Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pestisida Sintesis Ancam Anak dan Lingkungan, BRIN Sarankan yang Alami

Kompas.com, 23 September 2025, 13:18 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Residu pestisida sintetis kini menjadi ancaman besar bagi kesehatan manusia sekaligus kelestarian lingkungan.

Berdasarkan penelitian Universitas Diponegoro, pencemaran pestisida sintesis menyebabkan 90 persen siswa di sebuah SD di Kabupaten Brebes terinfeksi kelenjar tiroid. Kondisi ini turut memengaruhi prestasi belajar, sebab siswa dengan infeksi tiroid memiliki kemampuan berhitung lebih rendah dibandingkan mereka yang sehat.

Tidak hanya mengintai anak, jejak pestisida juga ditemukan di tubuh petani, tanah, udara, air, hingga sayuran yang dikonsumsi sehari-hari.

Sejak 1980-an, pestisida sintesis digunakan secara masif di Indonesia, bahkan pernah disubsidi hingga 80 persen untuk mendorong swasembada pangan.

Namun, keberhasilan swasembada tersebut justru menimbulkan bencana baru.

"Setelah mencapai swasembada pangan, barulah nampaknya ada bencana lingkungan waktu itu. Ada masalah resistensi dan kebangkitan pada hama. Jadi, hama yang disemprot sudah tidak mempan lagi, sudah resisten. Apalagi, resurgensi, disemprot bukannya habis, makin meledak lagi populasinya (hama)," ujar Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan ORPP BRIN, Agus Kardinan, dalam webinar, Selasa (23/9/2025).

Agus menambahkan, penggunaan pestisida sintesis saat itu tidak terkontrol.

Baca juga: Vandana Shiva Dorong Pertanian Organik, Guru Besar IPB Ingatkan Risikonya

"Ada yang mencampur beberapa jenis fungisida, insektisida, akarisida, bakterisida. Jadi, bukan lagi menyemprot tanaman, tapi menyiram. Ini bahayanya bukan main. Kalau inspeksi, saya tuh sering inspeksi pertanian organik yang disertifikasi. Suruh petaninya memakan ini, petaninya sendiri enggak mau. Tahu itu racun, tapi ya untuk keluar dijual, peduli amat," tuturnya.

Pestisida Alami

Sebagai jalan keluar, sejak awal 2000-an mulai dipromosikan pestisida alami berbahan tumbuhan. Solusi ini dianggap lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung prinsip pertanian organik yang menjaga keberlanjutan ekosistem.

Agus memaparkan sejumlah tanaman yang bisa diolah menjadi pestisida alami. Pertama, tembakau. "Itu bagus, cuma nikotin bahan aktifnya. Jadi, kalau dibuat, yang dibolehkan untuk (pertanian) organik hanya teh lift (pestisida alami). (Caranya) daun tembakau direndam air, digunakan. Tidak boleh diekstraksi etanol atau metanol karena terlalu beracun," katanya.

Kedua, akar tuba untuk insektisida. Ketiga, rerek yang berfungsi sebagai emulsifier alami karena mengandung saponin. "Kalau membuat pestisida dalam minyak dan air tidak bercampur, masukkan ini buah rerek. Diaduk, rerek akan jadi emulsi," ucapnya.

Keempat, nimba yang banyak tumbuh di Pantura Jawa, Bali, NTT, dan NTB. "(Pestisida alami dari) Nimba memang tidak membunuh langsung, disemprot hama itu mati. Tapi gerakannya (hama) itu lambat dan ukurannya tidak berkembang sempurna. Daya rusak hama turun karena sakit. Tapi, yang masalah, kalau sayuran ada bekas daun dimakan ulat di kita (Indonesia) enggak mau, tapi di luar negeri, orang senang itu. Ada daun-daun sayur kemakan ulat berarti ini bebas pestisida (sintesis)," ujar Agus.

Kelima, piretrum yang bekerja lebih cepat. "Kalau (disemprot pestisida dari) nimba, hama akan diam saja, enggak aktif. Sedangkan dengan piretrum, hama aktif sekali, kemudian kelelahan dan sarafnya kejang-kejang dan akhirnya lumpuh," tuturnya.

Selain itu, selasih dan minyak atsiri juga dapat dimanfaatkan. Kini, penggunaan pestisida alami tidak hanya untuk pertanian organik, tetapi juga kebutuhan rumah tangga—mulai dari bahan pel, lotion, hingga pengusir kecoak.

Baca juga: Thailand Niat Kembangkan Startup Teknologi Pertanian, Jadikan Indonesia Pasar Utama

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau