Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

China Terbitkan Katalog Baru Proyek Keuangan Hijau

Kompas.com, 9 Agustus 2025, 15:38 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

Sumber ESG Today

KOMPAS.com – Regulator keuangan Tiongkok menerbitkan Katalog Proyek Keuangan Hijau sebagai upaya untuk kategorisasi kegiatan ekonomi yang memenuhi syarat pendanaan hijau.

Katalog ini diterbitkan bersama oleh Bank Rakyat Tiongkok (PBOC), Badan Regulasi Keuangan Nasional, dan Komisi Regulasi Sekuritas Tiongkok dan akan mulai berlaku pada 1 Oktober 2025.

Sistem baru tersebut bisa dipakai untuk pendanaan hijau yang bersumber dari berbagai produk keuangan, seperti obligasi dan pinjaman hijau. Namun katalog ini tidak mencakup pembiayaan berbasis ekuitas atau pembiayaan melalui pasar modal.

Baca juga: Maybank Indonesia Targetkan Penyaluran Green Financing Rp 3 Triliun

“Ini untuk meningkatkan likuiditas pasar keuangan hijau, meningkatkan efisiensi pengelolaan aset, dan mengurangi biaya identifikasi proyek,” tulis PBOC sebagaimana dikutip dari ESG Today, Sabtu (9/8/2025).

PBOC juga menyatakan bahwa dokumen ini sekaligus untuk mengkonsolidasikan berbagai standar pembiayaan hijau yang sebelumnya terpisah-pisah.

Cakupan Kategori Diperluas

Berbeda dengan standar yang berlaku saat ini, katalog baru memperluas cakupan kategori proyek.

Daftar tersebut meliputi konservasi energi dan pengurangan karbon, perlindungan lingkungan, daur ulang sumber daya, transisi energi hijau dan rendah karbon.

Lainnya adalah perlindungan dan restorasi ekologi, peningkatan infrastruktur hijau, serta layanan, perdagangan, dan konsumsi hijau

Salah satu tambahan penting adalah kategori “perdagangan hijau” dan “konsumsi hijau” yang mencerminkan fokus pada seluruh rantai nilai, tidak hanya tahap produksi.

Ada pula kategori sekunder baru, yakni “transisi hijau dan rendah karbon dari sektor industri utama”, untuk memfasilitasi pembiayaan dekarbonisasi industri yang sulit dikurangi emisinya.

Baca juga: Penyaluran Green Financing Implementasi Climate Finance di Indonesia

Berdasarkan analisis Sustainable Fitch, katalog baru ini sebagian, namun belum sepenuhnya, selaras dengan standar internasional seperti ICMA Green Enabling Project Guidelines.

Perbedaan antara lain pada kualifikasi kegiatan green-enabling yang lebih longgar, serta metode penentuan kelayakan proyek.

“Kami yakin katalog yang diperbarui dapat mengarahkan arus modal menuju lebih banyak kegiatan dekarbonisasi industri dan produksi lokal teknologi hijau. Hal ini sejalan dengan ambisi Tiongkok untuk memperkuat posisi kuncinya dalam rantai pasokan global,” tulis Sustainable Fitch dalam analisanya.

Penerbitan katalog ini berlangsung di tengah tren sejumlah negara yang mengembangkan taksonomi keuangan berkelanjutan, seperti Australia, Uni Eropa, Singapura, Hong Kong, Kanada, dan India.

Sebaliknya, Inggris baru-baru ini memutuskan untuk menghentikan rencana pengembangan taksonomi hijaunya sendiri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau