Tantangan lain juga dialami peneliti saat mempelajari emisi CO2 dari tambang batubara bekas.
Tambang-tambang yang ditinggalkan tidak dikatalogkan dengan baik, mulut tambang yang dilaporkan sering kali kering atau hilang ditelan waktu. Penelitian di lapangan juga bisa berlangsung lama, namun terkadang tidak menemukan apa-apa.
Hambatan lainnya adalah perangkat keras. Alat ukur standar yang mudah didapatkan dirancang untuk mengukur kondisi lingkungan yang normal.
Akan tetapi alat-alat tersebut gagal berfungsi dengan baik karena tingkat CO2 yang ekstrem di air tambang.
Konsentrasi CO2 di beberapa air tambang seribu kali lebih tinggi daripada yang ditemukan di perairan permukaan biasa.
Fase penelitian selanjutnya adalah mencari cara untuk mengurangi emisi dari tambang bekas. Beberapa solusinya secara mengejutkan cukup sederhana seperti misalnya memindahkan aliran air keluar dari area terbuka.
Tim ini juga berencana menambahkan metana ke rangkaian pengambilan sampelnya, untuk berjaga-jaga jika tambang-tambang tua mengeluarkan gas rumah kaca potensial lainnya.
Baca juga: Aset Dana Iklim Global Cetak Rekor 644 Miliar Dollar AS di Awal 2025
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya