Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IEA Proyeksikan Pertumbuhan Kuat Proyek Hidrogen Rendah Emisi

Kompas.com, 15 September 2025, 17:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan meski terjadi pembatalan proyek dan tantangan yang terus-menerus, produksi hidrogen rendah emisi diperkirakan akan mengalami ekspansi atau perluasan yang cukup besar hingga tahun 2030.

Dalam laporan "Tinjauan Hidrogen Global 2025", IEA melaporkan bahwa permintaan hidrogen di seluruh dunia meningkat hingga hampir 100 juta ton pada tahun 2024.

Jumlah ini naik 2 persen dari tahun 2023 dan sejalan dengan pertumbuhan permintaan energi secara keseluruhan.

Hampir seluruh kebutuhan hidrogen ini dipenuhi oleh hidrogen yang diproduksi dari bahan bakar fosil tanpa adanya tindakan untuk menangkap emisi yang menyertainya.

Sektor-sektor yang secara tradisional paling banyak menggunakan hidrogen, seperti pengilangan minyak dan industri, tetap menjadi konsumen terbesar.

Namun, mengutip Power Engineering International, Jumat (12/9/2025) produksi hidrogen rendah emisi, meskipun jumlahnya masih kurang dari 1 persen dari total produksi global, sedang mengalami pertumbuhan.

Baca juga: Indonesia Bisa Jadi Eksportir Hidrogen Bersih, Ada 4 Penentu Kesuksesannya

Produksinya naik 10 persen pada tahun 2024 dan diperkirakan akan mencapai 1 juta ton pada tahun 2025.

Berdasarkan proyek-proyek yang saat ini sudah beroperasi atau telah mencapai keputusan investasi akhir, produksi diperkirakan akan mencapai 4,2 juta ton per tahun, meningkat lima kali lipat dari produksi tahun 2024.

Namun, berdasarkan proyek-proyek yang telah diumumkan, potensi produksi hidrogen rendah emisi pada tahun 2030 dapat mencapai 37 juta ton per tahun.

Jumlah itu sedikit menurun dari perkiraan 49 juta ton yang diperkirakan dalam laporan tinjauan sebelumnya.

Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA mengungkapkan bahwa minat investor terhadap hidrogen melonjak pada awal dekade ini berkat potensinya untuk membantu negara-negara mencapai target energi mereka.

"Data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan teknologi hidrogen baru berada di bawah tekanan karena tantangan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan, tetapi kami masih melihat tanda-tanda kuat bahwa perkembangannya terus berjalan secara global," katanya.

Lebih lanjut, Laporan Global Hydrogen Review juga menyoroti bahwa secara global, memproduksi hidrogen dari bahan bakar fosil masih jauh lebih murah.

Kesenjangan biaya dengan produksi hidrogen rendah emisi tetap menjadi penghalang utama bagi pengembangan proyek. Namun, kesenjangan ini diperkirakan akan menyempit.

Di China, hidrogen dari energi terbarukan bisa menjadi kompetitif dari segi biaya pada tahun 2030 berkat biaya teknologi dan biaya modal yang rendah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau