Editor
KOMPAS.com — Universitas Brawijaya (UB) mendampingi peternak di Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, dalam mengolah limbah peternakan menjadi produk bernilai ekonomi melalui penerapan sistem produksi sirkular.
Pendampingan tersebut dilakukan dengan mengubah limbah ternak menjadi kompos organik dan pakan alternatif berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF). Program ini melibatkan dua mitra, yakni Kelompok Tani Lestari dan HIPAM Bina Mandiri.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Transformasi Teknologi dan Inovasi (PTTI) yang bertujuan mendorong hilirisasi hasil riset perguruan tinggi agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus mendukung praktik pertanian dan peternakan berkelanjutan.
Baca juga: Dari Bank Sampah hingga Maggot, Cara Warga Kebon Melati Kurangi Limbah dari Rumah
Kelompok Tani Lestari sebelumnya menghadapi persoalan penumpukan kotoran kambing yang mencapai sekitar 8 kilogram (kg) per hari dan berpotensi mencemari lingkungan.
Melalui pendampingan UB, limbah tersebut diolah menggunakan teknologi fermentasi tertutup berbasis bioaktivator EM4 dengan pengendalian suhu, kelembaban, dan aerasi.
Untuk meningkatkan kualitas kompos, tim UB menambahkan bahan organik lokal seperti sekam kopi. Hasil olahan tersebut kemudian dikemas dalam ukuran 5 kg dan 10 kg dengan label “Kompos KOHE Kotoran Kambing” dan dipasarkan ke pelaku usaha pertanian dan hortikultura di sekitar wilayah Malang.
Baca juga: Kurangi Sampah, Warga Koja Patungan Rp 500 Juta Bangun Budidaya Maggot
Sementara itu, HIPAM Bina Mandiri memanfaatkan kotoran unggas sebagai media budidaya maggot BSF. Larva yang dihasilkan memiliki kandungan protein tinggi dan digunakan sebagai pakan tambahan ternak unggas.
Pemanfaatan maggot BSF dinilai mampu meningkatkan efisiensi pakan serta memperbaiki kualitas telur, yang ditandai dengan cangkang lebih kokoh dan warna kuning telur yang lebih pekat. Produk telur tersebut kemudian dipasarkan sebagai unggulan lokal.
Selain pendampingan teknis, UB juga memperkuat kapasitas manajerial mitra melalui penyusunan standar operasional prosedur (SOP), pengemasan produk, serta strategi pemasaran.
Baca juga: Perjuangan Warga Koja Dirikan Budidaya Maggot, Solusi Kreatif Kurangi Sampah di Jakarta
Sebagai informasi, tim pengabdi UB dipimpin oleh Dr Panji Deoranto, STP, MP, dengan dukungan Prof Dr Ir Nur Hidayat, MP, Ika Atsari Dewi, STP, MP, dan Dr Irida Novianti, SPt, MAgrSc. Sejumlah mahasiswa pascasarjana turut terlibat dalam pelaksanaan program.
Penerapan sistem peternakan sirkular tersebut berdampak pada penurunan volume limbah ternak di Desa Babadan dan membuka peluang peningkatan pendapatan mitra hingga 20–30 persen.
“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah peternakan dapat dikelola menjadi sumber daya produktif yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan,” kata Dr Panji Deoranto.
Ketua Kelompok Tani Lestari, Edi Santoso, menyatakan pengolahan limbah tersebut membantu mengurangi pencemaran sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi peternak.
Hal senada disampaikan Ketua HIPAM Bina Mandiri, Hadi Triwibowo.
“Budidaya maggot tidak hanya mengurangi biaya pakan, tetapi juga meningkatkan kualitas telur yang kami produksi. Warga merasakan manfaat nyata, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan,”kata Hadi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya