Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Sederet kondisi tersebut menciptakan lingkungan ideal bagi perkembangan virus baru.
Meski risikonya tinggi, penelitian soal potensi penyebaran virus akibat perdagangan satwa liar di Indonesia masih minim.
Ketergantungan pada dana riset luar negeri merupakan salah satu tantangannya. Ketika Amerika Serikat menghentikan program DEEP VZN (yang mendanai penelitian patogen zoonosis di negara berkembang) pada 2023, banyak inisiatif lokal terhambat. Padahal, pemantauan dini sangat bergantung pada riset jangka panjang yang konsisten.
Di lapangan, peneliti menghadapi tantangan lain dalam membangun kepercayaan. Banyak orang enggan diwawancarai atau diambil sampelnya karena khawatir dijadikan “kambing hitam”.
Namun, pendekatan kolaboratif tetap memiliki harapan. Tim peneliti dari Universitas Sam Ratulangi, misalnya, berhasil bekerja sama dengan pemburu kelelawar dengan pendekatan humanis dan berbasis kepercayaan.
Ini menunjukkan bahwa dengan komunikasi yang tepat, kolaborasi antara ilmuwan dan masyarakat bisa terjalin.
Agar kejadian COVID-19 tidak terulang, kita tidak boleh membiarkan pasar hewan di Tanah Air beroperasi tanpa pengawasan dan perbaikan.
Pemerintah perlu melakukan sejumlah langkah di bawah ini.
Teknologi deteksi murah seperti polymerase chain reaction (PCR) dan loop-mediated isothermal amplification (LAMP) dapat digunakan di laboratorium lokal untuk mendeteksi puluhan jenis patogen sekaligus.
Tes PCR juga bisa dilakukan di pasar secara berkala (1-2 kali setahun) untuk memantau risiko perkembangan patogen.
Sementara itu, pengurutan genom langsung di lapangan kini bisa menggunakan alat portabel, seperti Oxford Nanopore—yang memberikan fleksibilitas tinggi dalam pengawasan patogen.
Tak kalah penting, sistem deteksi dini berbasis komunitas perlu dibangun dengan melatih pedagang dan konsumen mengenali tanda-tanda awal wabah, seperti kematian hewan mendadak atau perilaku tak biasa. Mereka bisa menjadi alarm pertama bagi sistem kesehatan masyarakat.
Pemerintah perlu membuat aturan berbasis sains dengan pendekatan one health, yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai suatu kesatuan yang saling terkait.
Dalam hal ini, pemerintah perlu mengawasi kesehatan hewan dan manusia secara bersamaan, mengatur perdagangan hewan, rutin menguji sampel hewan, serta mengembangkan vaksin khusus untuk hewan.
Lewat regulasi perdagangan hewan, misalnya, spesies hewan yang terbukti sering membawa penyakit berbahaya ke manusia (seperti kelelawar, musang, tenggiling, dan anjing) bisa dibatasi atau bahkan dilarang untuk diperjualbelikan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya