Penulis
KOMPAS.com - Perusahaan Malaysia didorong untuk dapat untuk dapat memberikan dampak berarti dalam inisiatif lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), lebih dari sekadar kepatuhan dan fokus pada kinerja yang terukur.
Hal ini ditegaskan Direktur Eksekutif UN Global Compact Network, Malaysia and Brunei, Faroze Nadar pada ESG Summit yang digelar The Star Media Group pada 6-7 November 2024 di Malaysia.
Dalam pemaparannya bertajuk "Humanising Sustainability: Growing Humanising Sustainability: Growing The Talent pool for ESG Impact", Faroze mengingatkan target kinerja utama bukanlah mencapai net-zero pada tahun 2050 melainkan juga untuk mencegah kenaikan suhu global lebih dari 1,5 derajat Celcius pada tahun 2030, sebagaimana ditetapkan dalam Perjanjian Paris.
Faroze mengatakan kinerja terdiri dari sejumlah komponen termasuk orang, proses, produk, dan kepemimpinan.
Menyoroti aspek talenta, dia menambahkan, perusahaan membutuhkan empat jenis talenta keberlanjutan dalam sebuah organisasi untuk mendorong dampak dan perubahan yang berarti. Keempatnya adalah ahli strategi, komunikator, sponsor, dan ahli teknologi.
“Selain itu, saya percaya bisnis yang berkelanjutan membutuhkan empat elemen kunci. Pertama, harus menguntungkan. Tanpa keuntungan, Anda tidak memiliki elemen kedua yaitu kekuatan; kekuatan untuk mengambil keputusan," jelasnya.
“Namun, keputusan dan kekuatan yang dimiliki perusahaan harus didasarkan pada aspek keberlanjutannya yang menjadi materi bagi perusahaan,” katanya.
“Keputusan ini juga harus didorong oleh para pemimpin dan orang-orang yang memahami nilai keberlanjutan,” catatnya.
Aspek lain yang perlu dipertimbangkan adalah terkait dengan peluncuran kerangka peraturan untuk mendukung ekonomi energi hijau.
Untuk tujuan ini, IBM Envizi Asia Pacific Sustainability Leader Asia Pasifik, Sachin Gupta mengatakan pemerintah perlu mendorong lebih banyak kebijakan yang bersifat lintas batas negara.
Baca juga: Skor ESG di S&P Meningkat, BRI Jadi Pemimpin Keberlanjutan di Sektor Perbankan
Dia menyampaikan, ini sebagian besar ekonomi telah berfokus pada kebutuhan energi negara mereka sendiri dan membuat peraturan berdasarkan itu. "Namun, energi hijau, baik dari sumber hidro, matahari, atau nuklir, kini semakin menjadi masalah yang bersifat lintas batas," jelasnya.
Selain itu, Sachin menambahkan bahwa kerangka kerja baru harus mencakup indikator kinerja dan bukan hanya metrik ESG.
“Fokusnya harus pada bagaimana listrik diproduksi dan didistribusikan. Ketika mengevaluasi hasil kinerja penggunaan sumber energi tertentu, penting untuk mempertimbangkan dampak dunia nyata daripada hanya menandakan kepatuhan ESG,” tegasnya.
Selain itu, Sachin mengatakan penting juga agar kerangka kerja tersebut ramah konsumen dan melindungi hak konsumen.
“Terakhir, ini juga harus lebih selaras dan tidak seperti kerangka kerja ESG berbelit-belit lainnya yang sulit dipahami. Kerangka kerja harus dirancang sedemikian rupa sehingga seluruh ekonomi dapat memahami dan bertransaksi satu sama lain dengan cara yang lebih sederhana,” katanya.
Yang pasti, kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) memainkan peran penting dalam meningkatkan efisiensi energi dengan menyediakan pemantauan waktu nyata, mengoptimalkan konsumsi energi, dan memungkinkan pengelolaan sumber daya energi yang lebih tepat.
Ini, pada akhirnya, mengarah pada pengurangan limbah dan peningkatan keberlanjutan di berbagai sektor.
Sachin mengatakan sebagian besar sumber energi terbarukan saat ini adalah matahari dan hidro yang sangat tidak dapat diprediksi, dipengaruhi oleh cuaca serta kecepatan dan arah angin.
“AI dan IoT digunakan untuk menyesuaikan cara panel surya dan turbin angin bergerak, memastikan mereka diposisikan dan bergerak pada kecepatan yang tepat untuk memaksimalkan produksi energi," ujarnya.
“Dalam hal distribusi, AI mampu melakukan pelacakan real time yang efisien terhadap pasokan dan permintaan energi serta mencocokkan keduanya, terutama di seluruh periode yang bervariasi seperti siang dan malam," jelas Sachin.
Baca juga: Bagaimana Satelit Bantu Pantau Inisiatif ESG di Berbagai Industri?
“Demikian pula, di sisi konsumsi, AI mampu menganalisis pola konsumsi terperinci dan mengidentifikasi area di mana konsumen dapat lebih hemat energi,” pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di The Star dengan judul: "Performance, talent key to sustainability targets"
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya