Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Ancam Piala Dunia 2026, Stadion Tak Aman untuk Bertanding

Kompas.com, 10 September 2025, 19:40 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Peneliti memperingatkan, seiring berjalannya krisis iklim, sebagian besar dari 16 stadion yang akan digunakan untuk Piala Dunia FIFA 2026 kemungkinan akan melebihi batas suhu aman untuk melakukan pertandingan.

Mereka pun berpendapat bahwa turnamen yang akan berlangsung di Amerika Utara ini mungkin menjadi yang terakhir yang bisa diadakan dalam kondisi tersebut.

Laporan tersebut juga menjelaskan bagaimana sepak bola harus semakin beradaptasi dengan bahaya perubahan iklim seiring dengan semakin umumnya suhu ekstrem.

Kesimpulan tersebut merupakan hasil laporan baru dari Football for Future, Common Goal, dan Jupiter Intelligence.

Melansir Edie, Selasa (9/9/2025), laporan itu menyatakan bahwa hampir 90 persen dari lapangan sepak bola di Amerika Utara diprediksi akan memerlukan adaptasi agar tetap bisa digunakan pada tahun 2050.

Baca juga: Emisi Karbon Industri Sepak Bola Dunia Setara dengan Satu Negara

Selain itu, 14 dari 16 lapangan yang akan digunakan di Piala Dunia 2026 dapat melanggar batas suhu aman untuk bermain pada dekade ini.

Lebih dari separuh (11 dari 16 lapangan) diproyeksikan akan mengalami suhu di atas 35 derajat C. Suhu ini merupakan ambang batas yang ditetapkan oleh ilmuwan iklim Steven Sherwood dan Matthew Huber pada tahun 2010 sebagai batas kemampuan adaptasi manusia terhadap panas ekstrem.

Pada tahun 2050, sepertiga dari stadion ini juga akan memiliki kebutuhan air yang setara atau bahkan melebihi ketersediaan. Ini akan menjadi tantangan besar untuk menjaga kualitas lapangan dan memastikan kondisi bermain tetap baik.

Meskipun perhatian media terpusat pada stadion-stadion megah, para peneliti menegaskan bahwa fasilitas sepak bola di tingkat akar rumput akan mengalami dampak yang jauh lebih buruk.

Setiap lapangan yang dianalisis dalam laporan tersebut saat ini sudah melewati batas ambang untuk tidak layak dimainkan akibat berbagai ancaman.

Ini terutama terjadi di negara-negara Global South (negara-negara berkembang), di mana kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim paling lemah dan dampak fisik awal yang paling parah.

Di sana, lapangan-lapangan menghadapi rata-rata tujuh kali lebih banyak hari yang tidak layak untuk dimainkan akibat panas, dibandingkan dengan negara-negara Global North (negara-negara maju).

"Perubahan iklim bukan lagi ancaman yang jauh, melainkan sudah memengaruhi sepak bola secara langsung. Bahaya semakin meningkat, dan dampaknya tidak merata di semua tempat. Apabila pemain muda tidak lagi bisa bermain di lapangan yang aman dan layak di lingkungan mereka, maka seluruh masa depan olahraga ini terancam," ungkap Jérémy Houssin, pemimpin keberlanjutan lingkungan di Common Goal.

Baca juga: Bagaimana UEFA Membuat Sepak Bola Eropa Berkelanjutan?

Laporan juga menemukan adanya dukungan yang sangat besar terhadap keberlanjutan dalam sepak bola.

Dari 3.600 penggemar yang disurvei, 91 persen menyatakan bahwa Piala Dunia seharusnya menjadi contoh global dalam hal keberlanjutan. Persentase yang sama juga mengaku akan bangga jika klub favorit mereka mengambil langkah nyata terkait isu iklim.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau