Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Fajar Setyaning Dwi Putra
Dosen

Akademisi dan Peneliti

Bencana Sumatera: Refleksi Kolektif untuk Taubat Ekologis

Kompas.com, 2 Desember 2025, 13:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

GELOMBANG banjir besar yang kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatera bukan sekadar peristiwa alam yang datang tanpa sebab. Ia adalah cermin dari krisis ekologis yang terus menganga akibat pilihan pembangunan yang rapuh, yang selama puluhan tahun mengabaikan keseimbangan lingkungan demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Setiap rumah yang hanyut, setiap hektare lahan yang tertimbun lumpur, dan setiap warga yang harus mengungsi adalah pengingat bahwa kerusakan lingkungan selalu kembali kepada manusia sebagai konsekuensi yang tidak mungkin ditunda.

Pada titik inilah gagasan tentang taubat ekologis menjadi sangat relevan, bukan hanya sebagai istilah moral, tetapi sebagai agenda kebijakan publik yang mendesak. Taubat ekologis dapat dipahami sebagai kesadaran kolektif untuk kembali pada etika keberlanjutan, mengoreksi perilaku eksploitatif terhadap alam, dan menata ulang relasi manusia dengan ekosistem.

Dalam perspektif ini, taubat bukan sekadar penyesalan, tetapi transformasi cara hidup, cara memproduksi, serta cara merumuskan kebijakan. Taubat ekologis menuntut perubahan struktural, bukan hanya imbauan moral yang menguap sebagai retorika.

Sumatera adalah gambaran paling gamblang dari kontradiksi antara ambisi pembangunan dan kapasitas ekologis wilayah. Deforestasi berkepanjangan, konsesi perkebunan skala besar, penambangan mineral, konversi lahan gambut, serta tata ruang yang tidak disiplin telah mendorong bentang alam Sumatera kehilangan kemampuan alaminya untuk menyerap air.

Sungai yang dulu tenang kini berubah menjadi alur deras yang mudah meluap. Daerah dataran rendah yang dulunya aman kini berubah rentan karena ekosistem penyangga sudah hilang. Dalam situasi seperti ini, hujan intensitas tinggi yang seharusnya dapat ditanggulangi oleh alam, menjadi bencana besar yang tidak dapat dibendung.

Penyebab utama dari kerentanan ini terletak pada cara negara dan korporasi memandang alam. Alam diperlakukan semata sebagai objek ekonomi, bukan sebagai sistem kehidupan yang memiliki batas. Logika eksploitasi menjadi dominan, sementara daya dukung lingkungan diabaikan.

Akibatnya terjadi ketidakseimbangan antara lahan resapan dan lahan terbangun, antara kebutuhan ekologis dan kepentingan industri, antara keselamatan warga dan keuntungan jangka pendek. Ketika ketidakseimbangan ini mencapai titik kritis, banjir bukan lagi peristiwa kebetulan, melainkan konsekuensi yang pasti.

Baca juga: Banjir Sumatera: Dampak Nyata Pembangunan yang Buta Ekologi

Dalam konteks inilah, taubat ekologis perlu dimaknai sebagai perubahan paradigma pembangunan.

Pertama, negara harus meninggalkan orientasi pembangunan yang berpusat pada ekstraksi sumber daya tanpa pengawasan ketat. Kebijakan tata ruang harus dipulihkan sebagai instrumen strategis, bukan formalitas administratif yang mudah diabaikan. Tidak boleh lagi ada pembukaan lahan di kawasan yang menjadi penyangga ekologis, terutama hutan hujan tropis, daerah aliran sungai, dan lahan gambut.

Semua izin yang bertentangan dengan prinsip keselamatan ekologis harus dievaluasi secara transparan dengan melibatkan masyarakat sipil dan akademisi.

Kedua, penting untuk membangun sistem peringatan dini dan infrastruktur mitigasi yang tangguh. Namun, infrastruktur fisik tidak akan pernah cukup tanpa restorasi ekosistem. Penguatan tanggul, normalisasi sungai, atau pembangunan polder hanya bersifat reaktif.

Solusi jangka panjang harus mengembalikan hutan sebagai spons air alami, menghidupkan kembali rawa gambut, serta memperluas kawasan konservasi yang berfungsi menyerap dan menahan air. Restorasi ekologis bukan sekadar proyek lingkungan, tetapi strategi perlindungan warga dari bencana.

Ketiga, taubat ekologis harus menjadi gerakan budaya. Cara masyarakat memandang alam harus berubah. Konsumsi yang berlebihan, ketergantungan pada komoditas yang mendorong deforestasi, dan sikap permisif terhadap perusakan lingkungan harus dikaji ulang.

Pendidikan lingkungan di sekolah, kampanye berbasis komunitas, dan praktik keberlanjutan di tingkat keluarga dapat memperkuat fondasi etis baru bahwa menjaga alam bukan sekadar tanggung jawab negara, tetapi kewajiban moral bersama.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
Pemerintah
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Pemerintah
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Pemerintah
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
LSM/Figur
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
BUMN
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
Swasta
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
Swasta
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pemerintah
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Pemerintah
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
Pemerintah
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Pemerintah
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Pemerintah
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
Pemerintah
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pemerintah
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau