KOMPAS.com - Peneliti memperingatkan, seiring berjalannya krisis iklim, sebagian besar dari 16 stadion yang akan digunakan untuk Piala Dunia FIFA 2026 kemungkinan akan melebihi batas suhu aman untuk melakukan pertandingan.
Mereka pun berpendapat bahwa turnamen yang akan berlangsung di Amerika Utara ini mungkin menjadi yang terakhir yang bisa diadakan dalam kondisi tersebut.
Laporan tersebut juga menjelaskan bagaimana sepak bola harus semakin beradaptasi dengan bahaya perubahan iklim seiring dengan semakin umumnya suhu ekstrem.
Kesimpulan tersebut merupakan hasil laporan baru dari Football for Future, Common Goal, dan Jupiter Intelligence.
Melansir Edie, Selasa (9/9/2025), laporan itu menyatakan bahwa hampir 90 persen dari lapangan sepak bola di Amerika Utara diprediksi akan memerlukan adaptasi agar tetap bisa digunakan pada tahun 2050.
Baca juga: Emisi Karbon Industri Sepak Bola Dunia Setara dengan Satu Negara
Selain itu, 14 dari 16 lapangan yang akan digunakan di Piala Dunia 2026 dapat melanggar batas suhu aman untuk bermain pada dekade ini.
Lebih dari separuh (11 dari 16 lapangan) diproyeksikan akan mengalami suhu di atas 35 derajat C. Suhu ini merupakan ambang batas yang ditetapkan oleh ilmuwan iklim Steven Sherwood dan Matthew Huber pada tahun 2010 sebagai batas kemampuan adaptasi manusia terhadap panas ekstrem.
Pada tahun 2050, sepertiga dari stadion ini juga akan memiliki kebutuhan air yang setara atau bahkan melebihi ketersediaan. Ini akan menjadi tantangan besar untuk menjaga kualitas lapangan dan memastikan kondisi bermain tetap baik.
Meskipun perhatian media terpusat pada stadion-stadion megah, para peneliti menegaskan bahwa fasilitas sepak bola di tingkat akar rumput akan mengalami dampak yang jauh lebih buruk.
Setiap lapangan yang dianalisis dalam laporan tersebut saat ini sudah melewati batas ambang untuk tidak layak dimainkan akibat berbagai ancaman.
Ini terutama terjadi di negara-negara Global South (negara-negara berkembang), di mana kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim paling lemah dan dampak fisik awal yang paling parah.
Di sana, lapangan-lapangan menghadapi rata-rata tujuh kali lebih banyak hari yang tidak layak untuk dimainkan akibat panas, dibandingkan dengan negara-negara Global North (negara-negara maju).
"Perubahan iklim bukan lagi ancaman yang jauh, melainkan sudah memengaruhi sepak bola secara langsung. Bahaya semakin meningkat, dan dampaknya tidak merata di semua tempat. Apabila pemain muda tidak lagi bisa bermain di lapangan yang aman dan layak di lingkungan mereka, maka seluruh masa depan olahraga ini terancam," ungkap Jérémy Houssin, pemimpin keberlanjutan lingkungan di Common Goal.
Baca juga: Bagaimana UEFA Membuat Sepak Bola Eropa Berkelanjutan?
Laporan juga menemukan adanya dukungan yang sangat besar terhadap keberlanjutan dalam sepak bola.
Dari 3.600 penggemar yang disurvei, 91 persen menyatakan bahwa Piala Dunia seharusnya menjadi contoh global dalam hal keberlanjutan. Persentase yang sama juga mengaku akan bangga jika klub favorit mereka mengambil langkah nyata terkait isu iklim.
Berdasarkan temuannya, laporan tersebut memberikan empat rekomendasi kepada komunitas sepak bola untuk memperbaiki situasi saat ini.
Pertama, laporan itu berpendapat bahwa semua badan pengelola harus berkomitmen untuk mencapai net-zero pada tahun 2040 dan mempublikasikan rencana dekarbonisasi yang kredibel agar sejalan dengan tindakan yang sedang dilakukan oleh institusi sepak bola terkemuka.
Selain itu, laporan merekomendasikan agar para penyelenggara turnamen menciptakan dana adaptasi dan mendorong komunitas untuk mengambil tindakan iklim.
Para pemain profesional juga diharapkan memanfaatkan pengaruh mereka untuk menggerakkan upaya perlindungan olahraga ini dari bahaya perubahan iklim.
Terakhir, para penggemar harus mengambil tindakan di tingkat akar rumput, misalnya dengan membentuk kelompok kerja keberlanjutan di klub lokal mereka untuk mendorong perubahan dalam dunia olahraga secara keseluruhan.
"Sekarang, sepak bola sudah memiliki arahan yang jelas, dukungan, dan mandat dari para penggemar untuk menjaga olahraga ini agar tetap ada untuk generasi mendatang," kata Houssin.
Baca juga: Terobosan Formula E, Olahraga Pertama dengan Sertifikasi Net Zero BSI
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya