Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Bisnis Gagal Nilai Dampak Lingkungan Penggunaan AI

Kompas.com, 25 November 2025, 15:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Data dari Thomson Reuters Foundation’s AI Company Data Initiative mengungkapkan sebagian besar perusahaan (97 persen) yang menggunakan kecerdasan buatan (AI), secara terbuka mengabaikan jejak lingkungan teknologi tersebut.

Penelitian juga memperingatkan bahwa kecepatan adopsi AI yang tinggi tidak diimbangi dengan tata kelola yang memadai, yang berpotensi menimbulkan risiko lingkungan yang signifikan.

Penelitian tersebut didasarkan pada analisis yang luas dan mendalam terhadap informasi publik dari 1.000 perusahaan besar di 13 sektor di Amerika, Asia Pasifik, Eropa, Timur Tengah dan Afrika.

Sumber-sumber yang digunakan meliputi laporan keuangan, laporan keberlanjutan, dan kebijakan keamanan siber atau privasi data.

Melansir Edie, Senin (24/11/2025) studi menemukan bahwa hanya 48 persen perusahaan yang diteliti menggunakan strategi atau pedoman AI.

Baca juga: UN Women Peringatkan, Kekerasan Digital Berbasis AI Ancam Perempuan

Di antara perusahaan yang mengungkapkannya, sebagian besar merujuk pada prinsip-prinsip seperti AI yang etis, aman atau terpercaya.

Namun, informasi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mungkin masih belum siap menghadapi risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang melekat pada teknologi tersebut.

Pelaporan lingkungan muncul sebagai kesenjangan paling signifikan. Hampir semua (97 persen) perusahaan dengan strategi AI tidak mengevaluasi penggunaan energi atau jejak karbon dari sistem yang mereka terapkan.

Dampak sosial juga sebagian besar tidak ada. Sekitar 68 persen perusahaan dengan strategi AI belum menilai dampak sosial yang lebih luas di luar pengguna langsung, menimbulkan kekhawatiran bahwa bisnis mengabaikan bagaimana AI dapat mengubah tenaga kerja, akses ke layanan, atau kehidupan publik.

Sementara praktik tata kelola tampak tidak merata. Meskipun tiga perempat perusahaan dengan strategi AI yang dipublikasikan melaporkan pengawasan tingkat manajemen, hanya dua perlima yang membuat kebijakan ini dapat diakses oleh karyawan atau mewajibkan staf untuk mengakuinya.

Penelitian ini menunjukkan banyak perusahaan mungkin bergerak cepat untuk mengadopsi AI tanpa pemahaman yang menyeluruh tentang tuntutan kepatuhan dan pelaporan yang kemungkinan akan mengikutinya.

McKinsey memperkirakan potensi jangka panjang AI sebesar 4,4 triliun dolar AS dalam bentuk pertumbuhan produktivitas tambahan dari aplikasi korporat, dengan 92 persen perusahaan berencana untuk meningkatkan investasi AI selama tiga tahun ke depan.

Namun, seiring berkembangnya AI, jejak lingkungannya pun ikut meningkat.

Baca juga: CEO Lebih Yakin Capai Target Nol Bersih Berkat AI

Sebuah studi dari Universitas Cornell tahun lalu menemukan bahwa AI generatif dapat mengonsumsi energi hingga 33 kali lebih banyak daripada perangkat lunak khusus tugas tradisional.

Badan Energi Internasional (IEA) telah memperkirakan bahwa pembangkit listrik global untuk memasok pusat data akan meningkat lebih dari dua kali lipat antara tahun 2024 dan 2030, mencapai 1.000 TWh.

Pusat data, saat ini, kemungkinan besar akan menggunakan sebagian tenaga listrik dari batu bara dan/atau gas alam, demikian pernyataan Badan tersebut.

Selain itu, pusat data yang dirancang dengan buruk dapat membutuhkan banyak air untuk pendinginan, sehingga memperburuk tekanan air bagi masyarakat lokal dan bisnis lainnya.

Meskipun biaya lingkungan dari teknologi ini tinggi, hampir sembilan dari sepuluh pemimpin bisnis energi dan teknologi meyakini bahwa penggunaan AI akan mempermudah pencapaian sasaran nol bersih mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penguatan Ekonomi Keluarga Jadi Bagian Strategi Menekan Kemiskinan di Papua
Penguatan Ekonomi Keluarga Jadi Bagian Strategi Menekan Kemiskinan di Papua
Pemerintah
Telur Ayam Umbaran vs Telur dalam Kandang: Mana Lebih Ramah Iklim?
Telur Ayam Umbaran vs Telur dalam Kandang: Mana Lebih Ramah Iklim?
Pemerintah
Regulasi Keberlanjutan Akan Makin Ketat, Ini Sektor Ekonomi Berisiko dan Paling Progresif
Regulasi Keberlanjutan Akan Makin Ketat, Ini Sektor Ekonomi Berisiko dan Paling Progresif
Swasta
Studi: Rutinitas Keramas Pengaruhi Tingginya Konsumsi Air Rumah Tangga
Studi: Rutinitas Keramas Pengaruhi Tingginya Konsumsi Air Rumah Tangga
Pemerintah
Perkuat Ekosistem Energi Bersih, Pertamina Gandeng Pemprov Jabar Kembangkan Hidrogen Rendah Karbon dari Sampah
Perkuat Ekosistem Energi Bersih, Pertamina Gandeng Pemprov Jabar Kembangkan Hidrogen Rendah Karbon dari Sampah
BUMN
Industri Tekstil Global Hasilkan 92.000 Ton Polusi Serat Mikro Per Tahun
Industri Tekstil Global Hasilkan 92.000 Ton Polusi Serat Mikro Per Tahun
LSM/Figur
IBCSD: Klaim 'Ramah Lingkungan' Tanpa Data Berisiko Jadi 'Greenwashing'
IBCSD: Klaim "Ramah Lingkungan" Tanpa Data Berisiko Jadi "Greenwashing"
Swasta
GRI: Laporan Keberlanjutan Perusahaan di Indonesia Mulai Adopsi Isu Iklim
GRI: Laporan Keberlanjutan Perusahaan di Indonesia Mulai Adopsi Isu Iklim
Swasta
Kacang Lokal Berpotensi Jadi Bahan Baku Tempe Pengganti Kedelai
Kacang Lokal Berpotensi Jadi Bahan Baku Tempe Pengganti Kedelai
LSM/Figur
Pendanaan HIV Dipangkas, Target Global Bebas AIDS 2030 Terancam Gagal
Pendanaan HIV Dipangkas, Target Global Bebas AIDS 2030 Terancam Gagal
Pemerintah
IPB Kembangkan Pupuk Bokashi dari Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan
IPB Kembangkan Pupuk Bokashi dari Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan
LSM/Figur
Pemerintah DIdesak Evaluasi RUPTL dan RUKN di Tengah Ancaman El Niño 2026
Pemerintah DIdesak Evaluasi RUPTL dan RUKN di Tengah Ancaman El Niño 2026
LSM/Figur
Ekonomi Biru Asia Tenggara Terancam Kerusakan Lingkungan dan Minim Dana
Ekonomi Biru Asia Tenggara Terancam Kerusakan Lingkungan dan Minim Dana
Pemerintah
Pemerintah dan YKAN Susun Peta Risiko Karhutla Gambut di Kalbar
Pemerintah dan YKAN Susun Peta Risiko Karhutla Gambut di Kalbar
Pemerintah
Dorong Akselerasi Hijau, Dompet Dhuafa Luncurkan Kebun Pangan Madaya di PTGL Sukabumi
Dorong Akselerasi Hijau, Dompet Dhuafa Luncurkan Kebun Pangan Madaya di PTGL Sukabumi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau