BrandzView
Konten ini merupakan Kerjasama Kompas.com dengan Musim Mas

Musim Mas Raih Mahayuga Award 2026 sebagai Pelopor Industri Hijau

Kompas.com, 20 Agustus 2026, 15:45 WIB
Anissa Dea,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Perusahaan kelapa sawit terintegrasi, Musim Mas, meraih Mahayuga Award 2026 dari Garuda TV untuk kategori Pelopor Industri Hijau.

Penghargaan tersebut diberikan kepada perusahaan yang dinilai mampu membangun daya saing untuk masa depan melalui kinerja bisnis serta kontribusi positif bagi lingkungan dan generasi mendatang.

Mahayuga Award 2026 diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia Mohammad Jumhur Hidayat bersama Rektor Universitas Indonesia (UI) Heri Hermansyah kepada Direktur Utama Musim Mas Gunawan Siregar dalam rangkaian acara Mahayuga Award 2026 di Jakarta, Minggu (9/8/2026).

Gunawan mengatakan, penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi dan pengingat bahwa pembangunan industri berkelanjutan membutuhkan konsistensi, inovasi, dan kolaborasi.

“Kami menerima penghargaan ini dengan rasa syukur. Bagi kami, penghargaan ini bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan dorongan untuk terus belajar, berinovasi, dan berkelanjutan,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (20/8/2026).

Gunawan melanjutkan, pihaknya percaya bahwa pertumbuhan industri harus berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

Baca juga: Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender

Dorong industri yang lebih bertanggung jawab

Musim Mas, imbuh Gunawan, menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang. Untuk itu, perusahaan mengembangkan sejumlah inisiatif yang mencakup produksi berkelanjutan, pengurangan emisi, perlindungan lingkungan, serta pemberdayaan pekebun dan masyarakat.

Musim Mas tercatat sebagai perusahaan kelapa sawit pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Perusahaan juga menjadi salah satu pelaku industri sawit dengan target pengurangan emisinya yang telah divalidasi oleh Science Based Targets initiative (SBTi).

Untuk mendukung transisi menuju energi dengan emisi lebih rendah, Musim Mas turut mengembangkan dan mengoperasikan fasilitas penangkapan metana atau methane capture serta biogas di sejumlah wilayah operasionalnya.

Fasilitas itu mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya serta mengurangi emisi dari kegiatan operasional.

Musim Mas mengembangkan dan mengoperasikan fasilitas penangkapan metana atau methane capture serta biogas di sejumlah wilayah operasionalnya guna mendukung transisi menuju energi dengan emisi lebih rendah. dok. Musim Mas Musim Mas mengembangkan dan mengoperasikan fasilitas penangkapan metana atau methane capture serta biogas di sejumlah wilayah operasionalnya guna mendukung transisi menuju energi dengan emisi lebih rendah.

Saat ini, sebanyak 17 pabrik pengolahan kelapa sawit Musim Mas telah dilengkapi fasilitas methane capture. Dengan jumlah tersebut, Musim Mas Group menjadi perusahaan besar pertama di industri kelapa sawit yang berkomitmen memperluas proyek tersebut ke pabrik-pabriknya.

Pada tingkat rantai pasok, perusahaan menjalankan program pemberdayaan pekebun swadaya melalui pelatihan, peningkatan produktivitas, penerapan praktik pertanian berkelanjutan, serta penguatan keterlacakan rantai pasok.

Program tersebut diarahkan untuk membantu pekebun meningkatkan produktivitas dan ketahanan usaha serta mendorong praktik perkebunan yang lebih bertanggung jawab.

Baca juga: IPB University dan Musim Mas Renovasi Ruang Publik

Komitmen perusahaan terhadap transparansi dan pengelolaan perubahan iklim juga memperoleh pengakuan melalui pencapaian CDP A List selama tiga tahun berturut-turut.

CDP A List sendiri adalah peringkat tertinggi dari Carbon Disclosure Project (CDP) bagi perusahaan, kota, atau wilayah dalam hal transparansi lingkungan dan aksi nyata mengatasi perubahan iklim, keamanan air, dan deforestasi.

Mahayuga Award libatkan panel dari berbagai bidang

Anugerah Mahayuga Garuda TV merupakan penghargaan bagi individu, institusi, organisasi, ataupun tokoh yang dinilai memberikan kontribusi, inovasi, dan pengabdian bagi kemajuan bangsa serta pembangunan nasional.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Anugerah Mahayuga menghadirkan delapan kategori penghargaan, yaitu Satria Penggerak Sosial; Peduli Tata Kelola, Sosial, dan Lingkungan; Satria SDM Emas; Penggerak Transisi Energi; Pelopor Industri Hijau; Garda Ketahanan & Kedaulatan; Satria Penjaga Alam; serta Lifetime Achievement.

Penilaiannya melibatkan sejumlah pihak, antara lain pemimpin redaksi, pakar komunikasi, dan rektor perguruan tinggi negeri.

Wakil Rektor Universitas Indonesia Ahmad Gamal, yang menjadi salah satu panelis, mengatakan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk dukungan moral Garuda TV kepada para pelaku perubahan di bidang sosial dan lingkungan.

Ia juga menilai, para kandidat yang mengikuti penilaian memiliki rekam jejak panjang dalam memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia.

Bagi Musim Mas, pengakuan tersebut menjadi dorongan untuk terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan serta mencari pendekatan baru untuk meningkatkan dampak positif kegiatan perusahaan.

Baca juga: Musim Mas Dukung Percepatan ISPO untuk Pekebun Swadaya

“Kami menyadari, masih banyak hal yang perlu kami lakukan dan perbaiki. Penghargaan ini justru menjadi pengingat agar kami tidak berhenti pada apa yang sudah dicapai, tetapi terus mencari cara untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat, lingkungan, dan industri,” kata Gunawan.

Ke depan, Musim Mas akan terus menjalankan kegiatan usaha secara bertanggung jawab dengan menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari perjalanan jangka panjang untuk membangun industri sawit yang lebih tangguh, inklusif, dan bertanggung jawab.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau