Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Pengaruhi Kesehatan Ibu Hamil

Kompas.com, 20 Mei 2025, 17:33 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber TIME

KOMPAS.com-Suhu ekstrem akibat perubahan iklim telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk heatstroke, dehidrasi, dan masalah pernapasan.

Namun ada kelompok orang yang memiliki risiko lebih besar terkena dampak dampak dari suhu ekstrem tersebut, yakni ibu hamil.

Analisis dari Climate Central yang dipublikasikan pada tanggal 14 Mei menemukan bahwa panas ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim menimbulkan risiko berbahaya bagi kesehatan ibu hamil dan bayi yang dilahirkan.

Antara tahun 2020 hingga 2024, rata-rata jumlah hari lebih panas yang berisiko bagi kehamilan meningkat dua kali lipat di 222 negara.

Hari lebih panas yang berisiko bagi kehamilan ini mengacu pada hari-hari dengan suhu maksimum yang lebih tinggi dari 95 persen suhu yang pernah tercatat di lokasi tertentu dan suhu ekstrem ini dianggap meningkatkan risiko komplikasi kehamilan.

Peningkatan terbesar itu terjadi terutama di daerah berkembang dengan akses terbatas ke perawatan kesehatan, termasuk Karibia, sebagian Amerika Tengah dan Selatan, dan Afrika sub-Sahara.

Baca juga: BRIN: Perubahan Iklim Picu Peningkatan Sebaran Penyakit Menular

“Ibu hamil dan janinnya lebih rentan terhadap perubahan terkait iklim, terutama karena panas dan suhu ekstrem,” kata Shruthi Mahalingaiah, profesor madya bidang lingkungan, reproduksi, dan kesehatan perempuan di Harvard T.H. Chan School of Public Health, dikutip dari Time, Selasa (20/5/2025).

Dalam hal suhu ekstrem, seseorang yang sedang hamil mungkin tidak dapat mengatur suhu dengan cara yang sama seperti seseorang yang tidak hamil.

“Ini karena tubuh ibu hamil sudah mengalami perubahan besar untuk mengakomodasi janin, dan lebih sulit untuk mengatur dan terutama mendinginkan lingkungan janin ke kisaran yang sehat,” katanya.

Suhu ekstrem ini membuat ibu hamil berisiko lebih besar mengalami kondisi berisiko tinggi seperti preeklamsia dan diabetes gestasional.

Ini juga menurut Anna Bonell, asisten profesor di London School of Hygiene & Tropical Medicine dapat memengaruhi perkembangan janin.

Janin tidak memiliki kapasitasnya sendiri untuk mengatur suhunya, dan kita tahu bahwa sebagian besar perkembangan organ janin sensitif terhadap suhu.

Beberapa penelitian telah mengaitkan paparan suhu panas ekstrem dengan peningkatan risiko cacat lahir termasuk cacat tabung saraf seperti spinal bifida.

"Janin juga bisa memiliki risiko kelahiran prematur, ukuran badan lebih kecil serta kelainan bawaan ketika terpapar suhu panas ekstrem," ungkap Bonell.

Penelitian tahun 2024 yang diterbitkan oleh jurnal JAMA Network Open menemukan bahwa tingkat kelahiran prematur dan kelahiran dini meningkat ketika suhu lokal sangat panas selama lebih dari empat hari berturut-turut.

Lalu, stres terkait iklim pun juga telah dikaitkan dengan komplikasi kehamilan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, polusi udara diketahui dapat meningkatkan kemungkinan tekanan darah tinggi selama kehamilan, berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, dan dampak negatif pada perkembangan otak dan paru-paru janin.

Baca juga: Perubahan Iklim Ubah Laguna Pesisir Jadi Lebih Asin, Restorasi Jadi Solusi

Sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan di Environment International menemukan pula badai hebat, seperti siklon dan angin topan, dapat memicu kelahiran dini, karena faktor-faktor seperti peningkatan stres, kontaminasi lingkungan, dan gangguan layanan kesehatan.

Lebih lanjut, meski perubahan iklim berdampak pada semua orang, risiko kesehatan terbesar di alami oleh masyarakat yang terpinggirkan.

"Populasi berpendapatan rendah yang memiliki akses lebih sedikit terhadap layanan kesehatan akan mengalami kerugian dalam segala hal," kata Howie Wu, asisten profesor ilmu kesehatan lingkungan di Universitas Columbia.

Misalnya saja, individu yang tidak memiliki akses terhadap AC dan tempat teduh lebih rentan terhadap komplikasi akibat panas.

Kendati telah menyimpulkan hasil studi, para ahli menekankan bahwa masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk memahami bagaimana perubahan iklim memengaruhi kehamilan dan perkembangan janin.

“Sangat penting untuk memikirkan hulu dan hilir dalam siklus kehidupan reproduksi ibu hamil. Dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk benar-benar memahami semuanya,” kata Mahalingaiah.

sumber https://time.com/7285515/climate-change-impact-healthy-pregnancy/

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Pemerintah
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Swasta
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Pemerintah
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Pemerintah
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
Pemerintah
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Swasta
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
BrandzView
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
LSM/Figur
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
Pemerintah
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
LSM/Figur
MagnaMinds Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Pendidikan Inklusif di Sulawesi Utara
MagnaMinds Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Pendidikan Inklusif di Sulawesi Utara
Swasta
Bebani Listrik, Pusat Data di Asia Pasifik Kini Diperketat
Bebani Listrik, Pusat Data di Asia Pasifik Kini Diperketat
Pemerintah
Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim
Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
BPOM dan PYFA Kolaborasi Kejar 'Net Zero Carbon', Hubungkan Kesehatan Manusia dan Bumi
BPOM dan PYFA Kolaborasi Kejar "Net Zero Carbon", Hubungkan Kesehatan Manusia dan Bumi
Swasta
Kita Salah Menghitung Risiko
Kita Salah Menghitung Risiko
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau