Ambang batas 5 persen sendiri dianggap sebagai "massa kritis" yang memungkinkan infrastruktur, rantai pasokan, dan teknologi untuk menjadi matang. Kondisi ini akan memungkinkan pertumbuhan pesat (eksponensial) dalam penggunaan bahan bakar nol-emisi.
Gagal mencapai target ini dapat membahayakan tujuan yang lebih besar dari sektor ini, yaitu target netralitas karbon pada tahun 2050.
Baca juga: Kilang Methanol Hijau Pertama di Dunia Beroperasi, Siap Kurangi Emisi Pelayaran
"Meskipun kesepakatan Kerangka Kerja Netral Karbon (Net Zero Framework) IMO merupakan keberhasilan diplomasi multilateral yang besar, kami merasa momentum industri belum mencapai level yang diperlukan," ungkap Jesse Fahnestock, direktur dekarbonisasi di Global Maritime Forum.
"Apabila IMO memberikan insentif bagi pihak-pihak yang berani menjadi yang pertama menggunakan bahan bakar nol-emisi yang skalabel, hal itu akan sangat berperan dalam menyelaraskan pasokan, permintaan, dan pendanaan, sehingga tujuan 2030 bisa tercapai," terangnya.
Laporan ini pun mendesak industri untuk mendukung insentif bagi mereka yang lebih dulu mengadopsi SZEF, meningkatkan kesadaran akan risiko bagi kapal yang tidak mematuhi aturan, dan mendorong kebijakan di tingkat nasional dan regional untuk mengisi celah yang mungkin tidak tercakup dalam kerangka kerja IMO.
Saat ini, industri pelayaran menyumbang sekitar 3 persen dari total emisi gas rumah kaca (GRK) global.
Tanpa tindakan mendesak, emisi dari industri ini diperkirakan akan meningkat tajam seiring dengan perkiraan perdagangan global yang akan meningkat empat kali lipat pada tahun 2050.
Baca juga: Transisi Energi, Sektor Perkapalan Bisa Merugi 11 M Dollar AS
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya