Editor
KOMPAS.com – Regulator keuangan Tiongkok menerbitkan Katalog Proyek Keuangan Hijau sebagai upaya untuk kategorisasi kegiatan ekonomi yang memenuhi syarat pendanaan hijau.
Katalog ini diterbitkan bersama oleh Bank Rakyat Tiongkok (PBOC), Badan Regulasi Keuangan Nasional, dan Komisi Regulasi Sekuritas Tiongkok dan akan mulai berlaku pada 1 Oktober 2025.
Sistem baru tersebut bisa dipakai untuk pendanaan hijau yang bersumber dari berbagai produk keuangan, seperti obligasi dan pinjaman hijau. Namun katalog ini tidak mencakup pembiayaan berbasis ekuitas atau pembiayaan melalui pasar modal.
Baca juga: Maybank Indonesia Targetkan Penyaluran Green Financing Rp 3 Triliun
“Ini untuk meningkatkan likuiditas pasar keuangan hijau, meningkatkan efisiensi pengelolaan aset, dan mengurangi biaya identifikasi proyek,” tulis PBOC sebagaimana dikutip dari ESG Today, Sabtu (9/8/2025).
PBOC juga menyatakan bahwa dokumen ini sekaligus untuk mengkonsolidasikan berbagai standar pembiayaan hijau yang sebelumnya terpisah-pisah.
Berbeda dengan standar yang berlaku saat ini, katalog baru memperluas cakupan kategori proyek.
Daftar tersebut meliputi konservasi energi dan pengurangan karbon, perlindungan lingkungan, daur ulang sumber daya, transisi energi hijau dan rendah karbon.
Lainnya adalah perlindungan dan restorasi ekologi, peningkatan infrastruktur hijau, serta layanan, perdagangan, dan konsumsi hijau
Salah satu tambahan penting adalah kategori “perdagangan hijau” dan “konsumsi hijau” yang mencerminkan fokus pada seluruh rantai nilai, tidak hanya tahap produksi.
Ada pula kategori sekunder baru, yakni “transisi hijau dan rendah karbon dari sektor industri utama”, untuk memfasilitasi pembiayaan dekarbonisasi industri yang sulit dikurangi emisinya.
Baca juga: Penyaluran Green Financing Implementasi Climate Finance di Indonesia
Berdasarkan analisis Sustainable Fitch, katalog baru ini sebagian, namun belum sepenuhnya, selaras dengan standar internasional seperti ICMA Green Enabling Project Guidelines.
Perbedaan antara lain pada kualifikasi kegiatan green-enabling yang lebih longgar, serta metode penentuan kelayakan proyek.
“Kami yakin katalog yang diperbarui dapat mengarahkan arus modal menuju lebih banyak kegiatan dekarbonisasi industri dan produksi lokal teknologi hijau. Hal ini sejalan dengan ambisi Tiongkok untuk memperkuat posisi kuncinya dalam rantai pasokan global,” tulis Sustainable Fitch dalam analisanya.
Penerbitan katalog ini berlangsung di tengah tren sejumlah negara yang mengembangkan taksonomi keuangan berkelanjutan, seperti Australia, Uni Eropa, Singapura, Hong Kong, Kanada, dan India.
Sebaliknya, Inggris baru-baru ini memutuskan untuk menghentikan rencana pengembangan taksonomi hijaunya sendiri.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya