Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
SETIAP tanggal 10 November, bangsa Indonesia mengenang jasa para pahlawan yang berjuang mempertahankan kemerdekaan. Namun makna kepahlawanan tidak berhenti di masa lalu.
Dalam konteks hari ini, perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga berarti menjaga keberlanjutan bumi. Musuh kita bukan lagi penjajah bersenjata, tetapi kerusakan alam, eksploitasi sumber daya yang berlebihan, dan perubahan iklim yang mengancam masa depan generasi berikutnya.
Semangat perjuangan para pahlawan sejati lahir dari cinta tanah air. Kini, cinta tanah air diwujudkan dengan menjaga hutan, laut, dan sungai sebagai sumber kehidupan bangsa. Tanah air tidak hanya berarti wilayah, tetapi juga seluruh sistem ekologi yang menjadi penopang kehidupan manusia Indonesia.
Mereka yang menanam pohon di lahan kritis, memungut sampah di sungai, atau merawat mangrove di pesisir sejatinya sedang mempertahankan kemerdekaan lingkungan. Upaya menjaga keseimbangan alam adalah bentuk nyata cinta tanah air yang setara nilainya dengan perjuangan di medan perang.
Baca juga: Lakukan Konservasi Burung Paruh Bengkok, Pasutri Dudi-Dwi Raih Beasiswa Kuliah S2-S3 UGM
Upaya konservasi merupakan perlawanan terhadap ancaman baru yang mengintai bumi. Deforestasi, pencemaran, dan perubahan iklim menjadi penjajah modern yang menggerus kesejahteraan rakyat. Konservasi berarti menahan laju kerusakan dan memastikan sumber daya alam digunakan secara bijak untuk jangka panjang.
Konservasi membawa manfaat yang jelas. Keanekaragaman hayati terlindungi, keseimbangan ekosistem terjaga, dan risiko bencana alam seperti banjir, longsor, dan kekeringan dapat ditekan. Konservasi juga menjamin keberlanjutan sumber daya air dan tanah bagi generasi mendatang serta mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, termasuk akses air bersih dan sanitasi layak bagi masyarakat.
Indonesia memiliki banyak pahlawan konservasi yang berjuang bukan dengan senjata, tetapi dengan ketekunan dan keikhlasan. Sebagian besar bekerja tanpa sorotan publik, menghadapi risiko besar, dan sering berjuang di tengah minimnya dukungan pemerintah.
Di tingkat nasional, Prof. Emil Salim dikenal sebagai Bapak Lingkungan Hidup Indonesia, yang memperkenalkan konsep pembangunan berkelanjutan di negeri ini. Siti Nurbaya Bakar berperan mendorong paradigma konservasi yang lebih dinamis, dari sekadar perlindungan menuju restorasi ekosistem.
Delima Silalahi adalah contoh pejuang hak tanah adat yang menorehkan sejarah dengan meraih Goldman Environmental Prize 2023. Ia memperjuangkan pengakuan hak masyarakat adat di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara, agar hutan adat tetap lestari dan menjadi sumber kehidupan bagi komunitasnya.
Abdon Nababan juga layak dikenang sebagai tokoh nasional yang konsisten membela masyarakat adat. Penerima Ramon Magsaysay Award ini memperjuangkan pengakuan hak-hak adat serta pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis komunitas. Dedikasinya memperlihatkan bahwa pelestarian alam tidak bisa dilepaskan dari keadilan sosial.
Daman dan Tini Kasmawati adalah simbol pejuang lingkungan di tingkat akar rumput. Daman menjaga hutan bakau dan populasi lutung Jawa di Muara Gembong, Bekasi, sementara Tini Kasmawati merawat Owa Jawa di Hutan Lengkong, Sukabumi, meski penglihatannya terganggu. Keduanya bekerja secara mandiri untuk melindungi alam di tengah lemahnya peran negara.
Mbah Sadiman menjadi sosok inspiratif yang menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari satu orang. Dengan tekad dan kerja keras, ia menghijaukan lahan kritis di lereng Gunung Lawu, menanam ribuan pohon hingga menghidupkan kembali sumber air di desanya. Kisahnya menjadi simbol nyata bahwa kepahlawanan tidak mengenal usia dan tidak bergantung pada jabatan.
Pejuang lingkungan lainnya juga pantas disebut. Wasito di Kendal menanam lebih dari dua ratus ribu mangrove untuk menahan abrasi di pesisir utara Jawa. Oday Kodariyah (Mamah Oday) di Jawa Barat mengabdikan hidupnya untuk melestarikan tanaman obat tradisional di tengah arus modernisasi.
Nur Hidayati, aktivis lingkungan dan mantan Direktur Eksekutif WALHI, dikenal gigih dalam memperjuangkan keadilan ekologis di tingkat nasional. A’ak Abdullah Al-Kudus melalui Laskar Hijau menggerakkan masyarakat agar peduli terhadap penghijauan dan konservasi.
Sukianto Lusli, Yusup Cahyadin, dan Agus Budi Utomo dari Burung Indonesia merintis program restorasi hutan alam produksi, sebuah inisiatif yang awalnya diragukan, tetapi kemudian diakui sebagai langkah penting dalam konservasi nasional.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya