Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wilayah Ini Catat Rekor Suhu Terpanas Tahun 2025

Kompas.com, 2 Januari 2026, 09:48 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com -  Data terbaru menunjukkan bahwa beberapa wilayah, termasuk Asia Tengah, mencatat suhu terpanas sepanjang sejarah pada tahun 2025. Hal ini menurut analisis AFP berdasarkan data Program Copernicus milik Uni Eropa.

Secara global, 12 bulan terakhir diperkirakan menjadi periode terpanas ketiga sejak pencatatan modern dimulai, berada di bawah tahun 2024 dan 2023. Data sementara ini akan dikonfirmasi Copernicus dalam laporan tahunan pada awal Januari 2026, dilansir dari AFP, Jumat (2/1/2026).

Baca juga:

Namun, angka rata-rata global ini menutupi kondisi ekstrem di sejumlah wilayah. Ketika suhu daratan dan lautan digabungkan, lonjakan panas di beberapa wilayah tidak terlihat jelas. Padahal dampaknya cukup nyata bagi kehidupan manusia.

AFP melengkapi gambaran global dengan menganalisis data Copernicus secara mandiri. Analisis ini menggunakan model iklim, data dari sekitar 20 satelit, serta stasiun cuaca. Seluruh data mencakup kondisi dunia dari jam ke jam sejak 1970.

Hasilnya mengejutkan. Sepanjang 2025, setidaknya 120 rekor suhu bulanan tercatat di lebih dari 70 negara.

Asia Tengah pecahkan rekor suhu terpanas tahunan

Anomali suhu terpanas di dunia terjadi di Tajikistan

Semua negara di Asia Tengah mencatat rekor suhu tahunan tertinggi pada tahun 2025. Wilayah ini menjadi salah satu yang paling terdampak oleh kenaikan suhu ekstrem.

Tajikistan mencatat anomali suhu tertinggi di dunia. Negara pegunungan yang terkurung daratan ini mengalami suhu lebih dari tiga derajat celsius di atas rata-rata musim periode 1981–2010.

Kondisi tersebut cukup berat karena hanya 41 persen penduduknya memiliki akses air minum yang aman.

Rekor suhu bulanan di Tajikistan dipecahkan hampir sepanjang tahun. Sejak Mei hingga akhir tahun 2025, hanya bulan November 2025 yang tidak mencatat rekor baru.

Negara tetangga juga mengalami panas ekstrem. Kazakhstan, Iran, dan Uzbekistan mencatat suhu dua hingga tiga derajat celsius di atas rata-rata musiman.

Baca juga:

Sahil alami lonjakan panas signifikan

Wilayah Sahel atau Sahil di Afrika Barat dan Afrika Tengah juga mencatat rekor suhu baru. Beberapa negara seperti Mali, Niger, Nigeria, Burkina Faso, dan Chad mengalami kenaikan suhu antara 0,7 hingga 1,5 derajat Celsius di atas rata-rata musiman.

Nigeria mencatat 12 bulan terpanas sepanjang sejarah. Negara lain di wilayah ini mencatat periode terpanas keempat dalam catatan iklim mereka.

Ilmuwan dari jaringan World Weather Attribution (WWA) menyampaikan bahwa panas ekstrem semakin sering terjadi.

Dalam laporan tahunan mereka, WWA menyebut gelombang panas saat ini hampir 10 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan tahun 2015.

Sahil menjadi salah satu wilayah paling rentan terhadap kenaikan suhu. Banyak negara di wilayah ini sudah menghadapi konflik bersenjata, krisis pangan, dan kemiskinan luas. Panas ekstrem pun memperparah kondisi tersebut.

Baca juga: Panas Ekstrem Bikin 8.000 Spesies Terancam Punah, Amfibi dan Reptil Paling Rentan

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau