Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mandatori B50 Rentan Terganggu Konflik Geopolitik

Kompas.com, 6 April 2026, 15:05 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Indonesia perlu berhati-hati dalam pemberlakuan mandatori B50 atau  campuran 50 persen biodiesel atau bahan bakar nabati berbasis sawit ke dalam solar mulai Rabu (1/7/2026) nanti.

Implementasi mandatori B50 berisiko terganjal jika perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran berkepanjangan.

Indonesia belum sepenuhnya mandiri dalam memproduksi biodiesel, karena hingga saat ini masih mengimpor sejumlah komponen kunci.

Baca juga: Biodiesel B50 Berlaku 1 Juli 2026, Airlangga: Kurangi Penggunaan BBM Berbasis Fosil

Bahan baku tersebut mencakup methanol dan katalis, seperti sodium methylate (NaOCH3), yang diproduksi oleh industri petrokimia global dan sebagian diimpor dari kawasan Timur Tengah.

"Masalahnya methanol dan katalis itu produk dari petrokimia industri petrokimia dan itu lebih banyak kita peroleh dari impor. Nah, salah satunya juga dari kilang-kilang yang ada di Arab Saudi, UEA (Uni Emirat Arab), di daerah berkonflik ini gitu. Nah ada potensi keterhambatan produk itu sampai di sini dan potensi kenaikan harga juga," ujar Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Dimas H. Pamungkas kepada Kompas.com, Rabu (1/4/2026).

Seorang staf menunjukkan sampel biodiesel di stan pameran pada ajang 21st Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11/2025). ANTARA Seorang staf menunjukkan sampel biodiesel di stan pameran pada ajang 21st Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11/2025).

Menurut Dimas, kenaikan campuran bauran biodiesel dari B40 ke B50 perlu memperhatikan kemandirian industri untuk methanol dan katalis.

Secara teknis, produksi biodiesel merupakan proses konversi berbasis reaksi transesterifikasi yang tidak hanya bergantung pada ketersediaan minyak kelapa sawit (crude palm oil / CPO). Methanol dan katalis berbasis sodium methylate menjadi komponen kunci yang bersifat kritikal dalam produksi biodiesel.

Ketergantungan Struktural

Berdasarkan laporan Outlook Industri Sawit Indonesia Q2 yang diterbitkan IPOSS, dalam proses transesterifikasi, setiap pengolah 1 ton CPO membutuhkan sekitar 0,15–0,16 ton methanol dan 0,016 ton katalis berbasis sodium methylate.

Dibutuhkan 2,5 juta ton methanol dan 0,26 juta ton katalis berbasis sodium methylate untuk mengolah 16 juta ton CPO untuk menjadi biodiesel.

Selain peningkatan kebutuhan CPO, kenaikan bauran biodiesel dari B40 ke B50 juga mendorong lonjakan kebutuhan methanol dan katalis berbasis sodium methylate masing-masing sekitar 18-19 persen.

Baca juga: Mandatori Biodiesel B50 Ditunda, Ini Alasan Tak Perlu Buru-buru

Ketergantungan terhadap komponen non-CPO bukan bersifat marginal, melainkan struktural dalam sistem produksi biodiesel di Indonesia.

Indonesia mengimpor methanol dari industri petrokimia global berbasis gas. Sedangkan katalis berbasis sodium methylate diimpor Indonesia dari perusahaan kimia multinasional di kawasan Timur Tengah, China, serta Eropa.

Bahkan, industri biodiesel Indonesia masih mengimpor hampir seluruh kebutuhan katalis berbasis sodium methylate, dengan volume mencapai lebih dari 140 ribu ton per tahun. Imbasnya, meningkatkan eksposur terhadap risiko fluktuasi harga dan gangguan pasokan global.

Industri biodiesel di Indonesia juga memasok sebagian kebutuhan katalis berbasis sodium methylate dari kawasan Timur Tengah, terutama melalui hub petrokimia di Al Jubail, Arab Saudi.

Ketergantungan struktural tersebut dapat mempengaruhi keberlanjutan produksi biodiesel di Indonesia, karena rantai pasok biodiesel terhubung dengan kawasan rentan konflik, yaitu Selat Hormuz — yang saat ini menjadi salah satu titik krusial dalam dinamika geopolitik global.

Apalagi, belum terdapat alternatif katalis yang bisa menggantikan sodium methylate secara ekonomis dan teknis pada skala industri.

Baca juga: Menuju B50, Produksi Biodiesel Nasional Masih Kurang 2 Juta KL

"Dengan demikian, ketergantungan Indonesia tidak hanya bersifat geografis, tetapi juga struktural. Diversifikasi pasokan dari Eropa maupun China tidak menghilangkan ketergantungan, melainkan hanya menggeser sumber risiko dalam sistem global yang sama," demikian keterangan dalam laporan Outlook Industri Sawit Indonesia Q2 yang diterbitkan IPOSS.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau