KOMPAS.com - Panas ekstrem menjadi pendorong utama bahaya terkait iklim yang berkembang paling pesat di Asia Pasifik, menurut laporan Asia-Pacific Disaster Report 2025: Rising Heat, Rising Risk oleh United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP).
Diterbitkan pada Rabu (3/12/2025), laporan ini menunjukkan bahwa kenaikan suhu berdampak pada siapa saja dan di mana saja.
Baca juga:
Hal ini ditambah risiko yang meluas dan meningkat terhadap sistem pangan, kesehatan masyarakat, kehidupan perkotaan, mata pencaharian pedesaan, infrastruktur, dan ekosistem.
"Panas tidak mengenal batas wilayah. Oleh karena itu, respons kebijakan harus mengantisipasi dampak, mengurangi paparan dan kerentanan dalam skala besar, serta melindungi mereka yang paling berisiko," kata Wakil Sekretaris Jenderal PBB dan Sekretaris Eksekutif ESCAP, Armida Salsiah Alisjahbana lewat keterangan resmi, dilansir Rabu (3/12/2025).
"Dengan urgensi, kejelasan, dan kerja sama, kehidupan dan penghidupan di seluruh kawasan dapat dilindungi," tambah dia.
Baca juga:
Panas ekstrem disebut menjadi ancaman iklim paling cepat meningkat di Asia Pasifik. Kota besar seperti Jakarta dan Manila diproyeksikan makin panas.Tahun 2024 merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat secara global. Negara-negara Asia Pasifik mengalami episode panas yang parah.
Hal tersebut termasuk gelombang panas di Bangladesh yang berdampak terhadap sekitar 33 juta orang, serta gelombang panas lainnya di India yang menelan 700 jiwa.
Sementara itu, proyeksi baru dalam laporan tahun 2025 ini menyoroti kembali skala ancaman tersebut.
Menurut ESCAP, pada tahun 2100, kerugian bencana regional dapat meningkat dari 418 miliar dollar Amerika Serikat (AS) berdasarkan skenario saat ini, menjadi 498 miliar dollar AS berdasarkan skenario iklim terburuk.
Baca juga:
Panas ekstrem akan menjadi ancaman kesehatan kronis di seluruh wilayah Asia Pasifik, terutama di wilayah berpopulasi tinggi seperti Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Kota-kota yang padat bangunan, seperti Seoul, Tokyo, Beijing, Delhi, Karachi, Dhaka, Manila, Jakarta, dan Phnom Penh diproyeksikan akan menjadi jauh lebih panas.
Efek pulau panas perkotaan (urban heat island effect) memperburuk situasi tersebut dengan menambah dua hingga tujuh derajat selsius di atas pemanasan global.
Sementara itu, komunitas rentan, termasuk anak-anak, lansia (lanjut usia), dan pekerja luar ruangan berupah rendah di area padat penduduk, menghadapi risiko terbesar.
Panas ekstrem disebut menjadi ancaman iklim paling cepat meningkat di Asia Pasifik. Kota besar seperti Jakarta dan Manila diproyeksikan makin panas.Terkait ancaman tersebut, laporan ini menyerukan tindakan strategis jangka panjang yang didasarkan pada sains, inovasi, dan kerja sama regional.
Selain itu, suhu ekstrem juga perlu ditekankan sebagai pusat perencanaan multi-bahaya, didukung oleh sistem peringatan dini siap-panas yang menggunakan peringatan yang dapat dioperasikan, metrik yang disepakati, dan komunikasi jarak dekat yang terpercaya.
Dengan hanya 54 persen layanan meteorologi global yang mengeluarkan peringatan untuk suhu ekstrem, memperluas sistem peringatan kesehatan akibat panas di 57 negara saja dapat menyelamatkan sekitar 100.000 jiwa setiap tahun, menurut laporan tersebut.
Lebih lanjut, untuk membantu negara-negara mengatasi panas ekstrem, ESCAP merencanakan tiga inisiatif regional baru.
Inisiatif tersbeut mencakup meningkatkan skema perlindungan sosial yang tangguh iklim dan inklusif, membangun koridor pendinginan hijau lintas batas, serta menggunakan solusi inovatif berbasis antariksa untuk memperkuat kesiapsiagaan terhadap panas dan sistem peringatan dini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya