KOMPAS.com - Sebuah studi mengungkapkan kondisi kekeringan hanya memberikan dampak minimal pada pohon-pohon tropis.
Tetapi, riset baru menunjukkan bahwa perubahan iklim kini mengancam keseimbangan ekosistem tersebut.
Temuan ini berdasarkan studi yang dipimpin oleh Wageningen University Belanda dan melibatkan University of Birmingham Inggris terhadap lebih dari 20.000 seri cincin pohon dari hampir 500 lokasi di 36 negara, dengan data yang dikumpulkan sejak tahun 1930.
Data cincin pohon dikumpulkan di 483 lokasi yang tersebar di seluruh wilayah tropis mulai dari hutan Amazon yang basah dan hangat, hingga hutan kering di Afrika bagian selatan dan hutan pegunungan yang lebih dingin di Asia.
Dalam studi ini, peneliti menentukan tahun-tahun terkering sejak 1930 untuk semua lokasi. Kemudian, mereka menghitung seberapa jauh cincin pohon menyempit selama tahun-tahun tersebut dibandingkan dengan tahun-tahun normal.
Baca juga: Melihat Desa Wisata Samtama, Warga Kelola Sampah hingga Tanam Pohon di Gang Sempit
Pohon menyerap CO2 dari atmosfer melalui proses fotosintesis. Sebagian dari CO2 ini disimpan di batang pohon selama puluhan tahun. Penyimpanan karbon jangka panjang di hutan tropis ini dapat membantu mitigasi perubahan iklim.
Akan tetapi pertumbuhan batang pohon biasanya melambat selama periode kekeringan, yang menyebabkan lebih sedikit CO2 yang tersimpan di dalam kayu.
“Hingga saat ini, kami tidak tahu seberapa jauh penurunan pertumbuhan batang pohon di hutan tropis selama kekeringan. Cincin pohon adalah alat yang sangat baik untuk mengukurnya, karena cincin itu menyimpan arsip pertumbuhan pohon selama abad terakhir," ungkap Profesor Pieter Zuidema dari Wageningen University & Research dan penulis utama studi.
"Dengan jaringan data cincin pohon yang baru ini, untuk pertama kalinya kami dapat menghitung dampak kekeringan terhadap pertumbuhan batang pohon di seluruh wilayah tropis,” katanya lagi.
Peneliti menghitung secara rata-rata di seluruh wilayah tropis, pertumbuhan pohon menurun 2,5 persen selama tahun-tahun kekeringan dibandingkan dengan tahun-tahun dengan curah hujan normal atau di atas rata-rata. Penurunan pertumbuhan ini sebagian besar hilang di tahun setelah kekeringan.
Peneliti juga memperkirakan bahwa setiap tahun kekeringan dapat menyebabkan sekitar 0,1 persen kematian pohon tambahan, yang mengakibatkan emisi CO2 tambahan dari kayu mati yang membusuk.
Angka 0,1 persen ini mungkin terlihat tidak signifikan, tetapi jika dijumlahkan di seluruh wilayah tropis dunia, jumlah CO2 yang dilepaskan signifikan. Diperlukan waktu puluhan tahun sebelum jumlah tersebut dapat diserap kembali melalui pertumbuhan pohon.
Baca juga: Ikut Lestarikan Lingkungan, Peruri Serahkan Bibit Pohon ke Pemkab Karawang
Namun, para peneliti juga memperingatkan bahwa dampak kekeringan yang jauh lebih kuat di tingkat lokal akan memburuk seiring berjalannya perubahan iklim, dan kemungkinan besar telah menyebabkan meningkatnya tingkat kematian pohon.
“Kolaborasi penelitian global ini menunjukkan betapa tangguhnya pohon-pohon terhadap kondisi iklim. Pohon-pohon tropis ini telah bertahan dari kondisi kekeringan selama hampir 300 tahun dan menunjukkan kemampuan yang luar biasa untuk pulih dalam satu tahun setelah kekeringan,” kata Dr. Bruno B L Cintra dari University of Birmingham, salah satu penulis studi ini.
"Namun ada risiko nyata bahwa perubahan iklim dapat memengaruhi bagaimana pohon-pohon menjalankan peran protektifnya. Hal ini bisa memiliki dampak signifikan pada total emisi global," terangnya lagi, dikutip dari laman resmi University of Birmingham, Jumat (1/8/2025).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya