Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

SPKLU Masih Langka, 23 Persen Pengguna Mobil Listrik Minta Penambahan dan Perbaikan

Kompas.com, 14 Agustus 2025, 20:06 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) yang belum merata dikeluhkan banyak pengguna mobil listrik di Indonesia.

Berdasarkan hasil survei 'Potensi dan Tantangan Mobil Listrik di Indonesia dari Persepsi Pengguna' dari agensi public relations dan public affair, Praxis, sebesar 23 persen responden menyarankan peningkatan SPKLU secara kuantitas maupun kualitas.

"Data spesifik menunjukkan SPKLU masih menjadi saran terbesar yang perlu untuk segera diperbaiki," ujar Head of Research Praxis, Garda Maharsi, di Jakarta, Kamis (14/8/2025).

Survei itu juga menyebut, SPKLU resmi menjadi lokasi pengisian daya baterai di luar rumah paling digemari responden atau sebesar 42 persen. Sisanya, responden mengisi daya baterai mobil listriknya di tempat kerja sebesar 40 persen; mal 9 persen; charging station dealer 4 persen; serta pom bensin/rest area 5 persen.

Temuan survei itu mengungkap, sebesar 57 persen responden menyebut lokasi SPKLU terdekat berada dalam radius 3-5 kilometer dari rumah. Survei dari Praxis ini digelar dari 7 Februari hingga 7 Juli 2025 dengan melibatkan 1.200 pengguna mobil listrik dari 20 merek berbeda di 12 kota besar di Indonesia.

Baca juga: Hanya Sedikit Orang Indonesia Beli Mobil Listrik Demi Atasi Perubahan Iklim

PLN Bangun SPKLU Center

Menanggapi hal itu, Vice President Teknologi dan Inkubasi Produk Niaga PT PLN, Nuraida Puspitasari mengatakan, perusahaannya terus berupaya memperluas jaringan SPKLU dan menambah fasilitasnya untuk mendukung pertumbuhan pengguna mobil listrik di Indonesia.

PLN saat ini sudah membangun sekitar 4.100 SPKLU dari total target 5.000 untuk tahun 2025. PLN mempertimbangkan jumlah pengguna mobil listrik dalam pembangunan SPKLU di suatu daerah. Untuk daerah-daerah agak pelosok, PLN menyediakan SPKLU di kantor-kantornya.

Sedangkan daerah-daerah padat, khususnya Jakarta yang banyak pengguna mobil listriknya, permasalahan yang dihadapi PLN adalah keterbatasan lahan. PLN menyiasati masalah keterbatasan lahan dengan menggandeng berbagai mitra.

"Jadi, memang kami masih mencoba mencari metode yang pas untuk memperluas ketersediaan SPKLU ini," tutur Nuraida.

Selain itu, PLN akan meluncurkan SPKLU Center dengan kapasitas 10 hingga 20 slot sekaligus. Beberapa SPKLU Center akan hadir mulai Agustus 2025, lengkap dengan fasilitas tambahan seperti ruang tunggu nyaman bagi pengguna.

Setiap SPKLU Center akan dilengkapi charger berstandar minimal fast charger 50 kW ke atas. Namun, juga tetap menyediakan charger AC untuk mengakomodasi berbagai jenis kendaraan listrik.

“Jadi ketika teman-teman nunggu, enggak digigit nyamuk gitu. Nonton beberapa film,” ucapnya.

Baca juga: PLN Siapkan SPKLU Besar, Bisa Tampung 20 Mobil Listrik

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau