Lalu, stres terkait iklim pun juga telah dikaitkan dengan komplikasi kehamilan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, polusi udara diketahui dapat meningkatkan kemungkinan tekanan darah tinggi selama kehamilan, berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, dan dampak negatif pada perkembangan otak dan paru-paru janin.
Baca juga: Perubahan Iklim Ubah Laguna Pesisir Jadi Lebih Asin, Restorasi Jadi Solusi
Sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan di Environment International menemukan pula badai hebat, seperti siklon dan angin topan, dapat memicu kelahiran dini, karena faktor-faktor seperti peningkatan stres, kontaminasi lingkungan, dan gangguan layanan kesehatan.
Lebih lanjut, meski perubahan iklim berdampak pada semua orang, risiko kesehatan terbesar di alami oleh masyarakat yang terpinggirkan.
"Populasi berpendapatan rendah yang memiliki akses lebih sedikit terhadap layanan kesehatan akan mengalami kerugian dalam segala hal," kata Howie Wu, asisten profesor ilmu kesehatan lingkungan di Universitas Columbia.
Misalnya saja, individu yang tidak memiliki akses terhadap AC dan tempat teduh lebih rentan terhadap komplikasi akibat panas.
Kendati telah menyimpulkan hasil studi, para ahli menekankan bahwa masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk memahami bagaimana perubahan iklim memengaruhi kehamilan dan perkembangan janin.
“Sangat penting untuk memikirkan hulu dan hilir dalam siklus kehidupan reproduksi ibu hamil. Dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk benar-benar memahami semuanya,” kata Mahalingaiah.
sumber https://time.com/7285515/climate-change-impact-healthy-pregnancy/
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya