KOMPAS.com – Residu pestisida sintetis kini menjadi ancaman besar bagi kesehatan manusia sekaligus kelestarian lingkungan.
Berdasarkan penelitian Universitas Diponegoro, pencemaran pestisida sintesis menyebabkan 90 persen siswa di sebuah SD di Kabupaten Brebes terinfeksi kelenjar tiroid. Kondisi ini turut memengaruhi prestasi belajar, sebab siswa dengan infeksi tiroid memiliki kemampuan berhitung lebih rendah dibandingkan mereka yang sehat.
Tidak hanya mengintai anak, jejak pestisida juga ditemukan di tubuh petani, tanah, udara, air, hingga sayuran yang dikonsumsi sehari-hari.
Sejak 1980-an, pestisida sintesis digunakan secara masif di Indonesia, bahkan pernah disubsidi hingga 80 persen untuk mendorong swasembada pangan.
Namun, keberhasilan swasembada tersebut justru menimbulkan bencana baru.
"Setelah mencapai swasembada pangan, barulah nampaknya ada bencana lingkungan waktu itu. Ada masalah resistensi dan kebangkitan pada hama. Jadi, hama yang disemprot sudah tidak mempan lagi, sudah resisten. Apalagi, resurgensi, disemprot bukannya habis, makin meledak lagi populasinya (hama)," ujar Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan ORPP BRIN, Agus Kardinan, dalam webinar, Selasa (23/9/2025).
Agus menambahkan, penggunaan pestisida sintesis saat itu tidak terkontrol.
Baca juga: Vandana Shiva Dorong Pertanian Organik, Guru Besar IPB Ingatkan Risikonya
"Ada yang mencampur beberapa jenis fungisida, insektisida, akarisida, bakterisida. Jadi, bukan lagi menyemprot tanaman, tapi menyiram. Ini bahayanya bukan main. Kalau inspeksi, saya tuh sering inspeksi pertanian organik yang disertifikasi. Suruh petaninya memakan ini, petaninya sendiri enggak mau. Tahu itu racun, tapi ya untuk keluar dijual, peduli amat," tuturnya.
Sebagai jalan keluar, sejak awal 2000-an mulai dipromosikan pestisida alami berbahan tumbuhan. Solusi ini dianggap lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung prinsip pertanian organik yang menjaga keberlanjutan ekosistem.
Agus memaparkan sejumlah tanaman yang bisa diolah menjadi pestisida alami. Pertama, tembakau. "Itu bagus, cuma nikotin bahan aktifnya. Jadi, kalau dibuat, yang dibolehkan untuk (pertanian) organik hanya teh lift (pestisida alami). (Caranya) daun tembakau direndam air, digunakan. Tidak boleh diekstraksi etanol atau metanol karena terlalu beracun," katanya.
Kedua, akar tuba untuk insektisida. Ketiga, rerek yang berfungsi sebagai emulsifier alami karena mengandung saponin. "Kalau membuat pestisida dalam minyak dan air tidak bercampur, masukkan ini buah rerek. Diaduk, rerek akan jadi emulsi," ucapnya.
Keempat, nimba yang banyak tumbuh di Pantura Jawa, Bali, NTT, dan NTB. "(Pestisida alami dari) Nimba memang tidak membunuh langsung, disemprot hama itu mati. Tapi gerakannya (hama) itu lambat dan ukurannya tidak berkembang sempurna. Daya rusak hama turun karena sakit. Tapi, yang masalah, kalau sayuran ada bekas daun dimakan ulat di kita (Indonesia) enggak mau, tapi di luar negeri, orang senang itu. Ada daun-daun sayur kemakan ulat berarti ini bebas pestisida (sintesis)," ujar Agus.
Kelima, piretrum yang bekerja lebih cepat. "Kalau (disemprot pestisida dari) nimba, hama akan diam saja, enggak aktif. Sedangkan dengan piretrum, hama aktif sekali, kemudian kelelahan dan sarafnya kejang-kejang dan akhirnya lumpuh," tuturnya.
Selain itu, selasih dan minyak atsiri juga dapat dimanfaatkan. Kini, penggunaan pestisida alami tidak hanya untuk pertanian organik, tetapi juga kebutuhan rumah tangga—mulai dari bahan pel, lotion, hingga pengusir kecoak.
Baca juga: Thailand Niat Kembangkan Startup Teknologi Pertanian, Jadikan Indonesia Pasar Utama
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya