"Pertama karena peralatan yang mereka beli sebagian besar berupa baja dan aluminium yang intensif karbon saat diproduksi. Kedua selama operasi, militer sangat mobile. Dan untuk bergerak mereka menggunakan bahan bakar fosil, baik itu untuk operasi di darat, laut atau udara," kata Lennard de Klerk, dari Initiative on the GHG Accounting of War.
Namun kurangnya transparansi dan kerahasiaan operasional militer menjadi penghalang besar untuk mengetahui jumlah pasti emisi gas rumah kaca yang mereka hasilkan.
Akibatnya, para ilmuwan hanya bisa membuat perkiraan berdasarkan data yang relatif terbatas, terutama yang berasal dari negara-negara anggota NATO.
Para peneliti memperingatkan bahwa emisi besar dari pembangunan militer NATO tidak hanya memperparah krisis iklim tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi yang substansial, diperkirakan mencapai 264 miliar dollar AS per tahun, berdasarkan konsep biaya sosial karbon.
Dan itu hanya sebagian kecil dari biaya karbon sebenarnya dari militerisasi.
Analisis juga mencatat pengeluaran lebih banyak uang untuk militer juga mengurangi sumber daya yang tersedia untuk kebijakan yang bertujuan mengurangi perubahan iklim.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya