KOMPAS.com - Kawasan Indonesia bagian Timur merupakan wajah negara kepulauan dan hotspot keanekaragaman hayati. Krisis iklim telah mengganggu kehidupan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil di kawasan Indonesia bagian timur.
Krisis iklim mengakibatkan kenaikan muka air laut, pemutihan karang, anomali cuaca, serta abrasi pantai.
"Krisis iklim apa sih dampaknya? Seperti karang memutih yang saya temukan di Kabupaten Bulukumba, Pulau Liukangloe," ujar Direktur Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia, Nirwan Dessibali, dalam webinar Ancaman di Kawasan Timur Indonesia; Solusi Adaptasi & Mitigasi Krisis Iklim, Kamis (18/9/2025).
Kenaikan muka air laut mengakibatkan banjir terjadi di Pulau Langkai — di gugusan Kepulauan Spermonde, perairan Selat Makassar — dalam tiga tahun terakhir. Kasus banjir tersebut juga merupakan contoh dampak abrasi di pulau-pulau kecil.
"Di dalam Pulau Langkai sudah terjadi banjir. Ini terjadi di musim-musim tertentu, khususnya di puncak musim barat ataupun puncak musim timur. Pulau kecil tenggelam (di kawasan Indonesia bagian timur juga) sudah banyak, ratusan," tutur Nirwan.
Namun, masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil di kawasan Indonesia bagian timur telah lama mengembangkan mekanisme tradisional yang mampu beradaptasi maupun memitigasi krisis iklim. Di antaranya, sasi, egek, sampai hutan panganreang.
Menurut Nirwan, mekanisme adaptasi dan mitigasi krisis iklim dengan praktik-praktik lokal seperti sasi, egek, sampai hutan panganreang terbukti ampuh dalam membangun ketahanan masyarakat pesisir.
Misalnya, pengelolaan sistem buka tutup dalam penangkapan gurita di perairan Pulau Langkai dan Lanjukang, Kota Makassar. Sistem tersebut bertujuan menjaga keberlanjutan sumber daya laut dengan menerapkan pola penutupan wilayah peairan dalam periode tertentu.
Hasilnya, peningkatan tutupan ekosistem terumbu karang sebesar 10-15 persen dan peningkatan ekonomi masyarakat pesisir hingga 56,6 persen. Ini karena gurita yang ditangkap nelayan lebih besar, sehingga dapat dijual harga lebih mahal untuk tambahan pendapatan.
Selain itu, mengurangi risiko nelayan saat melaut karena wilayah tangkapnya dekat dengan daratan pulau dan cuacanya bisa diprediksi.
Namun, kata dia, kebijakan pembangunan dan pemanfaatan sumber daya secara ekstraktif melalui pertambangan di sejumlah daerah kawasan Indonesia bagian timur berpotensi melemahkan ketahanan masyarakat pesisir terhadap krisis iklim.
"Dukungan terhadap praktik-praktik tradisional yang berkelanjutan dan penguatan ekonomi masyarakat adalah kunci untuk membangun ketahanan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia. Dengan demikian, ikan bakar di meja makan kita dapat tetap lestari dan masyarakat pesisir dapat terus hidup sejahtera di tengah krisis iklim," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya