JAKARTA, KOMPAS.com - Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (Puskep UI) mengungkapkan produksi etanol untuk campuran bahan bakar minyak atau BBM tak akan mengganggu ketersediaan pangan. Ketua Puskep UI, Ali Ahmudi, menjelaskan bahwa bioetanol bersumber dari tebu, kedelai, singkong, serta jagung.
"Kalau tadi teman-teman mengatakan 'bahan pertanian kita sebagian untuk pangan, bagaimana untuk energi?' Tidak usah risau, yang pangan buat pangan energi buat energi banyak kita potensi yang ada tinggal mau apa tidak," kata Ali dalam diskusi di Jakarta Pusat, Jumat (7/11/2025).
Menurut dia, transisi energi dengan bahan bakar ramah lingkungan menjadi langkah penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Penggunaan bioenergi seperti bioetanol, biodiesel, dan biogas merupakan bagian dari upaya mendukung energi berkelanjutan.
Baca juga: PSN Tebu untuk Etanol di Merauke Dinilai Tak Jawab Transisi Energi Bersih
Ali menegaskan, banyak limbah pertanian dan perkebunan termasuk kelapa sawit yang berpotensi sebagai bahan baku energi alternatif campuran BBM bersih.
"Saya 10 tahun meneliti tentang ini, 140 material sudah saya teliti dari hal yang paling detail pada carbon-nya, sulfur-nya, dari sisi kadar airnya. Salah satunya adalah lima potensi limbah kelapa sawit bisa menjadi bioenergi, jangan khawatir enggak usah mengganggu bio-nya," tutur dia.
Etanol untuk BBM bukanlah hal yang baru. Sejumlah negara lebih dulu menerapkan bahan bakar beretanol tinggi. Eropa, misalnya, dari E5 menjadi E10, Perancis dan Thailand saat ini mengembangkan E85, India menuju E20, serta China menuju pemakaian E10. Sedangkan Brasil telah mengembangkan E100.
"Seharusnya kita bisa mencapai kemandiran energi seperti Brasil tanpa pernah ketergantungan terhadap migas. Kalau kita berpikir global, futuristik, maka seharusnya kita dukung program energi terbarukan ini termasuk bioetanol, biodiesel karena itu adalah cara untuk keluar dari jerat kemiskinan dan ketergantungan energi," jelas Ali.
Dalam kesempatan itu, dia turut menyinggung empat syarat ketahanan energi nasional yakni availability atau ketersediaan bahan bakku. Kemudian affordability atau keterjangkauan harga, accessibility atau akses sumber bahan baku, serta penerimaan sosial dan lingkungan.
Baca juga: BBM E10 Persen Dinilai Aman untuk Mesin dan Lebih Ramah Lingkungan
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan etanol 10 persen atau E10 pada bahan bakar minyak, aman untuk kendaraan sekaligus lebih ramah lingkungan. Pemerintah menargetkan penerapan E10 pada 2027 mendatang. Sekretaris Umum menuturkan spesifikasi etanol harus konsisten dan diawasi.
“Penerapan E10 aman bagi hampir semua kendaraan bermotor yang diproduksi mulai tahun 2000,” ujar Kukuh.
Penerapan etanol pada bensin kendaraan telah diujicoba asosiasi produsen kendaraan bermotor Jepang, atau Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA) di Asia Pasifik termasuk di Indonesia. Karenanya, Kukuh mendorong pemerintah menyusun peta jalan penerapan E10 guna mendongkrak perekonomian nasional dan daerah.
"Di Jawa Timur karena merupakan sumber etanol, sumber bahan baku untuk etanol mereka bisa lebih tinggi, yang diolah bukan untuk makanannya tetapi molasi atau sisa produksi gulanya," papar dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya