Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanggul Laut Raksasa Berisiko Tinggi, Libatkan Masyarakat Sejak Awal

Kompas.com, 15 Juli 2025, 15:18 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Proyek tanggul laut raksasa atau Great Giant Sea Wall yang dirancang membentang sepanjang 700 kilometer di pesisir utara Jawa dinilai menyimpan risiko besar terhadap ekosistem laut dan kehidupan sosial masyarakat pesisir.

Jika tidak direncanakan secara matang, proyek ini dikhawatirkan akan menimbulkan lebih banyak masalah daripada manfaat.

Yonvitner, Kepala Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University, mengingatkan bahwa pembangunan tanggul berskala besar berpotensi menghambat akses masyarakat dan merusak habitat laut.

“Aktivitas reklamasi dan pengerukan yang menyertainya dapat meningkatkan kekeruhan perairan, menghancurkan tempat hidup ikan, serta mematikan ekosistem mangrove bila aliran air tawar dan laut terganggu,” ujar Yonvitner dalam keterangan tertulis di laman IPB University, Selasa (15/7/2025).

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kondisi ini tentu akan berdampak langsung pada kehidupan nelayan.

Baca juga: Pembangunan Sembarangan di Luar Kawasan Lindung Ancam Biodiversitas

Oleh sebab itu, menurut Yonvitner, pelibatan masyarakat menjadi krusial untuk mencegah munculnya persoalan sosial baru di kawasan pesisir. Masyarakat harus diajak terlibat, dilatih, dan diberdayakan.

Ia menekankan bahwa pembangunan infrastruktur pesisir tidak bisa hanya bertumpu pada teknologi beton semata.

Keberhasilan proyek harus dilandasi pendekatan Integrated Coastal Management (ICM) yang menyeluruh, mulai dari pemetaan risiko, perencanaan fungsi kawasan, hingga pelibatan seluruh pemangku kepentingan.

“Giant Sea Wall bukan sekedar beton raksasa. Ada kawasan yang perlu pendekatan green dan blue technology, seperti penanaman mangrove, rumah apung, dan transportasi laut,” jelasnya.

Yonvitner juga menyoroti pentingnya desain yang disesuaikan dengan karakteristik lokal.

Pesisir Jawa Tengah, misalnya, memiliki banyak area labil dibandingkan pesisir selatan yang relatif lebih stabil. Karena itu, aspek kedalaman, kekuatan, dan bentuk bangunan harus dirancang presisi.

Ia menilai bahwa tanpa pemahaman teknis yang utuh dari pemerintah daerah, proyek ini akan sulit diimplementasikan dengan benar. Padahal, di negara lain, pendekatan ICM hanya berhasil jika pemerintah lokal memahami seluruh detail pembangunan di wilayahnya.

Baca juga: Pembangunan Tanggul Laut Dinilai Bakal Sulitkan Nelayan

Di sisi lain, tantangan proyek ini juga tidak kecil. Biaya pembangunan yang besar, koordinasi antar lembaga, hingga rendahnya literasi masyarakat pesisir jadi kendala tersendiri.

Namun, Yonvitner menilai proyek Giant Sea Wall tetap menyimpan potensi untuk mengurangi abrasi, banjir rob, dan melindungi lahan pertanian di kawasan pantura yang vital bagi ketahanan pangan nasional.

Karena itu, ia menegaskan pentingnya keterlibatan peran masyarakat, akademisi, dan pemerintah. Literasi publik soal proyek ini juga harus diperkuat agar seluruh pihak dapat mengambil bagian dalam mencegah dampak negatif.

“Jangan sampai proyek besar ini menimbulkan kerusakan ekosistem tanpa hasil yang bisa dinikmati masyarakat,” pungkasnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau