Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Akademisi UI: Produksi Etanol untuk BBM Tak Ganggu Ketersediaan Pangan

Kompas.com, 10 November 2025, 10:23 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (Puskep UI) mengungkapkan produksi etanol untuk campuran bahan bakar minyak atau BBM tak akan mengganggu ketersediaan pangan. Ketua Puskep UI, Ali Ahmudi, menjelaskan bahwa bioetanol bersumber dari tebu, kedelai, singkong, serta jagung.

"Kalau tadi teman-teman mengatakan 'bahan pertanian kita sebagian untuk pangan, bagaimana untuk energi?' Tidak usah risau, yang pangan buat pangan energi buat energi banyak kita potensi yang ada tinggal mau apa tidak," kata Ali dalam diskusi di Jakarta Pusat, Jumat (7/11/2025).

Menurut dia, transisi energi dengan bahan bakar ramah lingkungan menjadi langkah penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Penggunaan bioenergi seperti bioetanol, biodiesel, dan biogas merupakan bagian dari upaya mendukung energi berkelanjutan.

Baca juga: PSN Tebu untuk Etanol di Merauke Dinilai Tak Jawab Transisi Energi Bersih

Ali menegaskan, banyak limbah pertanian dan perkebunan termasuk kelapa sawit yang berpotensi sebagai bahan baku energi alternatif campuran BBM bersih.

"Saya 10 tahun meneliti tentang ini, 140 material sudah saya teliti dari hal yang paling detail pada carbon-nya, sulfur-nya, dari sisi kadar airnya. Salah satunya adalah lima potensi limbah kelapa sawit bisa menjadi bioenergi, jangan khawatir enggak usah mengganggu bio-nya," tutur dia.

Etanol untuk BBM bukanlah hal yang baru. Sejumlah negara lebih dulu menerapkan bahan bakar beretanol tinggi. Eropa, misalnya, dari E5 menjadi E10, Perancis dan Thailand saat ini mengembangkan E85, India menuju E20, serta China menuju pemakaian E10. Sedangkan Brasil telah mengembangkan E100.

"Seharusnya kita bisa mencapai kemandiran energi seperti Brasil tanpa pernah ketergantungan terhadap migas. Kalau kita berpikir global, futuristik, maka seharusnya kita dukung program energi terbarukan ini termasuk bioetanol, biodiesel karena itu adalah cara untuk keluar dari jerat kemiskinan dan ketergantungan energi," jelas Ali.

Dalam kesempatan itu, dia turut menyinggung empat syarat ketahanan energi nasional yakni availability atau ketersediaan bahan bakku. Kemudian affordability atau keterjangkauan harga, accessibility atau akses sumber bahan baku, serta penerimaan sosial dan lingkungan.

Baca juga: BBM E10 Persen Dinilai Aman untuk Mesin dan Lebih Ramah Lingkungan

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan etanol 10 persen atau E10 pada bahan bakar minyak, aman untuk kendaraan sekaligus lebih ramah lingkungan. Pemerintah menargetkan penerapan E10 pada 2027 mendatang. Sekretaris Umum menuturkan spesifikasi etanol harus konsisten dan diawasi.

“Penerapan E10 aman bagi hampir semua kendaraan bermotor yang diproduksi mulai tahun 2000,” ujar Kukuh.

Penerapan etanol pada bensin kendaraan telah diujicoba asosiasi produsen kendaraan bermotor Jepang, atau Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA) di Asia Pasifik termasuk di Indonesia. Karenanya, Kukuh mendorong pemerintah menyusun peta jalan penerapan E10 guna mendongkrak perekonomian nasional dan daerah.

"Di Jawa Timur karena merupakan sumber etanol, sumber bahan baku untuk etanol mereka bisa lebih tinggi, yang diolah bukan untuk makanannya tetapi molasi atau sisa produksi gulanya," papar dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aeon Group dan Baznas Sinergi Pulihkan Layanan Pendidikan dan Kesehatan Pascabencana Sumatra
Aeon Group dan Baznas Sinergi Pulihkan Layanan Pendidikan dan Kesehatan Pascabencana Sumatra
Swasta
Tren Micro-Retirement, Upaya Gen Z Pulih dari Burnout
Tren Micro-Retirement, Upaya Gen Z Pulih dari Burnout
LSM/Figur
OJK dan Inggris Luncurkan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim
OJK dan Inggris Luncurkan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim
Pemerintah
UNICEF Gandeng DBS Foundation untuk Tingkatkan Kesejahteraan Anak di NTT
UNICEF Gandeng DBS Foundation untuk Tingkatkan Kesejahteraan Anak di NTT
LSM/Figur
Belajar dari Pencemaran Sungai Cisadane, Reproduksi Ikan Bisa Terancam
Belajar dari Pencemaran Sungai Cisadane, Reproduksi Ikan Bisa Terancam
LSM/Figur
Perlu Strategi Terpadu Atasi 65 Persen Sampah Nasional yang Belum Terkelola
Perlu Strategi Terpadu Atasi 65 Persen Sampah Nasional yang Belum Terkelola
LSM/Figur
PLTM Kukusan 2 di Lampung Beroperasi, Produksi Listrik 35,02 GWh per Tahun
PLTM Kukusan 2 di Lampung Beroperasi, Produksi Listrik 35,02 GWh per Tahun
Swasta
Transisi Energi Indonesia Hadapi Tantangan AI dan Data Center, PLTP Perlu Modernisasi Sistem
Transisi Energi Indonesia Hadapi Tantangan AI dan Data Center, PLTP Perlu Modernisasi Sistem
Swasta
Zulhas Sebut Proyek WtE Hanya Selesaikan 20 Persen Sampah di Indonesia
Zulhas Sebut Proyek WtE Hanya Selesaikan 20 Persen Sampah di Indonesia
Pemerintah
Ilmuwan Temukan Spesies Tokek Baru di Cagar Alam Kamboja
Ilmuwan Temukan Spesies Tokek Baru di Cagar Alam Kamboja
LSM/Figur
KLH Bekukan Izin 80 Unit Ekstraksi Nikel dan Batu Bara
KLH Bekukan Izin 80 Unit Ekstraksi Nikel dan Batu Bara
Pemerintah
Lowongan Kerja KKP 2026 untuk Formasi di Sumba Timur, Ini Syaratnya
Lowongan Kerja KKP 2026 untuk Formasi di Sumba Timur, Ini Syaratnya
Pemerintah
Di London, Proses Daur Ulang Masih Stagnan meski Robot AI Bantu Sortir Sampah
Di London, Proses Daur Ulang Masih Stagnan meski Robot AI Bantu Sortir Sampah
Swasta
SDG Academy Indonesia Terbaru Diluncurkan, Jadi Pusat Pembelajaran Nasional
SDG Academy Indonesia Terbaru Diluncurkan, Jadi Pusat Pembelajaran Nasional
Pemerintah
Mendagri: RI Urutan Kelima Negara Penghasil Sampah Terbanyak di Dunia
Mendagri: RI Urutan Kelima Negara Penghasil Sampah Terbanyak di Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau