KOMPAS.com - Data baru yang dirilis oleh UNICEF menemukan sekitar 610 juta anak di seluruh dunia secara konstan terpapar pada kekerasan domestik, karena mereka tinggal bersama ibu yang menjadi korban kekerasan pasangan intim.
Hal ini menempatkan anak-anak tersebut pada risiko tinggi mengalami trauma dan masalah kesehatan mental.
Paparan anak-anak terhadap kekerasan pasangan intim tertinggi terjadi di Oseania, Afrika sub-Sahara, serta Asia Tengah dan Selatan, yang mencerminkan ketimpangan regional yang mendalam dan pola kekerasan yang meluas yang dialami perempuan di seluruh dunia.
“Saat ini, jutaan perempuan dan anak-anak tinggal di rumah-rumah di mana kekerasan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell.
Baca juga: Intervensi Pangan Berkelanjutan Perlu Libatkan Anak dan Remaja
“Keamanan dan otonomi perempuan sendiri sangat penting bagi kesejahteraan anak-anak,” katanya lagi seperti dikutip dari laman resmi United Nations, Selasa (25/11/2025).
Perkiraan angka dalam data yang dirilis ini menunjukkan bahwa satu atau lebih dari 10 remaja putri dan perempuan berusia 15 tahun ke atas telah mengalami kekerasan fisik atau seksual dari pasangan intimnya dalam 12 bulan terakhir.
Kekerasan terhadap perempuan, khususnya kekerasan pasangan intim dan kekerasan seksual merupakan masalah kesehatan publik dan klinik yang besar serta pelanggaran hak asasi perempuan.
Lebih lanjut, di Oseania, lebih dari separuh anak atau sekitar tiga juta tinggal bersama ibu yang baru-baru ini mengalami kekerasan pasangan intim.
Afrika Sub-Sahara menyusul dengan 32 persen, yang memengaruhi 187 juta anak.
Asia Tengah dan Selatan, meskipun sedikit lebih rendah, yaitu 29 persen, merupakan jumlah terbesar secara global, dengan 201 juta anak terdampak.
UNICEF pun memperingatkan anak-anak yang tinggal di rumah di mana ibu mereka mengalami kekerasan berisiko lebih tinggi mengalami bahaya langsung maupun tidak langsung.
Meskipun mereka sendiri tidak mengalami kekerasan fisik, menyaksikan kekerasan dapat mengikis kepercayaan antara anak dan pengasuh, meninggalkan luka emosional yang mendalam, dan menyebabkan trauma yang seringkali terbawa hingga dewasa.
Baca juga: UN Women Peringatkan, Kekerasan Digital Berbasis AI Ancam Perempuan
Paparan kekerasan pasangan juga meningkatkan kemungkinan anak-anak mengalami atau meneruskan kekerasan di kemudian hari, dengan konsekuensi jangka panjang bagi keselamatan, perkembangan, kesehatan, dan pendidikan mereka.
UNICEF mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan yang lebih tegas, menyerukan strategi terpadu yang menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, didukung oleh dukungan bagi organisasi-organisasi yang dipimpin oleh perempuan dan anak perempuan.
Badan ini juga menekankan perlunya akses yang lebih luas terhadap layanan yang berpusat pada penyintas, investasi yang lebih besar dalam pencegahan.
Termasuk program pengasuhan anak dan berbasis sekolah dan upaya untuk menantang norma-norma sosial yang merugikan sekaligus mengangkat suara para penyintas dan kaum muda.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya