Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim di Pegunungan Melesat Cepat, Ancam Miliaran Orang

Kompas.com, 26 November 2025, 14:23 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Pegunungan di seluruh dunia mengalami perubahan iklim yang lebih intens daripada wilayah dataran rendah.

Konsekuensinya adalah miliaran orang yang tinggal atau bergantung di wilayah tersebut terancam.

Temuan tersebut merupakan hasil studi internasional yang dipublikasikan di Nature Reviews Earth & Environment.

Studi ini merupakan analisis paling menyeluruh hingga saat ini tentang bagaimana pola suhu, curah hujan, dan salju bergeser di seluruh pegunungan dunia.

Studi yang dipimpin Profesor Madya Dr. Nick Pepin dari University of Portsmouth tersebut menganalisis data dari berbagai sumber termasuk set data bergrid global, termasuk studi kasus rinci dari pegunungan spesifik termasuk Rocky Mountains, Alps, Andes, dan Dataran Tinggi Tibet.

Melansir Phys, Selasa (25/11/2025) temuan ini mengungkapkan tren yang mengkhawatirkan antara tahun 1980 dan 2020.

Baca juga: Salju di Pegunungan Alpen Makin Menyusut akibat Perubahan Iklim

Wilayah pegunungan, rata-rata, menghangat 0,21 derajat C per abad lebih cepat daripada dataran rendah di sekitarnya.

Pegunungan mengalami curah hujan yang lebih tak terduga dan perubahan signifikan dari salju menjadi hujan.

"Pegunungan memiliki banyak karakteristik yang sama dengan wilayah Arktik dan mengalami perubahan cepat yang serupa," kata Dr. Pepin dari Institut Bumi dan Lingkungan, Universitas Portsmouth.

"Hal ini terjadi karena kedua lingkungan tersebut kehilangan salju dan es dengan cepat dan mengalami perubahan ekosistem yang mendalam. Yang kurang diketahui adalah bahwa semakin tinggi mendaki pegunungan, laju perubahan iklim dapat menjadi lebih intens," terangnya lagi.

Lantas seperti apa dampaknya, baik itu terhadap manusia dan ekosistem?

Lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia bergantung pada salju pegunungan dan gletser untuk mendapatkan air, termasuk China dan India, dua negara dengan populasi terbesar di dunia yang mendapatkan air dari Himalaya.

"Es Himalaya mencair lebih cepat dari yang kita duga. Ketika salju beralih ke hujan karena suhu yang menghangat, banjir bandang yang dahsyat pun lebih mungkin terjadi. Peristiwa berbahaya juga menjadi lebih ekstrem," ungkap Dr. Pepin.

Seiring meningkatnya suhu, pepohonan dan hewan bergerak lebih tinggi ke pegunungan untuk kondisi yang lebih tinggi.

Baca juga: BMKG: Tebal Es Pegunungan Jayawijaya Tinggal 4 Meter

Namun, dalam beberapa kasus mereka justru kehabisan ruang karena pegunungan memiliki batas. Tanpa tempat tujuan, spesies tersebut kemungkinan punah, perubahan ekosistem juga tak terelakkan lagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
LSM/Figur
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
Swasta
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut  yang Sulit Dipantau
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut yang Sulit Dipantau
Pemerintah
INDEF: Salah Menyamakan Dampak Lingkungan PLTP dan PLTU
INDEF: Salah Menyamakan Dampak Lingkungan PLTP dan PLTU
LSM/Figur
Krisis Iklim: Tutupan Salju di Pegunungan Yunani Susut 58 Persen dalam 40 Tahun
Krisis Iklim: Tutupan Salju di Pegunungan Yunani Susut 58 Persen dalam 40 Tahun
Pemerintah
Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
Pemerintah
Momentum RI Raup 'Windfall Tax' Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
Momentum RI Raup "Windfall Tax" Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
LSM/Figur
PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok
PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok
Swasta
Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional
Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional
LSM/Figur
Menteri LH Jumhur Hidayat: UU Cipta Kerja Terlalu Kapitalistik
Menteri LH Jumhur Hidayat: UU Cipta Kerja Terlalu Kapitalistik
Pemerintah
Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut
Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut
LSM/Figur
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Pemerintah
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
Pemerintah
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
LSM/Figur
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau