Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Asia-Pasifik Meningkat, UNDP Dorong Keamanan Berbasis Pembangunan

Kompas.com, 27 Oktober 2026, 10:53 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Investasi di bidang kesehatan masyarakat, kesiapsiagaan bencana, perlindungan digital, dan institusi yang terpercaya harus menjadi bagian penting dari strategi keamanan nasional.

Pasalnya, berbagai krisis yang saling berkaitan kini mengancam keselamatan dan kesejahteraan masyarakat di kawasan Asia-Pasifik, menurut laporan terbaru dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) yang dirilis pada 22 Oktober 2026.

Melansir Down to Earth, Senin (26/10/2026) laporan yang berjudul "Redefining Security: Development Circuit Breakers for a More Secure Future" mendorong adanya perombakan mendasar pada strategi keamanan di Asia dan Pasifik.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa perubahan iklim, kejahatan siber, ketimpangan ekonomi, dan menurunnya kepercayaan publik sedang menciptakan risiko-risiko yang saling terhubung, di mana pendekatan keamanan tradisional saja tidak akan mampu mengatasinya.

Kawasan Asia-Pasifik, yang mencakup 38 negara dan wilayah, sedang menghadapi berbagai tantangan global dan domestik secara bersamaan.

Konflik di Asia Barat membuat harga energi naik dan mengganggu rantai pasok pangan, sementara dampak jangka panjang dari pandemi COVID-19 masih membebani sistem kesehatan dan keuangan publik.

Baca juga: ADB Targetkan Rp 35 Triliun untuk Pemulihan Lahan di Asia-Pasifik

Bencana terkait iklim, lonjakan utang, pemulihan ekonomi yang tidak merata, dan kemunduran demokrasi semakin memperparah kerentanan di kawasan ini.

Kejahatan siber lintas negara menjadi tantangan lain yang kian membesar. Industri penipuan online global diperkirakan menghasilkan hingga 1,03 triliun dolar AS pada tahun 2024.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa masyarakat di seluruh Asia dan Pasifik yang terjebak penipuan ini berisiko kehilangan hingga 114 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Jaringan kejahatan siber juga semakin sering dikaitkan dengan perdagangan manusia, pencucian uang, dan aliran dana gelap, yang semuanya mengalihkan dana penting dari upaya pembangunan.

Ancam pekerja informal

Ketidakamanan ekonomi ini turut mengancam stabilitas kawasan. Sekitar 1,3 miliar pekerja informal tidak memiliki perlindungan kerja, dana pensiun, atau jaminan sosial yang memadai.

Selain itu, sekitar 138,6 juta anak muda menganggur, dan hampir 9 dari 10 pekerja muda bekerja di sektor informal. Kondisi-kondisi ini dapat memperparah ketimpangan, memicu keresahan, dan membuat masyarakat lebih rentan direkrut oleh kelompok kriminal.

Untuk mencegah guncangan berkembang menjadi krisis sistemik, UNDP mengusulkan empat "pemutus arus pembangunan" yang saling terhubung: tata kelola dan legitimasi institusi, integritas sistem digital, keamanan ekonomi, serta arsitektur iklim dan kesehatan.

Menurut laporan tersebut, keempat elemen ini membantu masyarakat dalam menyerap guncangan, mengelola ketidakpastian, dan mencegah ketidakstabilan sebelum benar-benar terjadi.

Laporan ini juga menekankan bahwa layanan publik yang efektif adalah fondasi utama untuk membangun kepercayaan terhadap institusi. Layanan kesehatan, pendidikan, keadilan, dan keamanan pribadi yang andal akan memperkuat legitimasi pemerintah, sebaliknya korupsi dan penyalahgunaan dana publik justru akan merusak kepercayaan serta meningkatkan risiko ketidakstabilan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bappenas Perkuat Penilaian SDGs Action Awards, Soroti Praktik Baik Berdampak Nyata
Bappenas Perkuat Penilaian SDGs Action Awards, Soroti Praktik Baik Berdampak Nyata
Pemerintah
Menyusuri Perjalanan 5 Dekade Mitsubishi Power Menerangi Nusantara
Menyusuri Perjalanan 5 Dekade Mitsubishi Power Menerangi Nusantara
BrandzView
Tak Hanya Pembangkit, Transisi Energi juga Butuh Jaringan dan Penyimpanan Daya
Tak Hanya Pembangkit, Transisi Energi juga Butuh Jaringan dan Penyimpanan Daya
Pemerintah
CSO Global Tunjukkan Optimisme Terhadap Tren Keberlanjutan Dunia
CSO Global Tunjukkan Optimisme Terhadap Tren Keberlanjutan Dunia
Pemerintah
LinkedIn: Akses Perempuan terhadap Karier Hijau Masih Terbatas
LinkedIn: Akses Perempuan terhadap Karier Hijau Masih Terbatas
Pemerintah
Krisis Asia-Pasifik Meningkat, UNDP Dorong Keamanan Berbasis Pembangunan
Krisis Asia-Pasifik Meningkat, UNDP Dorong Keamanan Berbasis Pembangunan
Pemerintah
Melihat Upaya Singapura Manfaatkan Energi Terbarukan di Tengah Keterbatasan Lahan
Melihat Upaya Singapura Manfaatkan Energi Terbarukan di Tengah Keterbatasan Lahan
Pemerintah
Sulteng Masuk 3 Besar Nasional, Investasi Jadi Penggerak Ekonomi Berkelanjutan
Sulteng Masuk 3 Besar Nasional, Investasi Jadi Penggerak Ekonomi Berkelanjutan
Pemerintah
Eropa Masuki Era Pemasaran Hijau, Seperti Apa?
Eropa Masuki Era Pemasaran Hijau, Seperti Apa?
Pemerintah
Ancaman Perubahan Iklim, 96 Persen Terumbu Karang Terancam Punah pada 2075
Ancaman Perubahan Iklim, 96 Persen Terumbu Karang Terancam Punah pada 2075
Pemerintah
PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi
PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi
Pemerintah
Permintaan Green Skills Global Naik Dua Kali Lipat dari Ketersediaan Tenaga Kerja
Permintaan Green Skills Global Naik Dua Kali Lipat dari Ketersediaan Tenaga Kerja
Pemerintah
Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir
Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir
Pemerintah
Dorong Lapangan Kerja dan Teknologi, Bank Dunia Resmikan Strategi Digital Global
Dorong Lapangan Kerja dan Teknologi, Bank Dunia Resmikan Strategi Digital Global
Pemerintah
Singapura Gelontorkan 75 Juta Dollar Singapura untuk Dekarbonisasi Listrik
Singapura Gelontorkan 75 Juta Dollar Singapura untuk Dekarbonisasi Listrik
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau