Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anak-anak Korban Bencana di Sumatera Dapat Trauma Healing

Kompas.com, 10 Desember 2025, 18:35 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) telah mengerahkan tim pendamping keluarga untuk memberikan pemulihan emosional atau trauma healing kepada anak-anak korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumater Barat.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji mengatakan, anak-anak juga mendapatkan pendampingan dari psikolog.

Baca juga: 

"Setelah kebutuhan primernya itu terpenuhi sekarang butuh namanya trauma healing itu yang sudah kami kerjakan. Insyaallah teman-teman sudah terbiasa dan punya kemampuan itu dan mengajak psikolog, maupun Generasi Berencana yang melakukan trauma healing di beberapa titik," kata Wihaji dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2025).

Wihaji memastikan, setelah banjir bandang melanda tiga provinsi tersebut, para pendamping keluarga memberikan trauma healing secara hati-hati kepada para korban.

"Jadi kami mengundang psikolog, tapi kami juga punya punya sendiri teman-teman yang memang selama ini bekerja di lapangan untuk trauma healing. Jadi biasa untuk memberikan pelayanan psikologis untuk memberikan semangat buat teman-teman yang kena bencana," tutur Wihaji.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, menjelaskan soal stunting, di Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2025). KOMPAS.com/ZINTAN Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, menjelaskan soal stunting, di Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2025).

Sebagaimana diketahui, banjir bandang melanda tiga provinsi di Sumatera dari Selasa (25/11/2025) sampai Kamis (27/11/2025) lalu.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) mencatat total korban meninggal akibat banjir mencapai 969 jiwa, hilang 252 jiwa, dan luka-luka 5.000 jiwa per hari ini.

Sejauh ini, penyelidikan tengah digelar atas dugaan keterkaitan aktivitas pembukaan lahan dan kepatuhan lingkungan perusahaan di kawasan terdampak.

Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri mengambil 27 sampel kayu gelondongan yang berada di sekitar Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. 

Baca juga:

Dirtipidter Bareskrim Polri, Mohammad Irhamni menegaskan, sampel kayu gelondongan yang terbawa arus diambil untuk mendalami asal-usulnya.

"Posko sudah didirikan tiga kilometer dari TKP (Tempat Kejadian Perkara) DAS (Daerah Aliran Sungai) Garoga. Di sekitar TKP ini, 27 sampel kayu telah diambil, police line (garis polisi) terpasang," ucap Irhamni dalam keterangan persnya, Senin (8/12/2025).

Selain itu, Kepala Desa Garoga dan sejumlah saksi sudah diperiksa guna mendalami soal kayu gelondongan yang terbawa arus di kawasan tersebut.

Irhamni mengatakan, Polri juga menggandeng ahli untuk mendalami soal jenis dan spesifikasi kayu-kayu gelondongan yang disita tersebut.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Pemerintah
Emisi Listrik China dan India Turun, Pertama Kalinya dalam 52 Tahun
Emisi Listrik China dan India Turun, Pertama Kalinya dalam 52 Tahun
Pemerintah
UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan
UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan
Swasta
UNDRR: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Nipah di Asia
UNDRR: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Nipah di Asia
LSM/Figur
Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
LSM/Figur
AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian iklim Paris
AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian iklim Paris
Pemerintah
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
LSM/Figur
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
LSM/Figur
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
LSM/Figur
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Pemerintah
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
LSM/Figur
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemerintah
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Pemerintah
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
LSM/Figur
Pembangunan PLTU di RI Naik, Risiko Ekonomi dan Emisi Kian Besar
Pembangunan PLTU di RI Naik, Risiko Ekonomi dan Emisi Kian Besar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau