JAKARTA, KOMPAS.com – Penggunaan pestisida alami dari berbagai tumbuhan seperti tembakau, akar tuba, rerek, nimba, piretrum, selasih, hingga minyak atsiri dinilai ramah lingkungan dan bisa menjadi alternatif pengendalian hama.
Namun, mencampurkan berbagai bahan pestisida alami secara sembarangan justru bisa menimbulkan risiko. Hal ini diingatkan oleh Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Agus Kardinan.
“Petani sekarang sering mencampur bakterisida, fungisida, dan insektisida sekaligus agar lebih efektif. Padahal, belum tentu hasilnya baik. Harus dipastikan dulu apakah hasil campurannya sinergis, aditif, atau malah antagonis,” ujar Agus dalam webinar, Selasa (23/9/2025).
Baca juga: Pestisida Sintesis Ancam Anak dan Lingkungan, BRIN Sarankan yang Alami
Agus mencontohkan, pencampuran bahan dari lada putih dengan piretrum dapat meningkatkan daya racun hingga 10–20 kali lipat. Meski tampak efektif, kombinasi ini justru berbahaya. “Di dunia internasional, piretrum tidak boleh dicampur dengan piperonil butoksida (lada putih) karena sangat beracun,” jelasnya.
Menurut Agus, ada pula campuran bahan yang hanya bersifat aditif, seperti minyak cengkeh dan minyak sereh wangi. Untuk itu, petani perlu lebih bijak sebelum memadukan berbagai pestisida alami.
Meski begitu, Agus mengaku telah menemukan formula kombinasi yang terbukti aman sekaligus efektif. Campuran pestisida alami berbahan nimba, sereh wangi, dan minyak cengkeh mampu bekerja sebagai insektisida sekaligus fungisida.
“Tidak ada antagonisme di antara ketiganya. Hasil uji menunjukkan bisa membunuh serangga sekaligus anti jamur. Formula ini sudah dipatenkan dan ada pihak yang berminat mengembangkan lisensinya,” ungkapnya.
Agus menjelaskan, nimba banyak ditemukan di Pantura Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Pestisida alami dari nimba tidak langsung membunuh hama, tetapi membuat pergerakan hama melambat dan pertumbuhannya terganggu.
Baca juga: Hemat Pestisida dan Lahan, Tanaman Bioteknologi Dukung Keberlanjutan
“Daya rusaknya turun karena hama sakit. Bedanya, kalau di Indonesia, konsumen enggak suka sayuran yang daunnya bekas dimakan ulat. Sementara di luar negeri, justru itu dianggap sebagai bukti sayuran bebas pestisida sintetis,” jelasnya.
Adapun pestisida alami dari piretrum bekerja lebih cepat dibanding nimba. “Kalau nimba, hama hanya diam. Sedangkan piretrum membuat hama sangat aktif, kemudian kelelahan, sarafnya kejang-kejang, lalu lumpuh,” kata Agus.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya