Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KKP Pastikan Hanya Satu Sampel Udang Ekspor yang Tercemar Radioaktif

Kompas.com, 10 September 2025, 17:00 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan hanya satu sampel udang beku asal Indonesia yang terbukti tercemar radioaktif jenis cesium 137.

Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu) KKP, Ishartini, menjelaskan penemuan itu bermula dari pemeriksaan Food and Drug Administration (FDA) AS terhadap udang impor.

Udang beku ini merupakan kiriman dari PT Bahari Makmur Sejati (BMS) yang berlokasi di Cikande, Banten.

"Hanya terjadi pada lot-lot tertentu, jadi kontainer pengiriman tertentu saja. Tidak terjadi di tempat yang lain," kata Ishartini dikutip dari Instagram resmi Badan Mutu KKP, Rabu (10/9/2025).

Baca juga: Dinilai Tak Produktif, 78.550 Ha Tambak Udang di Pantura Bakal Diganti Budi Daya Tilapia

FDA menemukan kadar radiasi pada satu sampel udang sebesar 68 Bq/kg, jauh di bawah ambang batas internasional yakni 1.200 Bq/kg. Kendati demikian, Ishartini menyebut, FDA tetap menyetop ekspor udang beku.

"FDA tulis di situ bahwa apabila ini dikonsumsi dalam jangka panjang terus menerus akan membahayakan kesehatan. Sehingga diputuskan oleh FDA untuk memberikan red list untuk impor khusus yang diproduksi oleh PT BMS," tutur dia.

Alhasil, KKP bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendalami temuan radioaktif di hulu tambak. Hasilnya, tidak ditemukan adanya paparan cesium 137 di lokasi.

"Namun teman-teman dari Bapeten terjun ke lokasi industri Cikande dan di sana memang ditemukan ada paparan ya. Paparan di bagian-bagian luar dari pabrik pengolahan udang tersebut," ucap Ishartini.

Pihaknya menduga, radioaktif berasal dari industri di luar pabrik. Tim gabungan kemudian melokalisir area ini, dan menghentikan produksi udang olahan PT BMS.

Baca juga: Terobosan Baru, Limbah Udang Disulap Jadi Teknologi Penangkap Karbon

"Ditemukan ada waktu masuk di Amerika, satu sampel saja ditemukan 68 Bq. Jadi memang ada dalam kemasan udang beku ini," papar dia.

KKP bakal memperkuat sistem penjaminan mutu ekspor dengan menggandeng Bapeten dalam pengujian radioaktif. Lainnya, berkoordinasi dengan Bea Cukai, Balai Kesehatan, dan Balai Karantina guna memastikan keamanan produk perikanan sebelum masuk pasar internasional.

"Tentu langkah-langkah perbaikan kami lakukan nanti di pabrik, bagaimana proses dekontaminasi dan sebagainya akan kami awasi dengan ketat bersama Bapeten," terang Ishartini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau