KOMPAS.com – Di tengah bonus demografi, Indonesia memasuki periode ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar jika dibanding usia nonproduktif. Momentum ini menjadi peluang penting menuju Indonesia Emas 2045.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menekankan bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk mewujudkan cita-cita menjadi bangsa maju pada 2045.
Modal tersebut mencakup kekayaan sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi dengan mayoritas penduduk usia produktif, kohesi sosial-politik yang kuat dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, serta spiritualitas bangsa yang menjadi kekuatan menghadapi berbagai krisis.
“Empat modal ini harus diperkuat dengan rasa percaya diri agar Indonesia tidak hanya optimistis, tetapi juga siap menghadapi tantangan global,” ujarnya saat menyampaikan kuliah umum bertajuk “Menyiapkan SDM Unggul Menyongsong Indonesia Emas 2045” di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta (29/9/2025).
Baca juga: Gubernur Lemhannas: Presiden Ajak Para Ketua DPRD Kompak Demi Indonesia Emas 2045
Meski menyimpan peluang, bonus demografi juga dibayangi tantangan. Data Statistik Pendidikan 2024 (BPS) menunjukkan bahwa kualitas dan akses pendidikan di Indonesia masih beragam, baik dari sisi fasilitas, tenaga pengajar, maupun capaian pendidikan antarwilayah. Ketimpangan ini semakin terasa dalam aspek digital.
Riset terbaru yang dipublikasikan di Jurnal Pendidikan Universal pada 2025 menemukan bahwa disparitas akses internet sekolah di Tanah Air cukup lebar. Wilayah Indonesia barat mencatat akses hingga 82,1 persen, sedangkan wilayah timur baru sekitar 45,2 persen. Kesenjangan ini menjadi tantangan serius dalam era pembelajaran berbasis teknologi.
Ketimpangan akses pendidikan dan digital tersebut tak hanya memengaruhi proses belajar di dalam negeri, tetapi juga menentukan kesiapan generasi muda menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.
Kemampuan mengakses teknologi, informasi, dan pembelajaran berkualitas kini menjadi bekal penting untuk membentuk talenta yang siap menghadapi perubahan.
Di tengah perkembangan teknologi dan terbukanya konektivitas antarnegara, pendidikan tidak lagi sekadar mengejar capaian akademik. Generasi muda juga dituntut mampu bekerja lintas budaya, memahami teknologi, serta beradaptasi dengan perubahan kebutuhan industri.
Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Warsito menyoroti berbagai tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (AI), ketidakpastian geopolitik, serta perubahan sosial yang ditandai dengan peningkatan polarisasi dan krisis kepercayaan publik.
Program UOB MDS bertujuan meningkatkann Kemampuan mengakses teknologi, informasi, dan pembelajaran berkualitas. Ia menegaskan bahwa perubahan tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia.
“Saat ini, kita menghadapi disrupsi teknologi yang sangat cepat. Sebagian besar pekerjaan dan keterampilan akan berubah dalam waktu singkat. Dalam situasi seperti ini, kekuatan utama bangsa bukan hanya pada teknologi, melainkan pada kualitas manusia yang mampu beradaptasi dan tetap berpegang pada nilai,” ujar Warsito.
Pembangunan sumber daya manusia (SDM) pun menjadi salah satu aspek dalam Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Untuk itu, kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pihak swasta, menjadi dinilai menjadi salah satu kunci penting.
Di tengah tantangan tersebut, berbagai pihak mulai mengambil peran dengan menghadirkan inisiatif pendidikan berbasis teknologi dan program beasiswa untuk menjangkau lebih banyak pelajar.
Salah satu contoh kolaborasi datang dari UOB melalui inisiatif regional UOB My Digital Space (MDS). Program ini hadir untuk mempersempit kesenjangan digital sekaligus menghadirkan akses pembelajaran berkualitas bagi generasi muda.
Sejak diluncurkan pada 2020, UOB MDS kini telah hadir di enam negara, termasuk Indonesia. Dalam empat tahun terakhir, program ini telah memberdayakan lebih dari 38.000 pelajar di Asia Tenggara, dan 2026 ditargetkan menjangkau 20.000 siswa lainnya.
Sementara itu, bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-90 UOB pada 2025, UOB Indonesia menggandeng Ruangguru untuk berkolaborasi dalam program UOB My MDS di Tanah Air.
Selama lima tahun, sebanyak 90.000 pelajar Indonesia akan dibekali perangkat serta kurikulum yang mendorong kemampuan berpikir kritis dan komputasional. Dua kemampuan ini kini semakin dibutuhkan di tengah perkembangan ekonomi digital dan kecerdasan buatan (AI).
Baca juga: Pengelolaan Terukur dan Berkelanjutan, UOB Plaza Raih Sertifikat Bangunan Hijau GBCI
Setiap tahun, UOB My MDS akan menjangkau siswa di 500 sekolah yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia. Adapun pada 2026, program tersebut sudah menggelar schooloutreach di SDN Bekasi Jaya 1, SMPN 1 Bogor, dan SMAN 1 Depok.
Setiap tahun, UOB MDS akan menjangkau siswa di 500 sekolah yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia. Luke Ariefiandi, Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia mengatakan, bagi UOB, pendidikan adalah fondasi untuk membuka potensi generasi muda dan memajukan bangsa.
“Kami melihat bahwa akses terhadap pendidikan yang layak dan literasi digital adalah kunci agar anak-anak dapat berkembang dan bersaing di era global. Melalui insiatif, seperti My Digital Space, kami ingin memastikan generasi muda dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi ekonomi digital,” ujar Luke dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (8/5/2026).
Membangun generasi yang siap menghadapi masa depan tidak cukup hanya lewat penguatan keterampilan digital di dalam negeri.
Baca juga: UOB: Manufaktur Jadi Kunci Tingkatkan Daya Beli Kelas Menengah
Di tengah konektivitas kawasan Asia Tenggara yang semakin erat, generasi muda juga membutuhkan akses terhadap pengalaman belajar lintas negara untuk memperluas perspektif, jejaring, dan kemampuan beradaptasi dalam lingkungan global.
Adapun program beasiswa menjadi semakin relevan sebagai jembatan untuk memperluas akses pendidikan. Di samping itu, beasiswa turut menjadi wadah memperluas jejaring, wawasan, serta pengalaman lintas budaya yang dibutuhkan di era global.
Komitmen tersebut juga tecermin dalam program UOB FutureGen. Program beasiswa prauniversitas ini memberikan kesempatan kepada 90 siswa dari kawasan regional untuk menempuh pendidikan di Singapura dalam beberapa tahun ke depan.
Para penerima beasiswa akan berkesempatan merasakan pengalaman belajar di luar negeri dan mendapatkan paparan internasional sejak usia dini.
Melalui pengalaman tersebut, mereka dapat memperluas wawasan, mengenal budaya baru, serta membuka akses menuju peluang yang lebih besar. Inisiatif ini sejalan dengan komitmen UOB dalam membangun masa depan Asia Tenggara melalui fokus pada pendidikan, anak-anak, dan seni.
Baca juga: Melihat dari Dekat Jejak Transformasi dan Kontribusi UOB di Indonesia
Untuk diketahui, beasiswa tersebut akan mendanai pendidikan selama empat tahun di Singapura, mulai dari tingkat Secondary 3 hingga akhir tahun kedua Junior College.
Selain menanggung biaya pendidikan dan biaya hidup, program ini juga memberikan kesempatan kepada penerima beasiswa untuk menjalani program magang di UOB.
Upaya serupa juga hadir melalui SingCham Uplifting Scholarship 2026 yang kembali diluncurkan Singapore Chamber of Commerce (SingCham) Indonesia setelah pertama kali hadir pada 2025.
Pada 2026, program beasiswa tersebut memperluas jangkauan penerima, tidak hanya bagi mahasiswa di Jabodetabek, tetapi juga pelajar dari kampus berbasis di Bandung.
Sebanyak 13 mahasiswa akan menerima dana pendidikan, sedangkan 50 kandidat terpilih akan mendapatkan kesempatan terhubung dengan perusahaan sponsor, salah satunya adalah UOB Indonesia.
Program tersebut tidak hanya memberikan bantuan pendidikan, tetapi juga membuka akses mahasiswa terhadap jejaring profesional regional melalui mentoring, pelatihan, dan koneksi dengan perusahaan multinasional.
“Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh dukungan finansial, tetapi juga pengalaman pengembangan diri, mulai dari penulisan esai hingga proses wawancara, yang dinilai penting untuk membangun keterampilan dan kepercayaan diri sebelum memasuki dunia kerja regional,” jelas Luke.
Baca juga: Pengelolaan Terukur dan Berkelanjutan, UOB Plaza Raih Sertifikat Bangunan Hijau GBCI
Lebih jauh, inisiatif ini tidak hanya berbicara soal akses, tetapi juga konektivitas. Terlebih, menurut laporan bertajuk ”Labor Migration in Asia: Trends, Skills Certification, and Seasonal Work” yang disusun ILO, ADB, dan OECD (2024), permintaan tenaga kerja terampil meningkat seiring transformasi industri, digitalisasi, dan perubahan demografi.
“Pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, melainkan juga pembangunan peradaban. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci agar generasi emas 2045 benar-benar lahir dan mampu membawa Indonesia menuju bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,” kata Abdul Mu’ti.
Di tengah persaingan kawasan yang semakin terbuka, pendidikan dan konektivitas regional menjadi bekal penting agar bonus demografi Indonesia benar-benar berubah menjadi kekuatan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya