Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

UNDP: Kesenjangan Pembangunan Antarnegara Bisa Melebar akibat AI

Kompas.com, 2 Desember 2025, 14:26 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations Development Programme (UNDP) memperingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) berpotensi memicu era baru divergensi atau pelebaran kesenjangan pembangunan antarnegara.

Risiko tersebut muncul karena kemampuan negara-negara dalam memanfaatkan AI saat ini sangat timpang.

Temuan itu disampaikan dalam laporan “The Next Great Divergence: Why AI May Widen Inequality Between Countries”, yang dirilis pada 2 Desember 2025 waktu New York.

Baca juga: UE Prioritaskan Penggunaan AI Lokal di Sektor Strategis

Laporan ini menyebutkan bahwa tanpa kebijakan yang kuat dan inklusif, teknologi AI dapat memperburuk ketimpangan ekonomi, kapabilitas penduduk, dan sistem tata kelola.

Menurut UNDP, kawasan Asia-Pasifik menjadi pusat transisi AI global karena dihuni lebih dari 55 persen populasi dunia dan mencatat pertumbuhan cepat dalam penggunaan serta inovasi AI.

China, misalnya, menyumbang hampir 70 persen paten AI global dan terdapat lebih dari 3.100 perusahaan rintisan AI baru di enam ekonomi kawasan.

UNDP memperkirakan AI dapat meningkatkan pertumbuhan PDB tahunan Asia-Pasifik hingga 2 persen dan menaikkan produktivitas sektor seperti kesehatan dan keuangan hingga 5 persen.

ASEAN sendiri diproyeksikan berpeluang menambah nilai ekonomi hampir 1 triliun dollar AS dalam satu dekade mendatang.

Meski demikian, UNDP menekankan bahwa jutaan pekerjaan, terutama yang dipegang perempuan dan anak muda, berisiko terdisrupsi tanpa tata kelola AI yang etis dan inklusif.

“AI melaju sangat cepat sementara banyak negara masih berada di garis start,” kata Kanni Wignaraja, UN Assistant Secretary-General dan Direktur Regional UNDP Asia-Pasifik dalam keterangan resmi Senin (1/12/2025).

Infrastruktur Perlu Diperkuat

Laporan itu mengingatkan bahwa keberhasilan banyak negara berpenghasilan rendah berpotensi tergerus, jika akses terhadap infrastruktur digital, keterampilan, dan daya komputasi tidak segera diperkuat.

UNDP juga menyoroti risiko lain dari ekosistem AI, seperti meningkatnya kebutuhan energi dan air untuk mengoperasikan sistem berbasis komputasi tinggi.

“Perkembangan AI harus berjalan seiring dengan penggunaan sumber daya alam yang bertanggung jawab,” ujar Sara Ferrer Olivella, UNDP Indonesia Resident Representative.

Baca juga: Studi KPMG: Sistem AI Mampu Pangkas Energi Bangunan Hingga 30 Persen

Ia menekankan pentingnya negara, termasuk Indonesia, mengintegrasikan perencanaan air, energi, dan pangan dalam pengembangan AI.

Laporan tersebut memberikan perhatian khusus pada kelompok rentan. Pekerjaan yang digeluti perempuan disebut hampir dua kali lebih rentan terhadap otomatisasi, sementara anak muda usia 22–25 tahun mulai mengalami penurunan kesempatan kerja di sektor yang sangat terekspos AI.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau