KOMPAS.com - Wimbledon, turnamen tenis tertua di dunia, kini juga menjadi salah satu yang paling hijau.
Penyelenggaranya, The All England Lawn Tennis Club (AELTC), berkomitmen pada keberlanjutan dan menerapkannya di semua aspek operasional mereka untuk mengatasi perubahan iklim.
Komitmen mereka untuk mengurangi dampak lingkungan terlihat dari target karbon yang ambisius yakni bertekad mencapai nol emisi karbon dari operasional mereka pada tahun 2030.
Target ini mencakup dekarbonisasi penuh pada bangunan dan seluruh aktivitas di lokasi, yang mencerminkan investasi jangka panjang dalam infrastruktur dan perubahan perilaku, misalnya praktik pengelolaan limbah sehari-hari.
Baca juga: Industri Olahraga Dukung Pengukuran Karbon yang Akurat
Meskipun terlihat ambisius, rencana Wimbledon ini sejalan dengan target iklim internasional. Ini juga menunjukkan bagaimana institusi atau organisasi yang sudah lama berdiri dapat beradaptasi dan berkembang dengan urgensi serta tujuan yang jelas.
Wimbledon dan IBM bahkan sedang bermitra untuk memantau emisi karbon yang dihasilkan oleh acara turnamen tersebut.
Mengutip Sustainability Magazine, Selasa (15/7/2025), Wimbledon juga sedang beralih ke model sirkular dengan mengupayakan agar turnamennya nol sampah pada 2030.
Artinya, semua material akan didaur ulang atau digunakan kembali. Saat ini, mereka sudah mendaur ulang 85 persen sampah dan tidak ada yang dibuang ke TPA, sisanya diubah jadi energi.
AELTC berkomitmen untuk meningkatkan keanekaragaman hayati di area Wimbledon dengan merestorasi habitat, membuat atap hijau, dinding hidup, dan menanam lebih banyak pohon.
Upaya ini juga membantu kawasan tersebut menjadi lebih tahan iklim sesuai rencana jangka panjang Wimbledon.
Wimbledon juga memanfaatkan status globalnya untuk menginspirasi perubahan positif di luar turnamen.
Baca juga: Liverpool FC Kurangi Emisi Sebesar 89 Persen, Beri Contoh bagi Dunia Olahraga
Mereka mengadakan Hari Lingkungan, bekerja sama dengan berbagai pihak, dan membagikan pengalaman mereka untuk mendorong tindakan keberlanjutan yang lebih luas di bidang olahraga dan masyarakat, sejalan dengan tujuan PBB.
Meski upaya ini mulai menunjukkan hasilnya, beberapa kendala masih ada.
Perjalanan penonton menyumbang 84 persen dari total 35.894 ton emisi CO2e (setara karbon dioksida) yang dihasilkan turnamen. Ini adalah tantangan yang rumit untuk diatasi tanpa memengaruhi jumlah kehadiran penonton.
Selain itu meskipun semua sampah tidak dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA), pembakaran untuk energi masih melepaskan gas rumah kaca dan memerlukan inovasi lebih lanjut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya