Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ribuan Tahun Terbentuk, Tanah Alpen Habis dalam Hitungan Abad oleh Manusia

Kompas.com, 22 Juli 2025, 17:03 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Aktivitas manusia seperti penggembalaan dan pertanian telah menyebabkan erosi parah di Pegunungan Alpen, menghilangkan hampir semua lapisan tanah yang terbentuk secara alami sejak zaman gletser.

Tanah yang terbentuk perlahan selama ribuan tahun dari proses alam ini seharusnya menjadi fondasi ekosistem pegunungan yang kaya karbon bagi ekosistem pegunungan.

“Kita menghancurkan tanah dengan kecepatan empat hingga 10 kali lebih cepat daripada pertumbuhannya,” kata William Rapuc dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis, dikutip dari New Scientist, Jumat (18/7/2025).

Dalam studinya, peneliti menganalisis isotop litium pada sedimen Danau Bourget di Alpen Prancis untuk memahami sejarah erosi tanah selama 10.000 tahun.

Baca juga: Pertanian Hijau Terbukti Tingkatkan Biodiversitas dan Panen, Tapi Butuh Subsidi

Isotop litium ini bisa menunjukkan apakah tanah di area tersebut sedang terbentuk atau justru terkikis.

Para peneliti kemudian membandingkan data erosi tanah dari sedimen danau dengan data iklim dan aktivitas manusia. Mereka menemukan bahwa selama ribuan tahun pertama, erosi disebabkan oleh iklim.

Namun, sekitar 3.800 tahun lalu, ada perubahan yang menunjukkan bahwa sejak saat itu, aktivitas manusialah yang menjadi penyebab utama erosi.

Penelitian menunjukkan ada tiga fase utama erosi tanah di Alpen yang disebabkan oleh manusia.

Pertama, penggembalaan ternak di dataran tinggi (3.800-3.000 tahun lalu). Kedua, pertanian di dataran rendah (2.800-1.600 tahun lalu). Dan ketiga, pertanian intensif dengan alat-alat modern (1.600 tahun lalu hingga sekarang).

Akibatnya, tanah di Alpen semakin terkikis oleh angin dan air, mengurangi kemampuannya untuk menumbuhkan tanaman.

Menurut peneliti, perubahan besar 3.800 tahun lalu menandai era "Antroposen tanah" di mana manusia mulai mendominasi perubahan tanah.

Baca juga: Pemakaian AI Melesat, Pertanian Asia Pasifik Bakal Lebih Adaptif Iklim

"Namun, pengaruh masa lalu terhadap tanah ini tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang bisa kita lakukan sekarang," kata Rapuc.

Daniel Rath dari Natural Resources Defense Council memberikan gambarannya. Misalnya saja yang terjadi di AS, di mana dampak manusia terhadap tanah (Antroposen tanah) baru dimulai beberapa abad lalu, namun laju kehilangan tanah kini 1000 kali lebih cepat dibandingkan sebelum zaman es terakhir.

Ini menunjukkan bahwa aktivitas pertanian kita secara mendasar mengubah proses pembentukan dan perkembangan tanah.

Studi dipublikasikan di PNAS.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau