Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aksi Muda Jaga Iklim, Ajak Anak Muda Tanam Pohon hingga Transplantasi Karang

Kompas.com, 31 Mei 2025, 19:33 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam rangka menuju peringatan Aksi Muda Jaga Iklim (AMJI), komunitas Penjaga Laut Indonesia mengajak anak muda ikut menanam mangrove, memungut sampah, hingga transplantasi karang.

Ketua Umum Penjaga Laut Indonesia, Aurelia Salsabila, yang akrab disapa Susan menjelaskan bahwa AMJI telah dilakukan sejak 2021.

Selama empat tahun belakangan, telah melaksanakan aksi di 2.225 titik seluruh Indonesia. Setidaknya, ada 126.192 anak muda yang terlibat dalam aksi tersebut.

"Ada 436 kolaborator sudah kerja sama bareng-bareng sama kami. Kemudian kami sudah menanam dan juga membagikan bibit mangrove dan pohon sebanyak 112.630 bibit. Kami mengumpulkan sekitar 61.815 kilo sampah," ungkap Susan dalam acara yang digelar di Tebet Eco Park, Jakarta Selatan, Sabtu (31/5/2025).

Baca juga: 70 Persen Anak Muda Pilih Perusahaan yang Peduli Lingkungan

Selain itu, Penjaga Laut Indonesia mengadopsi serta mentransplantasi 3.564 karang hingga melepasliarkan 160 tukik dalam kurun waktu 2021-2024. Aksi ini rencananya akan kembali dilakukan di 2025, dengan tema Aksi Kecil untuk Perubahan Besar. Puncaknya digelar pada 28 Oktober 2025. 

"Nanti kami kolaborasi sama komunitas. Beberapa data aksi yang sudah kita lihat dari tahun-tahun sebelumnya ada kegiatan penanaman, clean up, kampanye, workshop lingkungan, transportasi karang. Kemudian juga ada pembagian bibit dan juga kelepasan tukik. Jadi teman-teman kolaborator bisa melakukan kegiatan-kegiatan ini," papar Susan.

Susan menuturkan bahwa kegiatan komunitasnya tak terbatas aksi di lautan saja, melainkan ikut berkontribusi pada isu iklim.

"Isu yang ada di aksi muda jaga iklim ini ada sampah, ekosistem, edukasi, kemudian kesadaran sosial, dan keadilan lingkungan, kanekeragaman hayati, karbon, dan juga deforestasi," imbuh dia.

Baca juga: Anak Muda Butuh Ruang Hijau, Mampukah Kota Masa Depan Menjawabnya?

Gerakan Pemuda

Pada kesempatan tersebut, Founder Ocean Young Guards Foundation, Aidin Fitrah Bachtiar, turut membagikan pengalamannya membangun komunitas yang berfokus pada isu kalautan. Mulanya, Aidin mengaku tergerak lantaran motivasi dari sang dosen saat berkuliah. 

"Awal mulanya kami ada dua gerakan. Pertama, kami melihat bahwa anak-anak sebenarnya sangat mudah untuk kita bisa terapkan namanya long lasting. Hal-hal yang biasanya mereka lakukan sehari-hari kalau ternyata mereka sudah dibekali dengan tentang environment, tentang jaga laut," papar dia.

Komunitasnya juga menjangkau masyarakat pesisir seperti nelayan. Kata Aidan, nelayan sangat bergantung dengan iklim untuk mengkap ikan. Perubahan iklim menyebabkan banyak nelayan kerap tak bisa melaut.

"Kami mau coba untuk bagaimana melihat konservasi laut menjadi alternatif mereka. Jadi kami coba mulai untuk bisa menjembatani mereka, terutama dari mangrove planting," jelas Aidan.

"Karena mangrove planting juga merupakan penyerapan karbon yang efektif. Jadi di Cirebon awal mulanya, saya bergerak untuk grassroots lebih dahulu untuk mengajak masyarakat lokalnya," imbuh dia.

Baca juga: Studi: Sampah Jadi Isu Lingkungan Paling Penting bagi Anak Muda

Dari situlah Aidan bersama komunitas menerapkan hal yang sama ke wilayah lain. Selain konsevrasi mangrove, pihaknya pun melakukan transplantasi karang serta menanam lamun.

"Kami juga melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya ecotourism, menonjolkan bahwa lautan adalah laboratorium alam. Jadi kita bisa belajar di alam, kami bisa mengajak adik-adik, mahasiswa, atau siapapun," tutur dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau