KOMPAS.com - Aktivitas manusia seperti penggembalaan dan pertanian telah menyebabkan erosi parah di Pegunungan Alpen, menghilangkan hampir semua lapisan tanah yang terbentuk secara alami sejak zaman gletser.
Tanah yang terbentuk perlahan selama ribuan tahun dari proses alam ini seharusnya menjadi fondasi ekosistem pegunungan yang kaya karbon bagi ekosistem pegunungan.
“Kita menghancurkan tanah dengan kecepatan empat hingga 10 kali lebih cepat daripada pertumbuhannya,” kata William Rapuc dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis, dikutip dari New Scientist, Jumat (18/7/2025).
Dalam studinya, peneliti menganalisis isotop litium pada sedimen Danau Bourget di Alpen Prancis untuk memahami sejarah erosi tanah selama 10.000 tahun.
Baca juga: Pertanian Hijau Terbukti Tingkatkan Biodiversitas dan Panen, Tapi Butuh Subsidi
Isotop litium ini bisa menunjukkan apakah tanah di area tersebut sedang terbentuk atau justru terkikis.
Para peneliti kemudian membandingkan data erosi tanah dari sedimen danau dengan data iklim dan aktivitas manusia. Mereka menemukan bahwa selama ribuan tahun pertama, erosi disebabkan oleh iklim.
Namun, sekitar 3.800 tahun lalu, ada perubahan yang menunjukkan bahwa sejak saat itu, aktivitas manusialah yang menjadi penyebab utama erosi.
Penelitian menunjukkan ada tiga fase utama erosi tanah di Alpen yang disebabkan oleh manusia.
Pertama, penggembalaan ternak di dataran tinggi (3.800-3.000 tahun lalu). Kedua, pertanian di dataran rendah (2.800-1.600 tahun lalu). Dan ketiga, pertanian intensif dengan alat-alat modern (1.600 tahun lalu hingga sekarang).
Akibatnya, tanah di Alpen semakin terkikis oleh angin dan air, mengurangi kemampuannya untuk menumbuhkan tanaman.
Menurut peneliti, perubahan besar 3.800 tahun lalu menandai era "Antroposen tanah" di mana manusia mulai mendominasi perubahan tanah.
Baca juga: Pemakaian AI Melesat, Pertanian Asia Pasifik Bakal Lebih Adaptif Iklim
"Namun, pengaruh masa lalu terhadap tanah ini tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang bisa kita lakukan sekarang," kata Rapuc.
Daniel Rath dari Natural Resources Defense Council memberikan gambarannya. Misalnya saja yang terjadi di AS, di mana dampak manusia terhadap tanah (Antroposen tanah) baru dimulai beberapa abad lalu, namun laju kehilangan tanah kini 1000 kali lebih cepat dibandingkan sebelum zaman es terakhir.
Ini menunjukkan bahwa aktivitas pertanian kita secara mendasar mengubah proses pembentukan dan perkembangan tanah.
Studi dipublikasikan di PNAS.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya