Pemantauan Udara Diperlukan untuk Penanganan Karhutla Jangka Panjang
LSM/Figur
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
PBB: Daya Serap Karbon Samudra Kian Menurun akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau