Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ratna Puspita
Dosen

Dosen pada Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Pembangunan Jaya (UPJ)

Rafflesia, Tesso Nilo, dan Dua Wajah Hutan Indonesia di Media Sosial

Kompas.com, 26 November 2025, 09:24 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SEPTIAN Andriki, atau akrab dipanggil Deki, menangis ketika menemukan jenis Rafflesia yang belum pernah ia lihat sebelumnya, yakni Rafflesia hasseltii, di tengah Hutan Sumpur Kudus, Sijunjung, Sumatera Barat, pada pertengahan November lalu.

Rafflesia hasseltii dikenal sebagai salah satu spesies Rafflesia dengan ukuran besar dan pola kelopak yang khas.

Tangisan itu adalah luapan rasa syukur yang ia simpan selama 13 tahun, waktu yang ia habiskan untuk mencari spesies langka yang hanya tumbuh pada inang tertentu (genus Tetrastigma) di hutan tropis Indonesia.

“Allahuakbar, ya Allah,” ucapnya dalam video yang dibagikan ahli tanaman langka dari Universitas Oxford, Chris Thorogood, di media sosial.

Momen langka ini dirayakan para peneliti dan masyarakat sebagai penanda bahwa keajaiban alam Indonesia belum benar-benar hilang.

Baca juga: Rafflesia hasseltii dan Warisan Rasis Kolonial

Selama ini, publik kerap tak membedakan Rafflesia dan bunga bangkai (Titan arum), atau mengira Rafflesia arnoldii adalah satu-satunya spesies Rafflesia di Indonesia.

Namun, euforia penemuan itu tidak berlangsung lama. Beberapa hari setelah video Deki tersebar luas, publik dikejutkan oleh peristiwa lain, yakni demonstrasi masyarakat yang terdampak upaya pemulihan salah satu habitat gajah Sumatra yang paling kritis: Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).

Pemerintah merelokasi warga yang tinggal di dalam kawasan TNTN, sehingga memicu perdebatan sengit mengenai batas kawasan, keadilan sosial, dan hak atas tanah.

Jagat maya kemudian ramai oleh dukungan publik melalui tagar #SaveTessoNilo, sebuah seruan untuk melindungi hutan yang tersisa.

Peristiwa keajaiban bunga langka yang mekar dan konflik pemulihan TNTN menunjukkan dua sisi wajah hutan Indonesia hari ini, yakni keindahan yang terus bertahan, dan krisis ekologis yang semakin nyata.

Krisis hutan di Indonesia, termasuk yang mencuat dari kasus TNTN, tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan hasil akumulasi keputusan politik, ekonomi, dan sosial yang mengendap selama puluhan tahun.

Kerusakan habitat tempat Rafflesia hidup maupun kawasan jelajah gajah Sumatera mencerminkan pola sama, yakni tekanan manusia dan tata kelola lingkungan yang terlalu berpusat pada manusia, bukan pada keseimbangan ekosistem.

Warga membongkar plang dan meminta anggota Satgas PKH meninggal Taman Nasional Tesso Nilo, di Kabupaten Pelalawan, Riau, Senin (24/11/2025).Tangkapan layar video Warga membongkar plang dan meminta anggota Satgas PKH meninggal Taman Nasional Tesso Nilo, di Kabupaten Pelalawan, Riau, Senin (24/11/2025).
Pertama, alih fungsi hutan menjadi akar permasalahan paling menonjol. Ribuan hektar kebun sawit ilegal di TNTN tidak muncul karena tindakan individu semata.

Ia tumbuh dari lemahnya penegakan hukum dan pembiaran yang berlangsung begitu lama, sehingga ruang hidup gajah serta flora unik seperti Rafflesia menyempit secara drastis.

Kedua, ketidakjelasan tata batas dan hak atas tanah ikut memperparah keadaan. Banyak warga yang kini tinggal di dalam TNTN bukan karena niat merusak, tetapi akibat minimnya kepastian hukum dan sosialisasi di masa lalu.

Baca juga: Siasat Licik Oligarki Merampok Tanah (Bagian I)

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Swasta
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Swasta
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
LSM/Figur
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Pemerintah
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Pemerintah
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Pemerintah
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Pemerintah
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Pemerintah
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau