JAKARTA, KOMPAS.com - Blibli Tiket Action kembali menggelar program keberlanjutan tahunan untuk menjawab tantangan menumbuhkan gaya hidup sadar lingkungan yang semakin mendesak di tengah kondisi cuaca ekstrem akibat krisis iklim.
Blibli Tiket Action - payung program Environmental, Social, and Governance (ESG) dari Blibli, Tiket.com, Ranch Market, dan Dekoruma - menggelar 'Langkah Membumi Ecoground 2025' yang kini sudah memasuki tahun ke-4.
Prinsip keberlanjutan dalam acara ini tercermin dari pemanfaatan energi terbarukan, pengelolaan limbah secara terukur, penyediaan stasiun pengisian ulang air minum, hingga alat makan dan merchandise yang ramah lingkungan bagi pengunjung.
Baca juga: Dorong Gaya Hidup Berkelanjutan, Blibli Tiket Action Gelar Langkah Membumi Ecoground 2025
Bahkan, melalui empat zona utama (eco motion, eco market, eco laba, dan eco stage), para pengunjung diajak untuk mengalami langsung bagaimana aktivitas sehari-hari dapat menjadi langkah kecil menuju perubahan besar bagi bumi.
Misalnya, zona eco motion yang menggabungkan tren gaya hidup dengan kesadaran lingkungan menjadikan olahraga sebagai medium untuk membangun koneksi dan menginsipirasi aksi nyata lintas lapisan masyarakat.
Terdapat lebih dari 50 mitra berkolaborasi dalam acara ini. Salah satunya, perusahaan rintisan yang berfokus pada solusi pengelolaan sampah, Sirsak. COO & Co-Founder Blibli, Lisa Widodo mengatakan, Sirsak membantu dalam mengelola semua sampah selama acara ini berlangsung.
Selain itu, perusahaan konsultan yang berfokus pada keberlanjutan, Life Cycle Indonesia juga menjadi mitra dalam acara ini.
Life Cycle Indonesia membantu dalam mengelola emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan selama acara ini berlangsung.
Baca juga: COP30: Target Iklim 1,5 Derajat C yang Tak Tercapai adalah Kegagalan Moral
Bahkan, penghitungan emisi GRK yang dihasilkan dari acara ini meliputi scope 1 (yang muncul dari aktivitas), scope 2 (tidak langsung dari energi yang dibeli), dan scope 3 (tidak langsung dari seluruh rantai nilai).
Penghitungan emisi GRK tersebut mengacu pada standar internasional ISO 14040/44 Life Cycle Assessment. Namun, laporan dampak dari acara 'Langkah Membumi Ecoground 2025' secara komprehensif baru bisa dirilis dalam tiga minggu ke depan.
"Kami menghindari (meminimalisir lebih dari) 10 ton CO2e selama penyelenggaraan acara (yang sama) tahun lalu," ujar Lisa kepada Kompas.com, Sabtu (8/11/2025).
Kata dia, 'Langkah Membumi Ecoground 2025' menerapkan kembali beberapa pendekatan keberlanjutan pada acara yang sama pada tahun lalu. Misalnya, meminimalisir penggunaan ribuan botol plastik melalui penyediaan MODENA Pure Hub water station berkapasitas 789 liter air bersih yang tersebar di berbagai titik.
"Kebetulan kita lagi (berada) di lokasi jantung (zona) eco market, Kalau kita lihat ada booth-booth yang kita pakai ini (dari) daur ulang semua. Jadi, ini semua kami gunakan dari event-event kita yang sebelum-sebelumnya dan kayu-kayunya ini juga semua bekas ya," tutur Lisa.
Menurut Lisa, Taman Kota PERURI dipilih sebagai lokasi karena cocok dengan visi misi keberlanjutan dari acara ini. Taman Kota PERURI dapat diakses dengan berbagai transportasi umum lantaran dekat dengan Terminal Bus Blok M, Halte Transjakarta, sampai Stasiun MRT.
"Kita melihat bahwa ini cukup ada di pusatnya Jakarta Selatan, area Blok M, kemudian kita melihat ternyata da kayak oasis di sini, tiba-tiba ada hutan di tengah kota," ucapnya.
Baca juga: Terapkan ESG, Blibli Tiket Ajak Mahasiswa Terlibat Gaya Hidup Ramah Lingkungan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya