KOMPAS.com - Para ahli menemukan bahwa semakin banyak ruang terbuka hijau di sekitar , semakin rendah kemungkinan dirawat di rumah sakit karena kondisi kesehatan mental. Manfaat ini terus bertambah seiring meningkatnya tingkat ruang hijau.
Tim peneliti juga mengungkap pola musiman yang jelas mengenai bagaimana orang menggunakan dan mendapatkan manfaat dari ruang hijau berubah seiring dengan panas, hujan, cahaya matahari, dan kualitas udara.
Temuan tersebut didapat setelah peneliti melakukan sebuah studi besar yang merangkum 11,4 juta pasien rawat inap di rumah sakit jiwa dari 6.842 lokasi di tujuh negara selama dua dekade.
Dalam studinya, tim menggunakan pengukuran satelit yang disebut Indeks Vegetasi Perbedaan Ternormalisasi (NDVI), sebuah metrik umum yang memberi tahu berapa banyak materi tanaman fotosintesis di suatu area.
Baca juga: Kota Butuh Ruang Terbuka Hijau, Ini 3 Alasannya
Para ahli kemudian menghubungkan nilai-nilai NDVI tersebut dengan angka rawat inap untuk semua gangguan mental gabungan dan enam kategori spesifik yakni gangguan psikotik, gangguan penggunaan zat, gangguan suasana hati, gangguan perilaku, demensia, dan kecemasan.
Para ilmuwan juga memperhitungkan sejumlah faktor pengganggu, seperti kepadatan penduduk, cuaca, polusi udara, indikator sosial ekonomi, dan musim.
Tim tersebut mengelompokkan data ini berdasarkan usia, jenis kelamin, urbanisasi, dan musim.
Hasilnya, melansir Earth, Kamis (6/11/2025) makin banyak ruang hijau dikaitkan dengan penurunan sebesar 7 persen rawat inap untuk semua gangguan mental.
Manfaat ini bahkan lebih banyak untuk beberapa diagnosis seperti gangguan penggunaan zat dan gangguan psikotik.
Peneliti juga memperkirakan di wilayah perkotaan saja, paparan lebih besar terhadap ruang hijau berpotensi mencegah sekitar 7712 rawat inap pasien psikiatri setiap tahun.
Angka-angka itu bukan angka yang sepele jika kita mengingat skala masalahnya.
Baca juga: Anak Muda Butuh Ruang Hijau, Mampukah Kota Masa Depan Menjawabnya?
Sebanyak 1,1 miliar orang di seluruh dunia hidup dengan gangguan mental pada tahun 2021, yang mencakup sekitar 14 persen dari beban penyakit global.
Lebih lanjut, meski studi sifatnya observasional, penelitian ini memperkuat argumen bahwa penghijauan bisa menjadi intervensi kesehatan mental.
Penelitian di masa depan perlu bergerak melampaui temuan umum bahwa ruang hijau itu bermanfaat.
Penelitian selanjutnya harus lebih spesifik misalnya, mengidentifikasi jenis ruang hijau mana yang paling efektif, dan yang paling penting, bagaimana faktor-faktor praktis seperti kualitas, keamanan, dan kemudahan akses menentukan apakah manfaat kesehatan mental dari ruang hijau benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya