Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim, Pulau Kecil Tenggelam dan Perlu Mitigasi Berbasis Lokal

Kompas.com, 23 September 2025, 10:31 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kawasan Indonesia bagian Timur merupakan wajah negara kepulauan dan hotspot keanekaragaman hayati. Krisis iklim telah mengganggu kehidupan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil di kawasan Indonesia bagian timur.

Krisis iklim mengakibatkan kenaikan muka air laut, pemutihan karang, anomali cuaca, serta abrasi pantai.

"Krisis iklim apa sih dampaknya? Seperti karang memutih yang saya temukan di Kabupaten Bulukumba, Pulau Liukangloe," ujar Direktur Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia, Nirwan Dessibali, dalam webinar Ancaman di Kawasan Timur Indonesia; Solusi Adaptasi & Mitigasi Krisis Iklim, Kamis (18/9/2025).

Kenaikan muka air laut mengakibatkan banjir terjadi di Pulau Langkai — di gugusan Kepulauan Spermonde, perairan Selat Makassar — dalam tiga tahun terakhir. Kasus banjir tersebut juga merupakan contoh dampak abrasi di pulau-pulau kecil.

"Di dalam Pulau Langkai sudah terjadi banjir. Ini terjadi di musim-musim tertentu, khususnya di puncak musim barat ataupun puncak musim timur. Pulau kecil tenggelam (di kawasan Indonesia bagian timur juga) sudah banyak, ratusan," tutur Nirwan.

Namun, masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil di kawasan Indonesia bagian timur telah lama mengembangkan mekanisme tradisional yang mampu beradaptasi maupun memitigasi krisis iklim. Di antaranya, sasi, egek, sampai hutan panganreang.

Contoh adaptasi dan mitigasi krisis iklim

Menurut Nirwan, mekanisme adaptasi dan mitigasi krisis iklim dengan praktik-praktik lokal seperti sasi, egek, sampai hutan panganreang terbukti ampuh dalam membangun ketahanan masyarakat pesisir.

Misalnya, pengelolaan sistem buka tutup dalam penangkapan gurita di perairan Pulau Langkai dan Lanjukang, Kota Makassar. Sistem tersebut bertujuan menjaga keberlanjutan sumber daya laut dengan menerapkan pola penutupan wilayah peairan dalam periode tertentu.

Hasilnya, peningkatan tutupan ekosistem terumbu karang sebesar 10-15 persen dan peningkatan ekonomi masyarakat pesisir hingga 56,6 persen. Ini karena gurita yang ditangkap nelayan lebih besar, sehingga dapat dijual harga lebih mahal untuk tambahan pendapatan.

Selain itu, mengurangi risiko nelayan saat melaut karena wilayah tangkapnya dekat dengan daratan pulau dan cuacanya bisa diprediksi.

Namun, kata dia, kebijakan pembangunan dan pemanfaatan sumber daya secara ekstraktif melalui pertambangan di sejumlah daerah kawasan Indonesia bagian timur berpotensi melemahkan ketahanan masyarakat pesisir terhadap krisis iklim.

"Dukungan terhadap praktik-praktik tradisional yang berkelanjutan dan penguatan ekonomi masyarakat adalah kunci untuk membangun ketahanan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia. Dengan demikian, ikan bakar di meja makan kita dapat tetap lestari dan masyarakat pesisir dapat terus hidup sejahtera di tengah krisis iklim," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau