Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Desi Sommaliagustina
Dosen

Dosen, Penulis dan Peneliti Universitas Dharma Andalas, Padang

Ketika Alam Dirusak, Jangan Salahkan Alam

Kompas.com, 2 Desember 2025, 19:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

BENCANA ekologis yang beruntun di berbagai daerah Indonesia seolah menjadi alarm yang tak kunjung dihiraukan. Setiap kali banjir besar menerjang, tanah longsor merenggut nyawa, atau sungai meluap membenamkan kampung-kampung, kita cenderung memandangnya sebagai “musibah alam”.

Kata “alam” dijadikan kambing hitam yang paling mudah dituduh. Seakan-akan hujan adalah biang keladi, sungai adalah perusak, dan gunung adalah ancaman. Padahal, jauh sebelum manusia menebang hutan, merusak DAS, menimbun rawa, atau mengalihkan fungsi lahan tanpa kendali, alam telah bekerja dengan keseimbangan yang sempurna.

Di titik inilah ironi kita. Kita merusak alam, lalu menyalahkan alam. Tengoklah data terkini , bencana banjir dan longsor di Pulau Sumatra belum usai. Menurut laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban jiwa terus bertambah: di wilayah provinsi seperti Sumatera Utara korban meninggal mencapai 217 orang, sementara ratusan lainnya hilang. Di provinsi Aceh dan Sumatera Barat juga tercatat jatuh korban jiwa, serta ribuan rumah rusak dan ribuan warga mengungsi.

Baca juga: Bencana Alam: Alarm Apokalipse Ekologis untuk Masa Depan Kehidupan

Hari ini pula, pemerintah dan parlemen menyerukan pembenahan serius tata kelola hutan dan lahan. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mendesak agar krisis ekologis di Sumatra tidak lagi dilihat sekadar sebagai akibat cuaca ekstrem, tetapi sebagai buah dari alih fungsi hutan dan lahan yang tak terkendali.

Dengan situasi seperti ini, klaim bahwa “ini musibah alam” terdengar semakin rapuh, karena bencana hari ini bukan sekadar hujan deras, melainkan akumulasi dari kerusakan lingkungan selama bertahun-tahun.

Kunci persoalan berada pada perencanaan tata ruang yang setiap kali dikalahkan oleh kepentingan jangka pendek. Undang-undang tentang penataan ruang dan perlindungan lingkungan telah memberi panduan, ada kawasan lindung, fungsi ekologis, dan koridor hijau yang seharusnya dilindungi.

Namun praktiknya? Regulasi sering dilewati melalui istilah “penyesuaian rencana”, “revisi RTRW”, atau “proyek strategis nasional” yang menabrak logika ekologis. Dalam banyak kasus, proyek pembangunan diberikan izin tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Luas hutan yang terus menyusut di Sumatra bukan muncul dari ruang kosong; ia tumbuh dari kompromi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan legislatif yang memandang izin sebagai komoditas politik dan ekonomi.

Ketika banjir datang, kita menyalahkan curah hujan tinggi. Ketika tanah longsor memakan korban, kita menyalahkan kontur tanah. Tetapi kita lupa bahwa yang melonggarkan akar pohon bukan hujan, melainkan gergaji mesin.

Baca juga: Alam Takambang Jadi Guru

Korban bencana hari ini, ratusan nyawa, ribuan rumah luluh-lantak, puluhan ribu warga mengungsi, bukan di antara elit politik atau pemilik modal. Mereka adalah masyarakat kecil di pelosok desa, di pinggir sungai, di lereng bukit. Orang-orang yang selama ini tinggal dalam rentang hidup sederhana, tanpa akses ke kekuasaan apapun.

Ironisnya, mereka pula yang sering dituding “menempati daerah terlarang”, padahal yang memberi izin, membiarkan, atau tidak menyediakan hunian layak adalah pemerintah dan pemilik izin. Ke mana keadilan ekologis ketika orang kecil terus menjadi korban, sementara akarnya adalah eksploitasi, bukan alam semata.

Jika negara ingin keluar dari siklus bencana ekologis, terlebih di tengah tragedi terkini. Langkah pertama adalah kejujuran. Pemerintah harus jujur bahwa banyak bencana adalah hasil tata ruang yang buruk, pengawasan yang lemah, dan izin yang tidak akuntabel. Dunia akademik harus jujur mengemukakan data, bukan sekadar menjadi legitimasi bagi proyek besar. Media harus jujur bahwa bencana bukan selalu musibah alam, tetapi konsekuensi dari eksploitasi.

Masyarakat perlu menyadari bahwa alam memiliki cara sendiri untuk menagih utang. Ketika hutan hilang, air akan mencari jalannya. Ketika rawa ditimbun, air akan muncul di permukaan baru. Ketika sungai diluruskan atau dipersempit, ia akan mengamuk pada waktunya. Alam hanya merespons apa yang kita lakukan. Ia bukan musuh, bukan pengkhianat, bukan penyebab. Ia hanya bereaksi.

Baca juga: Pakar UGM: Banjir Bandang Sumatera akibat Kerusakan Ekosistem Hutan di Hulu DAS

Dalam kerangka hukum, negara memegang mandat sebagai penjaga lingkungan melalui UUD dan undang-undang lingkungan hidup. Namun mandat ini sering dikhianati. Keadilan ekologis menuntut agar kerugian lingkungan dipulihkan, pelaku dihukum, dan masyarakat dipulangkan pada hak mereka atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat.

Penegakan hukum lingkungan tidak boleh berhenti pada pekerja lapangan atau masyarakat kecil. Penanggung jawab kerusakan lingkungan harus diburu hingga ke akar: pemilik konsesi, pemberi izin, dan pejabat yang lalai menjalankan pengawasan. Tanpa itu, bencana akan terus mewarisi dirinya, dan korban akan terus berjatuhan.

Bencana seperti banjir dan longsor yang sedang menimpa Sumatra hari ini bukan reaksi alam yang tiba-tiba marah. Bencana adalah akumulasi dari rakusnya manusia dan lemahnya negara. Ketika alam dirusak, jangan salahkan alam salahkan mereka yang merusaknya.

Jika kita benar-benar ingin hidup berdampingan dengan alam, mulailah dengan memulihkan yang telah dihancurkan. Hentikan perambahan, evaluasi izin tambang dan perkebunan, perkuat pengawasan, dan tegakkan hukum tanpa pandang bulu. Karena pada akhirnya, alam tidak membutuhkan manusia untuk bertahan hidup; manusialah yang membutuhkan alam. Dan manusia harus mulai bertanggung jawab, sekarang.

Baca juga: Raja Charles Ikut Berduka atas Banjir Sumatera, Ingatkan Harmonisasi Alam

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Swasta
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau