Penulis
KOMPAS.com - Data terbaru menunjukkan bahwa beberapa wilayah, termasuk Asia Tengah, mencatat suhu terpanas sepanjang sejarah pada tahun 2025. Hal ini menurut analisis AFP berdasarkan data Program Copernicus milik Uni Eropa.
Secara global, 12 bulan terakhir diperkirakan menjadi periode terpanas ketiga sejak pencatatan modern dimulai, berada di bawah tahun 2024 dan 2023. Data sementara ini akan dikonfirmasi Copernicus dalam laporan tahunan pada awal Januari 2026, dilansir dari AFP, Jumat (2/1/2026).
Baca juga:
Namun, angka rata-rata global ini menutupi kondisi ekstrem di sejumlah wilayah. Ketika suhu daratan dan lautan digabungkan, lonjakan panas di beberapa wilayah tidak terlihat jelas. Padahal dampaknya cukup nyata bagi kehidupan manusia.
AFP melengkapi gambaran global dengan menganalisis data Copernicus secara mandiri. Analisis ini menggunakan model iklim, data dari sekitar 20 satelit, serta stasiun cuaca. Seluruh data mencakup kondisi dunia dari jam ke jam sejak 1970.
Hasilnya mengejutkan. Sepanjang 2025, setidaknya 120 rekor suhu bulanan tercatat di lebih dari 70 negara.
Semua negara di Asia Tengah mencatat rekor suhu tahunan tertinggi pada tahun 2025. Wilayah ini menjadi salah satu yang paling terdampak oleh kenaikan suhu ekstrem.
Tajikistan mencatat anomali suhu tertinggi di dunia. Negara pegunungan yang terkurung daratan ini mengalami suhu lebih dari tiga derajat celsius di atas rata-rata musim periode 1981–2010.
Kondisi tersebut cukup berat karena hanya 41 persen penduduknya memiliki akses air minum yang aman.
Rekor suhu bulanan di Tajikistan dipecahkan hampir sepanjang tahun. Sejak Mei hingga akhir tahun 2025, hanya bulan November 2025 yang tidak mencatat rekor baru.
Negara tetangga juga mengalami panas ekstrem. Kazakhstan, Iran, dan Uzbekistan mencatat suhu dua hingga tiga derajat celsius di atas rata-rata musiman.
Baca juga:
Wilayah Sahel atau Sahil di Afrika Barat dan Afrika Tengah juga mencatat rekor suhu baru. Beberapa negara seperti Mali, Niger, Nigeria, Burkina Faso, dan Chad mengalami kenaikan suhu antara 0,7 hingga 1,5 derajat Celsius di atas rata-rata musiman.
Nigeria mencatat 12 bulan terpanas sepanjang sejarah. Negara lain di wilayah ini mencatat periode terpanas keempat dalam catatan iklim mereka.
Ilmuwan dari jaringan World Weather Attribution (WWA) menyampaikan bahwa panas ekstrem semakin sering terjadi.
Dalam laporan tahunan mereka, WWA menyebut gelombang panas saat ini hampir 10 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan tahun 2015.
Sahil menjadi salah satu wilayah paling rentan terhadap kenaikan suhu. Banyak negara di wilayah ini sudah menghadapi konflik bersenjata, krisis pangan, dan kemiskinan luas. Panas ekstrem pun memperparah kondisi tersebut.
Baca juga: Panas Ekstrem Bikin 8.000 Spesies Terancam Punah, Amfibi dan Reptil Paling Rentan
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya