Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kejar Adipura, Malang Segera Terbitkan Surat Edaran Pilah Sampah dari Rumah

Kompas.com, 25 September 2025, 08:00 WIB
Add on Google
Nugraha Perdana,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

MALANG, KOMPAS.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang akan menerapkan aturan tegas mengenai pemilahan sampah yang dimulai dari tingkat rumah tangga.

Warga nantinya diwajibkan untuk memisahkan sampahnya menjadi dua jenis, yakni organik (basah) dan anorganik (kering), yang akan diangkut secara terjadwal.

Kebijakan ini disiapkan sebagai langkah strategis dan efektivitas dalam pengelolaan sampah, serta untuk menekan volume sampah harian sebesar 520 ton yang terus menggunung di TPA Supiturang dan untuk mengejar target Piala Adipura.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengatakan bahwa pihaknya tengah berupaya melakukan optimalisasi pengelolaan sampah sebagai bagian dari janji politiknya, yakni Ngalam Rijik.

Ia memaparkan bahwa saat ini, dari total produksi sampah harian di Kota Malang yang mencapai 730 ton, hanya sekitar 200 ton yang dapat dikelola melalui TPS3R, TPST, dan bank sampah.

Sisanya, lebih dari 500 ton, setiap hari dikirim ke TPA.

"Kalau tidak ada kesadaran dan peran serta masyarakat, sulit kita bisa mengatasi persoalan sampah. Pengelolaan harus dimulai dari sumbernya, yaitu rumah kita sendiri," ujar Wahyu pada Rabu (24/9/2025).

Kesadaran masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan upaya pengelolaan sampah ini.

Untuk mempersiapkan hal itu, Pemkot Malang menggelar kegiatan Pelatihan Pengolahan Sampah pada Rabu (24/9/2025) yang diikuti oleh 108 peserta dan juga memberikan bantuan alat komposter.

Wahyu menyebutkan bahwa inisiatif kegiatan tersebut berasal dari usulan masyarakat melalui Musrenbang di tingkat kelurahan.

Menurutnya, hal ini menunjukkan adanya keinginan warga untuk terlibat aktif.

"Dengan pelatihan ini, mereka akan tahu apa yang harus dilakukan. Ini seiring sejalan dengan program kita. Jika sampah dikelola dengan baik, selain lingkungan menjadi sehat, sampah bisa jadi berkah," ungkap Wahyu.

Nantinya, setelah sampah dipilah dari rumah, sampah organik diharapkan dibawa untuk diolah menjadi kompos menggunakan komposter seperti pelatihan yang ada tersebut.

Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik dan kertas dapat disetorkan ke bank sampah yang tersebar di berbagai kelurahan.

Baca juga: Menteri LH Sentil Bali-Jakarta: Hutan Gundul, Sampah Menumpuk, Banjir Datang

"Sampah organik kita masukkan ke tempat komposting, yang anorganik ke bank sampah. Ini bisa menghasilkan pendapatan tambahan bagi masyarakat," jelasnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau