Laporan ini juga menyebut harapan terbesar untuk mengatasi krisis plastik ini adalah melalui perjanjian plastik global yang mengikat secara hukum yang bertujuan untuk mengakhiri polusi.
Sayangnya, lagi-lagi negosiasi selama bertahun-tahun gagal menghasilkan kesepakatan apa pun, karena negara-negara masih terpecah belah, terutama mengenai apakah akan memberlakukan batasan produksi plastik.
Para penulis laporan berpendapat bahwa menemukan solusi semakin mendesak, karena situasi akan semakin memburuk.
Produksi tahunan global plastik sendiri meningkat 200 kali lipat antara tahun 1950 dan 2023, dan diprediksi akan terus meningkat seiring dunia bergerak menuju energi bersih dan perusahaan-perusahaan minyak mengalihkan investasi ke plastik.
“Kita perlu bertindak sekarang, karena plastik yang dibuang saat ini mengancam gangguan ekosistem berskala global di masa depan,” kata Stephanie Wright, penulis studi dan profesor madya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Imperial College London.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya